PAK KIAI

0
177

Oleh : Syamsurijal Ad’han

INNALILLAHI WA INNALILLAHI RAJIUN

Ketika kabar wafat beliau bertebaran di media sosial, batin saya menyangkalnya. Tak ingin Ulama yang memesona dan menyejukkan itu meninggalkan umatnya di sulsel. Beliau telah betul-betul berpulang ke Rahmatullah. Denting lara pun menguar ke angkasa, seluruh umat di bugis Makassar tersungkur dalam duka.

Di banding dengan banyak orang yang jauh lebih dekat denga Pak Kiai, saya tentu bukanlah apa-apa. Apalagi di antara yang dekat dengan pak Kiai itu adalah orang yang hebat dan para tokoh.
Tetapi izinkanlah saya bercerita tentang sosok Pak Kiai dari pengalaman dekat saya dengan beliau. Ini bisa dibilang selarik cerita santri biasa yang juga punya pengalaman dengan Pak Kiai, sosok yang nyaris semua orang Sulsel mengenalnya.


Dulu beliau lebih akrab disapa Pak Kiai. Belakangan setelah Anregurutta menjadi kosa kata untuk gelar Kiai di Sulsel, beliau disapa Anregurutta KH Sanusi Baco LC. Tetapi izinkan kali ini saya menyebutnya Pak Kiai, sebab dua kata itulah yang pertama kalinya sangat membekas dalam ingatanku, bahkan ketika saya masih kanak-kanak.

Nama Pak Kiai Sanusi (selanjutnya saya akan sebut Pak Kiai) mulai saya kenal ketika masih belia. Beliau lebih dulu saya dengar namanya dibanding KH Zainuddin MZ yg menjadi da’i sejuta umat itu. Nama Pak Kiai telah menembus kampung saya yang terpencil di suatu pelosok di Bulukumba. Kala itu jangankan telepon untuk berkomunikasi, atau Tv untuk melihat sosok beliau, radio pun di kampung saya masih jarang. Boleh dibilang kampung saya terisolir dari informasi soal tokoh-tokoh (agama) yang berkiprah di Makassar. Tetapi toh, nama Pak Kiai tetap terdengar di kampung yang terpencil itu.

Suatu hari ayah saya bercerita. Di Ereng-ereng-Bantaeng, pernah terjadi perselisihan soal barzanji, antara jemaah NU dan Muhammadiyah. Perselisihan itu menjadi pelik dan mengeras, hingga akhirnya Pak Kiai datang. Ia hadir menyampaikan cermah. Tauziahnya bagai mantra yang menyenangkan dan menenangkan kedua belah pihak. Hubungan yang tadinya beku antara dua jemaah itu akhirnya cair.

Begitu saya mendengar cerita itu, benak saya mulai membayangkan sosok pak Kiai. Sosok seorang kiai yang kharismatik, tenang dan anggun, yang kalimatnya memesona dan menenangkan. Saya mengasosiasiakannya dengan sosok dalam film Sunan Kalijaga yg pernah sekali saya tonton di layar tancap. Belakangan, sosok itu saya kenal sebagai Sunan Bonang.

Sejak saat itu, kosa kata saya bertambah dengan mulai mengenal adanya seorang Kiai. Dan Kiai itu adalah Pak Kiai Sanusi. Maka ketika saya diam-diam senang mengikut dialog Pak Kiai dan Dg Naba, suatu program dialog keagamaan saat sahur di bulan Ramadhan, sesungguhnya dalam bayangan saya Pak Kiai yang dimaksud adalah Pak Kiai Sanusi.

Kali kedua nama Pak Kiai kembali saya dengar ketika serombongan kakak mahasiswa KKN IAIN datang di kampung saya. Ketika itu saya sudah kelas 6 SD. Salah seorang kakak mahasiswa, bercerita tentang satu pesantren yang dipimpin oleh Pak Kiai. Mendengar cerita bahwa pesantren itu dipimpin Pak Kiai, ayah saya segera tertarik. Ayahku ingin memasukkan saya ke pesantren itu. Tempatnya di Makassar jauh dari kampung saya.

Sebelumnya saya tidak pernah tertarik untuk melanjutkan sekolah yang jauh dari kampung saya. Terus terang saya tidak bisa pisah dari orang tua. Tetapi mendengar bahwa pesantren itu dipimpin oleh Pak Kiai, hati saya jadi kepincut. Lagi-lagi dalam benak saya muncul sosok seperti yang saya gambarkan tadi. Masuk pesantren itu berarti saya akan berjumpa dengan sosok yang sering saya bayangkan itu.

PW NU SULSEL

Demikianlah, saya akhirnya masuk pesantren yang diceritakan oleh kakak mahasiswa itu. Pesantren itu bernama Pondok Madinah. Tetapi begitu menginjakkan kaki di pesantren, saya tidak langsung bersua dengan sosok Pak Kiai yang saya bayangkan. Pertemuan pertama baru terjadi ketika pesantren merayakan satu acara keagamaan.

Saya pun menanti Pak Kiai yang sosoknya telah terbentuk dalam benak saya. Ketika kami menunggu acara dimulai, suasana menjadi gaduh. Bisa dimaklumi ketika santri tanggung sedang berkumpul, pasti riuh rendah jadinya. Tiba-riba terdengar kak senior bilang: “Pak Kiai datang”. Suasana seketika menjadi senyap. Tak lama kemudian sosok Pak Kiai muncul. Saya menatapnya nyaris tak berkedip.

Ia berjalan tenang, parasnya teduh dan bibirnya sesekali tersenyum ramah. Hampir semua yang saya bayangkan tentang sosoknya sebelum bertemu, mewujud nyata. Satu-satunya yang berbeda dari bayangan saya adalah busananya. Pak Kiai tidak berserban, tapi mengenakan songkok hitam agak tinggi. Rambutnya tersisir rapi. Mengenakan baju putih yang dipadu dengan jas. Ketika pak kiai melintas di samping kami, kharismanya terasa begitu kuat. Kami terpana dalam pesona auranya.

Tibalah giliran beliau menyampaikan tauziah. Melangkah begitu tenang ke mimbar, seakan pada angin pun beliau tak ingin gegabah menyibaknya. Tauziah disampaikan dalam bahasa yang membumi. Dengan contoh sederhana pak kiai menjelaskan beberapa dalil. Kami yang masih belia pun bisa mengerti pesan yang disampaikan. Sesekali diselingi dengan lelucon yang segar tetapi tidak berlebihan. Sepanjang menyampaikan tauziahnya, tak terdengar suara. Hening…Sesekali kami tertawa geli dengan lelucon segar pak kiai, tetapi segera kembali menyimak dengan khidmat.

Hari itulah saya bersua langsung dengan Pak Kiai, sosok yang telah menembus imajinasi saya, jauh sebelum bertemu. Hari itu pualalah pertama kalinya saya mencium tangannya dengan setakzim-takzimnya. Hari itu pula ada haru, bungah, dan gembira yang menyeruak di sanubari. “Kelak saya akan cerita pertemuan pertamaku ini dengan Pak Kiai pada ayah-ibuku”. Batinku.

Itulah pertemuan awal saya, dan selanjutnya saya menjadi sering berjumpa dengan pak kiai; mendengar nasihatnya, humornya, masukannya, bahkan bantuan materilnya. Kisah-kisah itu terjadi ketika saya jadi Ketua Ospom (Osis Pesantren), Ketua Rayon Pmii dan setelah aktif di LSM.

BERSAMBUNG…..

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here