Mengenang Gus Dur; Menimbang Gagasan dan Tindakannya

0
347
Ilustrasi (Muh. Irham)

Perempuan itu mengenakan dress hitam-hitam. Matanya pekat dalam mendung lara. Di trotoar RSCM, perempuan ini menangis berurai air mata.  Dengan pundak bergetar dan suara yang terputus-putus, ia berkata: “Gus Dur itu guru saya. Hanya dia yang sayang saya, ketika yang lain menghina saya. Kalau saya tadi terkejet mati, saya bisa bareng dengan Gus Dur.”  Tak hanya menangis tersedu-sedu, kala jenazah Gus Dur diboyong meninggalkan RSCM, perempuan ini ikut berebutan dengan para Banser untuk turut menandu jenazah tersebut.

Perempuan itu tak lain adalah Dorce Gamalama. Ia salah seorang yang begitu kehilangan atas kepergian Gus Dur pada 30 Desember 2009. Tetapi tak hanya Dorce, mereka yang merasa kehilangan dan begitu bersedih atas kepergian Gus Dur tak bisa dihitung. Berjuta air mata tumpah pada hari itu. Saat Gus Dur diantar ke liang lahat, jutaan orang yang melepasnya. Sangat langka sosok yang diberi penghormatan luar biasa di akhir hidupnya oleh begitu banyak orang  dengan beragam latar belakang.

Ternyata orang yang mengenang dan menghormati Gus Dur, tidak lekang oleh waktu. Seperti sering dikatakan oleh banyak orang, Gus Dur tidak pergi, dia hanya pulang. Dan begitulah adanya, sebelas tahun setelah berpulang, ia masih tetap menjadi bahasan. Humornya dibicarakan, sosoknya dikenang dan gagasannya ditulis serta dibincangkan.

Salah seorang aktivis dari Wahid Foundation, Alamsyah M Jafar, sahabat saya, pernah bercerita,  satu ketika ia mengunjungi Inul Daratista. Artis penyanyi dangdut yang terkenal karena goyang ngebornya itu akan diwawancarainya berkenan dengan sosok Gus Dur. Tetapi Alamsyah mengaku, ia harus menunggu beberapa jenak membiarkan Inul melepas kesedihannya. Ketika sosok Gusdur disinggung di depannya, ia menangis sesenggukan.

Inul Daratista memang adalah salah satu sosok yang dibela oleh Gus Dur, saat nyaris semua kalangan memojokkannya. Seperti kita ketahui, MUI dengan tegas menyatakan bahwa goyang Inul tidak hanya haram, tetapi membahayakan moral umat. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama, bahkan mengampanyekan boikot Inul Daratista.  

Bagi Gus Dur, biarlah umat/publik sendiri yang memberi penilaian. Tak perlu memberikan hukuman dan nistaan pada pedangdut (yang kala itu masih) pinggiran semacam Inul. Toh apa yang disebut Gus Dur terbukti, belakangan Inul juga sangat jarang tampil dengan goyang ngebor-nya. Ia kini mengandalkan olah vokal yang semakin memukau. Mengapa? Publik tidak selamanya akan mengapresiasi goyang ngebor-nya. Jika hanya mengandalkan itu, Inul pasti terkubur dalam sejarah perdangdutan.  

Hal yang sama juga terjadi pada Dorce Gamalama. Hingga detik ini, khususnya saat-saat tanggal meninggalnya Gus Dur berulang, Dorce akan selalu mengenang sosok yang dianggapnya sebagai salah satu tokoh agama yang menyayangi dirinya dengan tulus. Ketika dia, memutuskan ganti kelamin, ia dicibir oleh banyak orang. Dianggap menyalahi kodrat. Tetapi di titik ketika nyaris semua tokoh tidak ada yang membelanya, bahkan cenderung ikut menekannya, Gus Dur lagi-lagi menerimanya.

Berkenaan dengan kasus Dorce ini muncul satu guyonan, entah dari Gus Dur atau humor ini dari yang lain, memang belum jelas. Konon saat Dorce datang menghadap Gus Dur dengan menangis akibat dihujat beramai-ramai, Gus Dur dengan lapang dada menerimanya.

Tetapi meski Gus Dur sudah menerima  dan membelanya, Dorce masih menangis tersedu-sedu. Lalu Gus Dur bilang: “Ya mbok sudahlah, kalau perlu kau saya masukkan di Muslimat.”  Muslimat adalah organisasi ibu-ibu di NU. Hal itu dikatakan Gus Dur mengingat Dorce sudah menjadi perempuan. Mendengar itu, Dorce tetap menangis, lalu sambal terbata-bata ia bilang: “Tidak, jangan saya dijadikan Muslimat, tetapi jadikan saya Banser.”  Banser seperti kita ketahui adalah barisan pengawal ulama yang biasanya dihuni laki-laki gagah.

Kelompok minoritas seperti Konghucu dan etnis Tionghoa juga tak pernah lupa pada sosok Gus Dur. Mereka bisa kembali diakui sebagai salah satu agama di Indonesia dan orang Tionghoa bisa merayakan imlek setelah Gus Dur, melalui Keppres no.6/2000, mencabut  inpres no.14 tahun 1967  tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina. Inpres itulah pada masa orde baru yang membatasi agama, kepercayaan, perayaan hari besar dan kebudayaan  Cina di Indonesia.

Etnis Tionghoa maupun penganut Konghucu, hingga hari ini juga terus mengenang Gus Dur. Suatu saat, dalam perayaan Imlek kaum Konghucu ini, seorang ibu berparas oriental justru datang berziarah ke makam Gus Dur. Di atas pusaranya, perempuan ini menangis tersedu-sedu. Ia mengaku, sebagai umat Konghucu sekaligus etnis Cina, tidak mungkin saat ini bisa merayakan imlek dan keyakinan mereka kembali menjadi salah satu agama yang diakui, tanpa kebijakan dan kebajikan Gus Dur.

PW NU SULSEL

Pada akhir-akhir bulan Desember, biasanya perayaan untuk mengenang Gus Dur ini semakin banyak dilakukan oleh berbagai kalangan. Menjelang tanggal berpulangnya, yaitu 30 Desember, hingga beberapa hari sesudah tanggal itu orang-orang memperingati haulnya. Dari kalangan pemulung hingga di gedung-gedung; dari umat Islam sampai orang-orang Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu; dirayakan di Masjid sampai di Gereja, kadang di Klenteng juga di Pura.  

Jarang manusia biasa yang haulnya diperingati dengan panjang dan dilakukan oleh berbagai kalangan. Tetapi Gus Dur dalam hal ini adalah pengecualian. Tentu saja Gus Dur dikenang seperti itu bukanlah karena ia manusia suci. Ia manusia biasa saja. Dalam perjalanan hidupnya tentu juga bisa melakukan kesalahan.

Namun bila pertanyaan mengapa ia dikenang oleh banyak kalangan dengan latar belakang berbeda hingga saat ini, harus dijawab, maka ada beberapa jawaban yang bisa dikemukakan, tetapi kali ini saya sebut dua saja di antaranya.

Pertama, Gus Dur sangat menghargai kemanusian. Ia memuliakan siapa saja tanpa memandang kelas, agama, ras dan suku. Bagi Gus Dur: “Memuliakan manusia berarti memuliakan pencipta-Nya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan pencipta-Nya.”

Karena itulah Gus Dur tidak rela jika ada manusia yang dihilangkan hak-haknya sebagai manusia, didiskriminasi dan dizalimi. Ia tidak peduli siapa pun manusianya yang direndahkan kemanusiaannya, pasti Gus Dur akan tampil membelanya. Karena itulah dia dengan ringan membela Dorce, Inul dan kelompok minoritas lainnya, kendati Gus Dur harus melawan arus.

Gus Dur membela Ahmadiyah dan Syiah, meski banyak kalangan yang menyesatkannya.  Bagi Gus Dur yang terpenting dibela pada komunitas itu adalah hak-haknya sebagai manusia di bumi Indonesia ini. Bahwa ajaran kedua kelompok itu ada yang berbeda bahkan bertolak belakang dengan pemahaman muslim mainstream, itu persoalan lain. Gus Dur pun sangat mungkin berbeda dalam hal tersebut. Tetapi perbedaan itu tidak berarti hak-hak mereka sebagai manusia harus dinihilkan. 

Kedua, Gus Dur memiliki gagasan yang mencerahkan, orisinal dan visioner. Banyak di antara gagasan Gus Dur yang saat ini justru terasa sangat relevan. Misalnya dulu Gus Dur menulis soal “Islam Kaset dan Kebisingannya,” ternyata gagasan yang dituangkan dalam tulisan itu semakin relevan hingga hari ini. Beberapa konflik terjadi hari ini karena kurangnya kebijaksanaan dalam hal-hal yang berkaitan dengan bunyi-bunyian dan pelantang Rumah Ibadat. 

Gagasan Gus Dur terasa hidup hingga hari ini. Banyak kejadian-kejadian yang terjadi saat ini, telah dibahasa sedemikian rupa oleh Gus Dur. Ketika orang-orang menghadapi peristiwa-peristiwa tersebut, mereka akhirnya ingat kembali gagasan-gagasan Gus Dur.

Apa pun yang dilakukan Gus Dur pada masa hidupnya, tak pernah dipikirkan dan ditujukan untuk kepentingan membesarkan dirinya.  Ia sudah selesai dengan dirinya, sehingga tidak membutuhkan lagi segenap atribut sosial. Pembelaannya terhadap kaum minoritas tanpa pamrih. Karena itu gagasan dan tindakannya pada masa hidupnya tidak harus selalu selaras dan disenangi orang banyak. Jika Gus Dur telah yakin jalan yang ditempuhnya itu akan memberikan kebaikan,  maka dia tidak peduli cara yang dipilihnya menantang arus dengan risiko dibenci.

Mungkin karena Gus Dur tidak peduli dengan penghargaan dan hinaan orang, maka sering kali gagasan dan tindakannya dulu mengguncang pemahaman publik. Ia kadang salah dipahami. Perbuatannya dianggap keliru, gagasannya dipandang kontroversi.  Tetapi bagaimanapun “becik ketitik olo ketero” , kebenaran atau kesalahan akan tersingkap juga nantinya. Dan kini kebenaran-kebenaran dari gagasan dan tindakan Gus Dur sedikit demi sedikit mulai terkuak.  Kebenaran gagasan dan tindakan itu, bahkan hari ini disadari oleh orang awam dan orang-orang yang dulu tidak setuju.  Memang tidak salah jika banyak yang mengatakan, hari ini kita rindu kembali dengan tindakan dan gagasan Gus Dur.

Syamsurijal Ad’han, Ketua LTN NU Sulsel & Peneliti Balitbang Agama Makassar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here