Gusdur dan Penghargaan atas Kemampuan Kaum Difabel

0
120

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 3 Desember 2020, diperingati sebagai hari difabel nasional dan internasional. Berkenaan dengan itu, meski sedikit telat, saya ingin menulis soal kaum difabel ini. Kebetulan juga Desember ini dikenal pula sebagai Bulan Gusdur.  Saya pun ingin menulis penghargaan terhadap kaum difabel ini dalam keterpautannya dengan sosok Gusdur.

Gusdur adalah nama yang popular dan lekat dalam ingatan. Sosok yang bernama lengkap Abdurrahman Wahid itu adalah seorang kiai, intelektual, budayawan, pengamat sepak bola, dan pernah memimpin Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, selama tiga periode.  Gusdur bahkan pernah ditabalkan sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4.

Namun yang paling berkesan dari sosok ini, karena banyak kalangan menahbiskannya sebagai Bapak Pluralisme. Gusdur memang dikenal sebagai orang yang nyaris menghabiskan hidupnya memperjuangkan kaum minoritas dan penghargaan terhadap perbedaan.  Ia membela agama minoritas, etnis Tionghoa, kaum trans-gender  dan juga para penyandang difabel.

Dalam posisinya sebagai pejuang Hak Asasi Manusia, termasuk memperjuangkan hak-hak kaum difabel ini, yang sering kita lupakan bahwa Gusdur sendiri adalah salah seorang difabel.   Memang dia lahir sebagaimana manusia pada umumnya. Tetapi konon, sejak 1985, Gusdur kena glaukoma. Kedua matanya mengalami gangguan dan penglihatannya menjadi terbatas. Ketika Gusdur terpilih menjadi presiden praktis penglihatannya sudah mulai berkurang.

Banyak yang meragukan Gusdur sebagai Presiden dengan keterbatasan penglihatannya. Tetapi justru pada masa Gusdur jadi presiden banyak hal fundamental yang dilakukannya. Salah satunya adalah memulihkan hak-hak kewarganegaraan keturunan Tionghoa di Indonesia. Gusdur juga memberikan pengakuan kembali terhadap Konghucu sebagai agama yang diakui di Indonesia. Selain itu banyak terobosan lainnya mengenai perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia.  

Dalam bidang ekonomi, dan ini tidak banyak dipublikasikan kala itu, pemerintahan Gusdur juga ternyata berhasil melakukan pemulihan. Pemerintahan Gusdur menerima warisan pertumbuhan ekonomi (-) 3 %  pada September 1999. Setahun pemerintahan Gusdur, perekonomian kembali tumbuh di angka 4,9 %.

Istimewanya karena pertumbuhan itu diiringi dengan pengurangan beban utang sebesar USD 4,15 M.  Siapa yang menikmati pertumbuhan ekonomi kala itu? Jika melihat angka kesenjangan sosial, maka pertumbuhan ekonomi itu dibagi cukup merata dan adil. Gini Rasio kala pemerintahan Gusdur adalah yang paling rendah dalam 50 tahun terakhir, yakni hanya 0,31. Gusdur bersama timnya, mencapai angka 0,31 kala itu dari sebelumnya berada pada angka 0,37, hanya kurang dari dua tahun.

Seorang yang diragukan karena kondisi fisiknya itu, ternyata mampu melakukan sesuatu yang hebat. Andaikan Gusdur, meminjam istilah Virdika, tidak dijerat dalam patgulipat politik, mungkin akan lebih banyak lagi terobosan penting yang akan dibuatnya. Ia memang akhirnya tidak berhasil menyelesaikan lima tahun masa kepemimpinannya, tetapi bukan karena tak mampu, apalagi karena soal penglihatannya yang semakin terbatas. Ia dilengserkan dalam permainan politik lancung.

Dalam situasi mengalami masalah pada penglihatan, Gusdur bahkan masih menyampaikan ceramah di mana-mana. Tulisan-tulisannya yang jernih dan menawan tetap hadir di berbagai media. Bahkan dengan sangat bagus Gusdur meladeni kritikan Sindhunata.

Menariknya, karena polemik politik keduanya itu dikemas dengan tulisan mengenai sepak bola. Sindhunata menyentil kepemimpinan Gusdur dalam tulisan “Catenaccio Politik Gusdur.” Gusdur menjawabnya dengan “Catenaccio Hanyalah Alat Belaka.” Polemik yang ciamik dan bermartabat. Kini rasanya sulit menemukan perselisihan politik yang dilontarkan dengan cara-cara elegan semacam polemik Sindhunata dan Gusdur tersebut.

Ketika pemilihan Presiden 2004, Gusdur kembali maju. Ia tahu dukungan politik tidak lagi besar kepadanya. Ia pun paham kemungkinan akan terganjal, karena faktor kedua matanya. Tetapi sekali lagi ia ingin memberikan pelajaran pada bangsa ini, bahwa kaum difabel pun punya hak yang sama dalam politik. Seseorang tidak boleh diremehkan, hanya karena kondisinya tidak sama dengan manusia pada umumnya.

PW NU SULSEL


Ternyata, menjadi seorang difabel bukan berarti tidak memiliki kemampuan. Gusdur telah membuktikan itu. Karena itu memang tidaklah tepat mereka digelari kaum disabilitas (tidak mampu). Kenyataannya mereka pun memiliki kemampuan, hanya saja kecakapannya tidak sama dengan manusia pada umumnya

.

Kisah-kisah yang menunjukkan kemampuan kaum difabel ini ternyata bisa ditemukan dalam banyak cerita para tokoh-tokoh penting di dunia.  Salah satu cerita itu, adalah kisah penguji disertasi dari Prof Quraisy Shihab yang juga tuna netra. Cerita ini saya pernah dengar dari Anre Gurutta Sanusi Baco. Ternyata satu-satunya penguji Prof Quraisy Shihab yang bisa menemukan setitik kesalahan dari tulisan pada disertasinya yang nyaris sempurna, adalah dia yang penyandang difabel itu.

Tokoh-tokoh difabel yang sukses menginspirasi dunia selain Gusdur, sejatinya juga banyak. Deretan tokoh itu misalnya adalah Thomas Alva Edison (Penemu lampu yang ternyata disleksia), Stephen Hawking, Nick Vujicic (Penginjil & Motivator ternama dari Australia), Frida Kahlo (seniman terkenal tahun 1900-an), Marlee Matlin (artis cantik tuna rungu) dan Stevie Wonder (penyanyi legendaris tuna netra).

Kemampuan para kaum difabel ini harus diletakkan dalam penghargaan yang layak. Mereka tidak bisa disisihkan dari dunia. Mereka punya kemampuan  sangat layak yang bisa digunakan memecahkan beberapa persoalan pelik. Mereka bisa menjadi penemu penting seperti Edison, intelektual jenius macam Hawking, atau seniman hebat laiknya Frida Kahlo.

Sering kali kaum difabel ini terpuruk, hanya karena kita tidak bisa menggali dan menempatkan kemampuannya secara tepat.  Sampai di sini saya teringat film Taare Zameen Par. Film ini dibintangi oleh Aamir Khan dan Darsheel Safary. Film ini bercerita tentang seorang anak penderita disleksia. 

Pada awalnya baik orang tua maupun si anak sendiri dirundung frustrasi, karena yang bersangkutan kesulitan dalam belajar. Ternyata ia menderita disleksia dan tidak menemukan penanganan yang tepat. Tidak ada yang berhasil mendorong kemampuannya keluar. 

Sampai kemudian ia dibimbing oleh guru yang mengerti soal disleksia ini. Dengan ketepatan pendekatan, khususnya dengan menempatkan si anak sebagai manusia yang setara dengan lainnya,  kemampuan sesungguhnya yang jenius pun keluar. Si anak itu pun terlahir kembali menjadi pelukis yang hebat.

Menghargai mereka yang sepintas memiliki kekurangan secara fisik di banding kita, adalah keharusan. Sebab selalu saja ada kelebihan di tengah keterbatasan itu. Mungkin mereka terbatas secara fisik, tetapi hatinya bisa sangat jembar, seluas samudera. Matanya mungkin bisa buta, tetapi hatinya melihat dengan terang.  Maka sungguh sulit diterima akal sehat, jika ada orang yang mencaci seorang tuna netra: “buta mata, buta hati.”

Oleh : Syamsurijal

Editor : Syahrul

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here