Karamah Anregurutta Sanusi Baco

0
138

Oleh : M. Fadlan L Nasurung

Suatu waktu jelang penghujung tahun 2017, saya bertandang ke rumah Gurutta seorang diri untuk hajatan Haul Gus Dur ke 8 oleh Komunitas Gusdurian Makassar. Setahun sebelumnya Gurutta juga hadir di acara peringatan Haul Gus Dur ke 7 bertempat di Sekretariat IKA PMII Sulsel Jl Landak Lama. Hadir pula sahabatnya, Ishak Ngeljaratan. Acara itu diadakan salah satunya atas prakarsa Prof Dr KH Kadir Ahmad (Ketua IKA PMII Sulsel).

Seingat saya itulah waktu paling lama saya bisa berbincan, lebih tepatnya tabarrukan dan mendengar wejangan, berdua dengan beliau. Kurang lebih 2 jam. Saya datang ba’da duhur dan pamit pulang setelah azan ashar berkumandang.

Setibanya di rumah dan diterima langsung oleh Gurutta di ruang tamunya, saya duduk di samping beliau sambil menghadap ke arahnya dengan sikap tubuh penuh takzim.

Setelah menyampaikan hajatan, Gurutta langsung berdiri, berjalan menuju kamarnya dan kembali dengan membawa kalender duduk dan sebuah pulpen. Ini memang sudah menjadi kebiasaan Gurutta jika ada tamu yang mengundangnya untuk hadir pada sebuah hajatan (saya mulai memperhatikan hal ini saat sering bertandang ke kediamannya kala masih mondok di Pesantren)

Setelah melihat-lihat jadwal yang tertera pada kalender, Gurutta lalu mengiyakan (namun belakangan Gurutta tidak bisa hadir pada Haul Gus Dur kali ini, karena acara sempat tertunda di jadwal yang sebelumnya telah ada. Saat saya mengkonfirmasi perubahan jadwal, ternyata Gurutta di waktu yang sama telah diundang untuk menyampaikan tausiyah pada Haul Gus Dur di Ciganjur, saya menerima kabar itu dari Ust Dr Taufiq Sanusi).

Setelah terdiam beberapa jenak, Gurutta lanjut berbicara dan tetiba masuk ke topik soal pernikahan. Ia menguraikan dengan sangat panjang dan dalam makna dan hakikat Sakinah, Mawaddah, Warahmah.

Saya menyimak dengan seksama dan secara sengaja merekam penjelasan Gurutta melalui gawai yang saya pegang. Perasaan bahagia menyelimuti seketika. Dalam benak saya, ini adalah berkah tiada tara.

Itulah salah satu karamah Anregurutta Sanusi Baco, karena memang ketika itu telah ada niat mempersunting seorang pujaan hati yang kini menjadi istri saya (kami menikah awal Maret 2018).

Niat itu tak sekalipun saya pernah utarakan ke Gurutta sebelumnya. Namun entah mengapa, di pertemuan itu saya beroleh anugerah ilmu dan pencerahan sebagai bekal untuk mengarungi samudera hidup dengan bahtera rumah tangga.

Saya haqqul yakin, itulah salah satu kelebihan Gurutta sebagai Waliyullah Al Muta’akhirin.

PW NU SULSEL

Selamat jalan Puang, engkau telah pulang, beristirahatlah dengan tenang. Kami semua kehilangan!

Alfatihah

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here