Fatayat, Melati yang Tak Akan Pernah Mati

0
406

PWNUSULSEL.OR.ID – Fatayat Nahdlatul Ulama adalah organisasi perempuan muda, salah satu lembaga otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan pada 24 April 1950, atas negosiasi santun dan perjuangan “tiga serangkai” – Khuzaemah Mansur, Aminah Mansur, dan Murtosijah Chamid. Ketiganya berhasil meyakinkan organisasi induknya, Nahdlatul Ulama, akan pentingnya sebuah wadah perempuan muda NU bernama Fatayat.

Masa perintisan awal pada medio 1950-1953 adalah periode menanam semangat keikhlasan untuk menyemai bibit-bibit yang penuh perjuangan, merekrut anggota, dan melaksanakan program dengan cara swadaya tanpa bantuan pihak manapun, seperti mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, pemberantasan buta huruf, hingga kursus keterampilan perempuan. Keihlasan perjuangan periode ini memeras banyak tenaga, pikiran dan materi. Mereka bekerja tanpa pamrih, sebagai wujud cintanya pada agama melalui pengabdiannya dan karya-karya sosialnya. Fatayat memberikan pencerahan baru bagi perempuan yang berkultur santri saat itu, bahkan mengikuti latihan militer kala menghadapi masa revolusi.

Semangat dan kesadaran kebangsaan telah mewarnai perjuangan Fatayat NU di masa-masa pengembangan dan konsolidasi pada kurun 1953-1969. Melebarkan sayap sampai ke Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, melakukan penguatan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan melalui kursus bahasa, pelatihan kepemimpinan perempuan dan menerbitkan majalah “melati”. Fatayat kemudian mulai tumbuh menjadi organisasi kader yang mandiri, mencangkok beberapa kegiatan baru sebagai bentuk sosialisasi tanpa meninggalkan kebiasaan kultural seperti pengajian, membaca tahlil, belajar kitab kuning, dan kegiatan sosial keagamaan yang lain.

Percikan masa emas organisasi perempuan di zaman pemerintahan Soekarno pun pernah dirasakan Fatayat NU, menjadi wakil rakyat, hakim agama, dan kebebasan berekspresi dan berpendapat. Begitupun masa-masa kemarau organisasi perempuan di pemerintahan Soeharto,

Fatayat NU tak lantas layu, mati dan tak berbunga. Dia tetap bisa tumbuh di tengah cadasnya rezim mengekang, mengontrol dan memarjinalisasi NU, bahkan aktivitas organisasi-organisasi perempuan. Dia tetap bisa bertumbuh dan berbunga dengan mencangkok program-program pemerintah seperti Posyandu, Apotik Hidup, Dasa Wisma berbungkus Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Fatayat terbuka dengan perubahan dengan situasi yang terus berubah, Ia menyerap, merefleksikan, menyusun strategi dan memulai aksi. Patah Tumbuh, Hilang Berganti.


Usia 71 tahun adalah torehan perjalanan Panjang. Fatayat telah melahirkan ribuan jenis kader yang mengakar dan merekah mewarnai persada Nusantara. Seperti lambang Melati pada logonya, keharumannya adalah sebuah lambang kecintaannya kepada bangsa dan agama, kehadiran Melati Putih selama 71 tahun ini adalah sebuah romansa, simbol kasih sayang seorang ibu akan lahirnya generasi-generasi bangsa dari rahim perempuan muda yang cerdas, teladan, dan berbudi luhur.

Seperti tegaknya melati di atas dua helai daun pada logonya yang melambangkan kesucian, ketulusan, keanggunan dalam kesederhanaan. Dua helai daun Nahdatul Ulama dan Muslimat NU, itu pulalah yang akan selalu membimbingnya. Fatayat adalah perempuan penggerak Nahdatul Ulama, penopang Muslimat NU.

Namun dia tak boleh pongah dengan keindahan dan semerbak harumnya. Ditengah derasnya arus informasi dan era industri 4.0, Fatayat NU sudah harus mampu beradaptasi dengan cepat dan menguatkan ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan di masa kini dan masa yang akan datang.

Pertama, Ketahanan Ekonomi. Terpaan bencana global Covid-19 memberi dampak amat besar terhadap pada sektor ekonomi nasional dan dunia. Bahkan dalam situasi terburuk, pertumbuhan ekonomi diramalkan bisa minus 0,4 % karena turunya konsumsi rumah tangga, daya beli, investasi dan turunnya komoditas ekspor. Kader Fatayat NU seyogyanya menjadi inspirasi dan mengerahkan seluruh bentuk ketangkasan, empati dan kesiapsiagaan untuk menjadi penggerak perubahan di lingkungan masing-masing. Menumbuhkan laju pertumbuhan UMKM perempuan dan industri Rumah Tangga dan membuat sistem circle ekonomi yang bergerak di lingkungan perempuan dengan penguatan ruang produksi dan memanfaatkan pemasaran melalui teknologi infomasi.

Kedua, Ketahanan Ideologi. Mengakarnya paham radikalisme, bahkan terorisme yang melibatkan perempuan sebagai agen dan eksekutor teror adalah sebuah benalu yang harus dipangkas oleh Fatayat NU yang mengancam kehidupan beragama, berbangsa dan benegara. Fatayat NU harus terlibat aktif dalam gerakan kontra radikalisme mulai dari keluarga, lingkungan, ruang akademik, komunitas perempuan dan masyarakat luas. Kasus Bom Gereja Katedral Makassar dan penyerangan Mabes Polri yang pelakunya adalah perempuan, menjadi bukti nyata bahwa sel sel radikalisme itu telah lama tumbuh dan berkembang dikalangan perempuan dan kaum milenial. Terlebih lagi, perekrutan kelompok radikal terorisme ini pun terjadi secara online.

Penggunaan lalu lintas media sosial yang begitu beragam dan padat tersebut menyebabkan satu fenomena “perasaan jiwa tanpa Sekat”, Dis Insibition On Line Effect. Ada anonimitas visual yang bisa menyebabkan kondisi jiwa yang lebih permisif untuk bertindak diluar norma, terjadinya komunikasi virtual yang menghilangkan beberapa aspek komunikasi seperti gesture dan isyarat paralinguistic, adalah pintu masuk atas menjamurnya berbagai cybercrime, kekerasan berbasis gender online (KBGO).

PW NU SULSEL

Penguatan pemahaman Islam Rahmatan lil Alamin, moderasi beragama serta membumikan Islam Nusantara dalam bingkai Aswaja An-nahdliyah tak boleh lagi hanya sekedar jargon, tapi sudah harus meresap lebih dalam untuk membunuh akar-akar radikalisme dan paham keagamaan dan kebangsaan yang mengancam NKRI.

Ketiga, Ketahanan Moral. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, menyebabkan banjir informasi yang bisa mengubah banyak tatanan nilai dan kebiasaan masyarakat, bahkan generasi muda. Keragaman pilihan konten dan ruang produksi yang tanpa batas, ruang dan waktu. Kemajuan teknologi informasi dan digital, ibarat dua sisi mata pisau. Ia akan menjadi ruang berekspresi dan medium menyiarkan gagasan, ide dan memudahkan konsolidasi organisasi, namun dilain sisi bisa menjadi ancaman baru akan tergerusnya beberapa nilai-nilai baik dan datangnya habitus buruk.

Data yang memprihatinkan dan paling mencengangkan adalah Indonesia menempati urutan kedua, negara pengakses situs porno terbesar di dunia melalui gadget dengan persentase sebesar 457%, hanya satu peringkat dibawah turki. Dan menjadi tertinggi di Negara-negara Asia. Kekerasan seksual pada perempuan dan anak, human trafficking online, dan prostitusi online sebagian besar karena efek dan melalui transaksi elektronik.

Fatayat Nahdlatul Ulama (FATAYAT NU) harus segera mengambil bagian dalam menyikapi akselerasi perubahan di media dengan berbagai dinamika dan effect yang menyertainya. Perubahan adalah sunnatullah yang pasti terjadi dan akan terus terjadi, yang patut dipermasalahkan adalah bagaimana menyikapi perubahan tersebut. Fatayat NU harus mampu menjadi Agen literasi media, mengawal masyarakat bagaimana memilah dan memilih media dengan benar, dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat.

Fatayat NU diharapkan bisa tumbuh tegak, ibarat melati yang selalu mekar sepanjang musim, itu karena posisi Fatayat NU, dengan DNA dan karakter NU yang senantiasa sesuai dan seiring dengan hukum perubahan itu sendiri. Itu karena NU lahir dari akar rumput dan bumi masyarakat itu sendiri. Islam Nusantara adalah identitas nahdliyin yang sangat kompatibel dalam perubahan yang sudah, sedang, dan akan terjadi.

Akulturasi berbagai nilai yang hadir melalui berbagai lini hari ini dan sejarah yang telah dilewati oleh Fatayat NU, pada dasarnya menjadi kompatibilitas disrupsi bagi perempuan nahdliyin dalam prinsip nahdliyin yaitu

المحافظة على القديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلح

Prinsip kesinambungan (sustainability) yang telah built in dalam karakter nahdliyin tersebut menjadi modal kuat bagi model disrupsi yang optimistik, bukan pesimistik. Sehingga prinsip al-muhafadhah wa al-bad’u menjadi nilai elevator disrupsi yang optimistik bagi nahdliyin.

Kita memiliki prinsip sensitivitas perubahan (sense of change) sehingga ada kaidah “perubahan hukum diniscayakan seiring perubahan waktu dan tempat” (Taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azman wa al-amkinah). Olehnya, Fatayat NU harus memiliki imun dan cadangan kekuatan-kekuatan yang komprehensif dengan datangnya era Industri 4.0 yang melahirkan berbagai effect berantai dalam kehidupan bermasyarakat. Jangan pernah layu dan mati wahai Melati Putih kebanggaan, tetaplah terus bertumbuh dan semerbak wangimu bagi masyarakat adil makmur dan keutuhan NKRI. Selamat Harlah 71 Fatayat NU!.

Herwanita, Kader Fatayat NU Sulsel

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here