Sakralnya Kamar Sang Abah

0
29

Oleh : Nur Taufik Sanusi (Gus Upik)

Nur Taufiq Sanusi, anak kelima dari Anregurutta itu memiliki kenangan manis bersama abahnya semasa hidupnya. Abah merupakan sapaan akrab anak-anak Sanusi Baco. Menurutnya sosok Sanusi Baco ketika di rumah beliau tidak pernah menunjukkan dirinya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel. Melainkan sebagai ayah dan kakek dari anak-cucunya. Sanusi Baco sangat kental dengan ajaran orang tua terdahulu dalam mendidik anak-cucunya. Tradisi lisan (maccarita) paling sering dilakukannya untuk membentuk karakter anakcucunya. “Banyak hal yang diceritakan sama abah. Dari hulu ke hilir. Ada saja yang kita dapatkan dari Abah,” ujar pria yang akrab disapa Gus Upik itu. 

Proses berceritanya Sanusi Baco kepada anak-cucunya sering ia lakukan di kamar tidurnya. Kamar Anregurutta hanya berukuran 3 m x 3 m. Bagi anak-cucunya kamar tidur Sang Abah sangatlah sakral. Segala hal ia bagikan, apapun itu di manapun serta ke siapapun itu. “Upik, di mana ki, Nak? Nanti singgah ki di kamar nanti Nak, coba saiki dulu minum ini teh Nak. Enak sekali, abah yang buatki sendiri,” ingat Gus Upik saat di sela kesibukannya. Ingatan itu selalu dikenang oleh lulusan UIN Sunan Kalijaga hingga akhir hayat sang ayah. Setiap masuk kamar Anregurutta, pasti ada selalu buah tangan yang diberikan untuknya.

Entah, sebutir anggur atau hanya sebiji biskuit. Setiap buah tangan yang diberikannya tak luput diselipkan doa dan wasilah untuk anak-cucunya. Sosok Anregurutta dikenal sebagai seorang ahli tasawuf, yang khatam berbagai kitab fiqh-fiqh lainnya. Tetapi bagi Gus Upik, melalui kebiasaan sang ayah yang selalu memanggilnya masuk ke kamarnya yang justru memperlihatkan tarekat Anregurutta bukan dari teoritis semata, melainkan dari kisah-kisah para sesepuh dan pendahulunya sebagai pelajaran untuk anak-cucunya.

“Suatu ketika, ada seorang tetangga menanyakan kabar Abah melalui Pak Rudi, sopir pribadi beliau, apakah Abah Sanusi sudah pulang dari tanah suci. Padahal Abah tidak pernah pergi ke tanah suci saat itu, melainkan hanya duduk di rumah sambil berzikir,” ujar pria kelahiran Ujung Pandang, 19 Juni 1978 ini kemudian tersenyum saat ditemui di kediamannya, Selasa, 18 Mei. Kisah AGH Sanusi Baco ini hampir sama dengan kisah gurunya, AGH Ambo Dalle, yang banyak melihatnya sedang menunaikan ibadah haji.

Padahal saat itu dirinya sedang mengayuh sepedanya sejauh 40 km dari Barru hingga ke Parepare untuk membangun Pondok Pesantren Mangkoso di Parepare. Saat Gus Upik menanyakan ke Abah, hanya anggukan dan senyuman kecil saja sebagai jawaban. “Jawaban Abah itu sebagai pesan tersirat yang hanya diberikan keistimewaan dari orang pilihan Allah Ta’ala. Walaupun dijelaskan panjang lebar, mungkin saya juga tidak bisa menafsirkannya,” terang lulusan doktoral UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. Bagi Gus Upik, kebiasaan Sanusi Baco yang memanggil anak-cucunya masuk ke dalam kamarnya itu penuh makna yang mendalam.

Orang bilang, ajaran tarekatnya Abah itu ada dalam kamarnya. Artinya, kamar itu sebagai tempat yang sakral bagi Abah untuk berbagi banyak hal. Topik pembicaraan yang bukan kami yang menyesuaikan dengan Abah, melainkan Abahlah yang menyesuaikan kondisi serta kebutuhan kami sebagai anakcucunya. Kesakralan kamar Sanusi Baco, dalam pandangan Gus Upik inilah sebagai pembedanya dengan  Anregurutta-anregurutta yang lainnya.

Anregurutta Ambo Dalle misalnya, hanya mengoptimalkan fungsi ruang tamu dalam mengajarkan tarekatnya kepada keluarga dan para santrinya. Tidak hanya anak-cucunya saja yang ia panggil untuk masuk ke kamarnya. Para santri, kerabat, ulama, dan sopir pribadi saja lebih sering juga berkunjung ke kamar Sanusi Baco untuk diminta nasihat dan wasilahnya. “Semua tamu yang berkunjung, tidak pernah Abah tolak pasti diterima. Dan sering dipanggil masuk ke kamarnya, dan Abah selalu rapih dalam menerima tamu. Gak heran, ketika keluar dari kamar Abah, mereka bilang itu barakka dari AGH Sanusi Baco,” ujarnya dengan suara lemah lembut anak kelima Sanusi Baco itu. Gus Upik, selalu bersedih mengingat figur Abahnya yang tidak bisa ditiru olehnya. Apalagi saat menerima tamu dan berdoa.

Dia lebih rapih dibandingkan jika bertemu dengan para pejabat. Justru, bertemu para pejabat ia hanya mengenakan pakaian yang sederhana, tetapi tetap sopan dalam menjamunya. Selain itu, sifat humoris dari Sanusi Baco selalu terkenang bagi Gus Upik. Ada satu celotehan nasihat yang tidak pernah dilupakan olehnya, yaitu guyonan nganggurnya Malaikat di Ibukota. “Saat itu, saya pamit ke Abah untuk pergi tugas ke Jakarta. Lalu, abah berpesan jangan lupa berdoa. Karena di kota-kota besar itu banyak ditemukan Malaikat yang menganggur, disebabkan dibutakan kesibukan duniawi. Tugas Malaikat itu kan, mengaminkan setiap doa manusia, jadi perbanyaklah berdoa. Kasihan mereka jika kita tidak berdoa,” jelasnya sambil terbahak-bahak menirukan suara khas AGH Sanusi Baco (*)

Sumber : Harian Fajar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here