Boleh Memberi Hadiah Kepada Guru, Bukan Suap

0
253

Pada dasarnya hukum memberi hadiah dalam syariat Islam boleh dan berpahala. Ini merupakan anjuran Nabi dan dipandang sunnah. Hadis riwayat Imam Bukhari, Nabi saw menyebutkan :

تهادا تحابوا

“Saling berbagi hadiahlah agar kalian saling mencintai.”

Hadis ini bermakna umum, bahwa semua bentuk hadiah dan kepada siapapun diberikan tidak dilarang dan justru dianjurkan, selama ditujukan sebagai pengungkapan rasa cinta dan silaturrahim, bahkan kepada orang tua sekalipun.

Rasulullah saw tidak pernah menolak hadiah, bahkan dari non muslim pun beliau menerimanya, seperti hadiah dari Raja Mesir yang bukan muslim yang memberinya hadiah kuda, dokter dan budak wanita. Dalam satu hadis juga diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi berkata :

 لو أهدي إلي بزراع أو كراع لقبلت

“Seandainya aku diberi hadiah (daging kambing) kaki bawah atau paha atasnya maka saya akan menerimanya.”

Kalau Nabi saja tidak menolak hadiah, apalagi kita guru-guru.Ungkapan ulama di beberapa postingan konteksnya hukum pemberian hadiah kepada amil zakat di luar yang diperolehnya dari baitul mal atau pegawai yang ditanggung negara dan bertugas melayani kebutuhan orang banyak, di mana jika dia diberi hadiah oleh seseorang akan berpotensi membuatnya berlaku tudak adil atau membeda-bedakan orang-orang yang dilayaninya. Dengan kata lain, mengistimewakan orang yang memberinya hadiah saat memberikan pelayanan umum. Memberi hadiah dalam konteks ini diharamkan

Risywah (suap atau sogokan) itu berbeda dari hadiah. Hadiah didasarkan pada rasa penghargaan, terima kasih dan menguatkan hubungan baik. Risywah itu tujuannya mengalihkan keadilan dan mengambil hak orang lain, atau ada hak orang lain terhalang akibat pemberian itu. Hadiah yang diberikan sebelum keputusan atau penilaian dan ditujukan utk mempengaruhi hakim, atau pejabat atau guru itulah risywah. Tapi jika hadiah diberikan setelah keluarnya keputusan dan penilaian atau dianggap tidak berpengaruh pada sikap seorang hakim kepada terdakwa atau guru kepada siswanya, maka itu bukan risywah, tapi hadiah yang berpahala.

Profesi guru pendidik berbeda dari karyawan, hakim atau pejabat yang memiliki kewenangan mengambil keputusan dan terkait hak hajat orang banyak. Guru berhubungan dengan pembentukan kepribadian siswa dan memiliki relasi kejiwaan dengan anak didiknya. Pemberian hadiah kepada guru oleh siswa yang merasa telah diperbaiki dan dicerdaskan adalah lumrah dan tidak ada pihak yg dirugikan. Orang tua yg merasa telah dibantu oleh guru untuk mendidik anaknya sangat wajar berterima kasih dan memberi hadiah ala kadarnya secara suka rela.

Syekh Al Zarnuji, pengarang kitab Ta’limul Muta’allim, mengatakan bahwa jika ada orang menginginkan anaknya berhasil dalam belajarnya dan ilmunya berkah, maka hendaknya memberi sesuatu kepada guru anaknya. Cinta dan kasih sayang guru sangat berpengaruh kepada keberhasilan anak didik.

PW NU SULSEL

Pada prinsipnya, hukum itu tergantung pada syarat, sebab dan mani’ (penghalang). Guru tidak boleh meminta atau memerintahkan pemberian hadiah kepadanya, walaupun dengan isyarat, karena itu indikasi risywah. Jika guru yang bersangkutan tidak menjamin dirinya tidak terpengaruh oleh hadiah orang, maka haram baginya menerima hadiah. Lebih-lebih jika “ada konspirasi jahat” antara orang tua dan guru, maka keduanya berdosa. Namun, jika tidak ada niat buruk atau indikasi kecurangan dan ketidakadilan akibat hadiah itu maka hukumnya boleh diberikan dan diterima.

Jika pimpinan atau atasan melarang menerima hadiah dalam bentuk aturan yg bersifat umum, maka guru harus mentaati aturan tersebut, tapi bukan dalam arti hadiah kepada guru itu mutlak diharamkan. Intinya, jangan meminta dan jangan mau dipengaruhi oleh hadiah dari manapun dalam membuat keputusan. Tapi jika tujuannya sebagai penghargaan dan ungkapan terima kasih (diserahkan di akhir) maka boleh diterima.

Wallahu a’lam

AG. KH. Afifuddin Harisah, Pimpinan Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here