Mazhab Kritis Dalam The Platform

0
26

Oleh : Zulfikarnain (Komisioner Bawaslu Makassar)

PWNUSULSEL.OR.ID – The Platform (2019) adalah film berbasis di Spanyol dan menyabet banyak penghargaan di eropa. Lantaran alur dan kisahnya ‘yang lain’.

Film ini sebenarnya berbentuk imaji, dengan genre drama thiller. Uniknya, pemeran utama bernama Goreng, adalah pria yang memilih masuk penjara secara sukarela, alasannya karena ingin berhenti merokok.

Anehnya, penjaranya berbentuk vertikal, dari kamar 0 hingga 333. Goreng mulai gelisah setelah mengetahui bahwa makanan diperoleh setelah bergerak dan berhenti di tiap room. Dan hanya turun 1 kali.

Sehingga penghuni kamar yang di bawah, harus menunggu makanan disantap oleh 2 penghuni masing-masing kamar atas. Beruntunglah, penghuni kamar yang berdigit rendah. Mampuslah penghuni kamar berdigit jumbo.

Awalnya, Goreng menghuni Kamar 48, meskipun makanan yang ia santap sisa dari 47 penghuni kamar atas. Ia bersama teman kamarnya bahagia dan bercan bersama. Tapi, ternyata para penhuni akan di roling tiap sebulan. Dan akan ada perpindahan kamar, semau dari pengelola.

Nahas, tatkala Goreng terbangun dan sudah berada pada kamar 131. Tak ada lagi makanan yang sampai di kamar, yang ada hanya piring kosong akibat kebuasan penghuni atas.

Kondisi kamar berdigit hingga ratusan, menggambarkan realita masyarakat marjinal yang saling memangsa antar marjinal. Bukannya merancang perlawanan kaum atas, yang terjadi malah saling memangsa karena persoalan perut.

Sempat ada diskusi antara Goreng dengan teman kamar barunya di kamar 30, teman kamarnya itu adalah mantan pengelola yang dilempar ke penjara karena mengidap kanker stadium 3. Ia menerangkan bahwa sejatinya makanan itu akan cukup, jika seluruh penghuni memakan sesuai kebutuhan dan mau berbagi dengan penghuni bawahnya.

Namun faktanya, yang di atas melahap dengan buas, yang bawah mati meranan dan saling membunuh antar penghuni, bahkan saling memakan.

Teman kamarnya itu mengkonsep solidaritas penghuni (sosial), ia tanpa sungkan, mungkin karena beban moral, mengajak para penghuni agar mau berbagi makanan. Goreng lantas meceramahi teman kamarnya yang terlalu ideal melihat penghuni, mana mungkin seekor srigala, yang terbiasa saling memangsa lantas berubah wujud menjadi kambing. Mustahil.

PW NU SULSEL

Film ini sadis, karena menampilkan secara vulgar adegan saling memakan manusia. Mungkin maksud sang sutradara ingin mengatakan bahwa kehidupan masyarakat marjinal, bukan hanya tak enak dipandang, tetapi memang sadis.

Goreng yang lugu dan kutu buku, akhirnya pelan-pelan berubah, ikut menjadi sadis pula karena situasi. Dan pada satu waktu, titik nadirnya telah sampai pada nalar terdalam. Hingga sistem penjara yang sudah mapan coba ia dobrak.

Ia melakukan langkah subversif, keluar dari nalar umum (common sense), dan mengatur perlawanan kepada sistem.

Realitas penghuni penjara dalam film The Platform, menggambarkan realitas masyarakat jaman now. Di mana kesadaran kaum marjinal, tertahan, lalu terhegemoni oleh kuasa kaum atas. Kesadarannya berhenti pada sesuatu yang imaji, hingga tak pernah sampai pada titik nadir, seperti sistematika berpikir Karl Marx tentang revolusi.

Hingga mereka, para marjinal menjadi cecunguk culas, cenderung saling memangsa, yang hanya bermimpi suatu saat bisa mencicipi nikmatnya menjadi kaum atas.

Grasmci pernah berpesan bahwa perubahan tidak bisa dilakukan oleh kelas bawah, mereka mesti didorong, disentuh kesadarannya sebagai upaya counter hegemoni. Meski itu terdengar sangat heroik. Yang begitu lah grasmci, sang intelektual organik.

Goreng, pada satu adegan mengambil langkah itu. Yang awalnya diam, menikmati suasana penjara, menjadi sadis, lalu tetiba intelektual organiknya tiba.

Ia lalu menjadi heroik, ia berani melakukan bunuh diri kelas. Yang awalnya duduk senggama sebagai midle clas, lalu turun berirama bersama kaum bawah. Ia berangan memprakarsai sebuah perubahan melawan pengelola penjara.

Dalam Mazhab kritis, di Frankfurt sana. Adorno dan Hokhaimer pernah menuliskan bahwa tidak cukup menjadi intelektual organik saja. Tetapi perlu ada dasain secara kritis dan radikal, terhadap situasi sanubari sosial. Ia berhenti mengkritik realitas sosial di permukaan, tetapi menyelam lebih dalam sampai tingkat psikologi sosial dalam kontradiksi sosial, antara penguasa dan yang tertindas dikuasai oleh rasio teknologi.

Ia bahkan mengkritik perangkat epistemologi yang mapan digunakan kaum sarjana di kampus modern. Bahwa positivistik, tidak layak dijadikan sandaran pengetahuan jika ingin melihat keadilan sosial tercipta.

Kaum intelektual tak boleh memandang masyarakat sebagai objek semata, yang hanya sekedar dituliskan rupanya, lalu dipresentasikan di hotel berbintang. Kaum intelek harus turun membaur, memotong sekat, lalu mengambil garis keberpihakan. Ia harus tampil terdepan dalam menggalang perubahan sosial, mendampingi kaum bawah.

Begitulah Goreng, ia bersama teman sekamarnya di lantai 6, Baharat. Merencanakan sebuah perlawanan. Meski mustahil naik ke lantai 0, maka ia turun ke lantai paling dasar. Memaksa tiap penghuni penjara tiap lantai agar mau ikut berjuang. Meski menggunakan kekerasan.

Meski angannya ingin melakukan revolusi dengan kaum bawah. Nampaknya tidak begitu. Ia tak sempat lagi melakukan counter hegemoni kepada kaum bawah. Ia malah tampil berdua mengusung perlawanan. Meski itu pada kenyataannya, terkadang dicibir sia-sia.

“Apakah itu demo-demo, kayak kurang kerjaan saja, mending masuk kuliah biar dapat nilai A. Lalu sarjana cepat,” kira-kira begitu cibiran kaum yang katanya intelektual hari ini.

Begitu lah nasib dan resiko kaum intelektual organik. Ia mesti siap dicibir, siap dicaci sebagaimana prasyarat pejuang yang mesti keluar dari one dimensional man, mengambil posisi subversif.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here