PAK KIAI PART II

0
48

Oleh : Syamsurijal Ad’han

Setelah saya berjumpa pertama kalinya dengan Pak Kiai (Anregurutta KH. Sanusi Baco) dan mencium tangannya dengan khidmat dalam acara itu, tidak otomatis selanjutnya mudah bertemu. Kendati Pak Kiai adalah pimpinan pesantren kami, tetapi beliau juga memiliki kegiatan yang sangat padat. Beliau adalah dosen di IAIN dan beberapa PT Islam lainnya. Saat ini juga sudah memimpin organisasi islam, Nahdlatul Ulama. Tentu informasi itu belakangan saya ketahui, yang pasti saat itu beliau tidak setiap saat ke pesantren.

Namun tentu saja, beliau beberapa kali hadir membawakan pengajian kitab.
Seperti jika mencampaikan ceramahnya di mimbar, dalam pengajian kitab, Pak Kiai membawakan dengan memukau. Tenang, runtut, sabar dalam menjelaskan, dibarengi contoh yang membuat terang benderang apa yang tengah dibabarkan, dan tentu saja diselingi dengan humor yang pas dan menyegarkan.

Tibalah suatu waktu saya menyambangi kediaman beliau. Ketika itu saya sedang mengurus rencana LDK di pesantren. Selain akan meminta nasehat, maksud kunjungan itu adalah memohon kesedian beliau untuk hadir di acara pembukaan. Tentu saja saya tidak berharap banyak Pak Kiai bisa hadir. Acara ini hanya kegiatan santri. Boleh dibilang hanyalah acara-acara remaja tanggung yang sedang belajar berorganisasi. Tidak lebih-tidak kurang.

Ketika kami tiba di rumah Pak Kiai, beliau masih di kamar. Beberapa jenak kami menunggu di ruang tamu. Ruang itu cukup jembar. Ada tiga meja dengan beberapa kursi. Di atas meja lebih dari dua toples kudapan tersaji. Ruang tamu yang terasa adem ini, rupanya siap selalu menerima tamu. Tidak perlu menunggu lama, Pak Kiai keluar dari kamar. Busananya rapi. Berkemeja lengan panjang yang dipadu dengan sarung. Kopiah hitam menutup rambut beliau yang tersisir rapi. Busana yang dikenakan Pak Kiai adalah cermin penghormatan pada tamu tanpa memilah milih siapa tamunya. Bahkan meskipun yang datang hanyalah santri-remaja tanggung yang masih bau kencur. Jika mengingat itu sering kali saya malu pada kenangan tersebut dan pada diri sendiri, sebab acap kali saya menyambut tamu dengan pakaian serampangan.

Pak Kiai datang dengan sebuah senyuman yang khas. Kharismanya menguar di seputar kami. Saat itu juga kami membeku di tempat. Untungnya salah satu tuan rumah telah keluar mengantar minuman dan Pak Kiai segera memecahkan suasana. Beliau mempersilahkan kami minum dan mencicipi penganan yang tersaji. Saya meraih gelas dan membasahi tenggorokan. Lalu meski agak terbata-bata, saya mulai menyampaikan perihal rencana kegiatan kami. Pak Kiai menyimak. Sesekali mengangguk. Terlihat sangat memperhatikan apa yang kami utarakan. Setelah saya usai bicara, Pak Kiai mulai menimpali. Memberi beberapa masukan. Wejangannya seperti air yang mengalir tanpa riak.

Akhirnya saya pun mulai mengajukan permohonan kepada beliau untuk hadir membawa tauziah dan materi dalam acara itu. Meski berharap Pak Kiai bisa hadir, tetapi saya tidak begitu yakin. Kami tahu betul kesibukan beliau, meski belum tahu persis beliau sibuk sebagai apa. Tetapi saya jadi terperangah, ketika tiba tiba Pak Kiai mengambil almanak kecil. Beliau memperhatikan dengan teliti almanak itu. Beberapa tanggal telah dilingkari, menunjukkan jadwal kegiatan Pak Kiai pada tanggal tersebut. Lalu beliau menunjuk satu tanggal. “Di sini bisa” Kata Pak Kiai. Tak disangka kegiatan kecil dan yang mengundang juga anak kecil, rupanya mau dihadiri oleh Pak Kiai. Tak terlukiskan bagaimana gembiranya kami. Itulah pertama kalinya saya merasakan bagaimana jika sukacita itu melambung ke langit.

Bersambung….

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here