Responsibility dalam Kepemimpinan: Perlukah?

0
305
Abdullah Kader PMII Rayon Syariah dan Hukum, Komisariat UIN Alauddin, Cabang Gowa

Oleh : Abdullah (kader PMII Rayon Syari’ah dan Hukum, Cabang Gowa)

Mendengar kata Kepemimpinan rasanya tak asing lagi ditelinga kita. Kata tunggal ini yang seringkali bahkan selalu dilekatkan pada diri setiap orang sebab diketahui bersama bahwa manusia itu sendiri diciptakan oleh Sang Maha Kuasa di muka Bumi ini tidak lain sebagai khalifah atau yang disebut Pemimpin. Kepemimpinan berasal dari kata dasar pemimpin yang artinya orang yang memimpin.

Berkenaan hal diatas. Hal utama yang perlu dimiliki oleh setiap orang sebagai Pemimpin adalah Responsibility atau konsep tanggungjawabnya. Olehnya itu menurut penulis, Konsep Responsibility ini sangat diperlukan bahkan wajib ada dalam kepemimpinan setiap orang. Entah itu kepemimpinannya dalam hal rumah tangga, kepala daerah atau ketua Instansi bahkan dalam hal diri sendiri. Semuanya perlu memiliki konsep ini (tanggung jawab) dalam kepemimpinannya.

Lebih jauhnya lagi, menurut penulis: “bicara tentang konsep Responsibility atau konsep tanggungjawab tidak dapat dipungkiri memang hal tersebut sangat diperlukan di ranah kepemimpinan. Sehingga dikatakan Kepemimpinan jika tanpa adanya tanggung jawab ini didalamnya maka kepemimpinan tersebut bisa bersifat otoriter (sewenang-wenang) sebab tidak adanya rasa tanggungjawab pemimpin terhadap apa yang dipimpinnya dan tidak ada pula rasa malu seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya.”

Mendapati pemimpin semacam ini tentu semua orang tidak menginginkannya. Tidak ada seorangpun yang mau pemimpinnya bersikap sewenang-wenang pada bawahannya dan akhirnya pemimpin seperti ini hanya akan memberikan penderitaan bukan malah kesejahteraan.

Menurut penulis bahwa pada dasarnya konsep Responsibility adalah sebuah prinsip abstrak mengenai tanggungjawab seseorang dalam menjalankan apa yang diamanahkan pada dirinya. Konsep Responsibility ini juga merupakan konsep berpikir dalam setiap apa yang menjadi tanggungjawab seseorang terhadap sesuatu.

Menurut Dr. Antonius Alijoyo, ERMCP, CERG selaku ketua dewan pengarah the Institute of Compliance Professional Indonesia (ICoPI) dalam websitenya icopi.or.id ia mengatakan bahwa “Responsibility berasal dari kata latin ‘responsus’ yang awalnya digunakan untuk pemberian makna adanya kewajiban moral dalam menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada seseorang. Hal ini memberikan konotasi adanya internalisasi dari suatu kewajiban atau rasa kepemilikan pribadi dari suatu penugasan. Gagal menyelesaikan penugasan dari kewajiban tersebut menjadi dasar dari adanya rasa malu dan bersalah.”

Disisi lain ada pula yang mengatakan bahwa Responsibility berasal dari bahasa latin ‘responsum’ yang memiliki arti akhirnya yaitu berjanji, terikat atau bisa diartikan sebagai mengikutsertakan. Dari arti kata Responsibility tersebut telah menunjukkan bahwa konsep Responsibility ini memiliki peranan penting.  Olehnya itu menurut penulis bukan hanya perlu adanya konsep Responsibility dalam kepemimpinan kepala daerah namun bahkan wajib hukumnya bagi setiap orang lebih terkhusus mereka yang diamanahkan jadi ketua instansi memiliki konsep atau prinsip Responsibility ini dalam kepemimpinannya.

Menjadi harapan tersendiri memiliki Pemimpin berkonsep Responsibility. Misal dalam Pemilihan Ketua PB PMII kedepannya yang dimana nantinya kita akan memilih siapa yang akan jadi ketua dan tentu diharapkan ketua tersebut punya prinsip Responsibility berupa tanggungjawab dalam kepemimpinannya sehingga roda organisasi PMII ini berjalan dengan baik.

Pemimpin yang memiliki konsep tanggung jawab sudah barangpasti akan menjadi pemimpin yang ideal sebab rasa tanggungjawab adalah bagian utama dalam kepemimpinan. Dengan adanya rasa tanggung jawab yang melekat pada diri seorang pemimpin maka pemimpin tersebut akan selalu berhati-hati dalam urusan kepemimpinannya. Ia akan lebih teliti dan cermat apa yang diperbuat. Ia yakin bahwa setiap amanah harus dipertanggungjawabkan dihadapan bawahannya terlebih pertanggungjawaban dalam hal ketuhanan. 

Kembali penulis tegaskan bahwa tanpa adanya konsep Responsibility ini dalam kepemimpinan maka akan sangat mudah pemimpin tersebut bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya dan bersikap tidak peduli (apatis) soal kesejahteraan yang menjadi tujuan bersama.

PW NU SULSEL

Lalu pertanyaannya, bagaimanakah menilai bahwa Pemimpin itu memiliki konsep tanggungjawab (Responsibility)? Terkait pertanyaan tersebut, menurut penulis ada banyak cara yang dapat kita lihat. Beberapa diantaranya yaitu:

Pertama, dari segi bagaimana calon pemimpin tersebut caranya ber-etika. Artinya ia tidak membeda-bedakan sikapnya: entah itu atasan, bawahan, rakyat kecil, kawan dan lain-lain. Ia terlihat santai dan tetap bersikap sopan kepada siapa saja yang ia hadapi.

Kedua, kita dapat melihatnya dari seberapa besar kepeduliannya terhadap sesama.  Maksudnya, pemimpin yang berkonsep Responsibility maka ia akan peka dengan keadaan sekitar sehingga dalam kondisi dibutuhkan tanpa diminta ia segera memenuhi kebutuhan tersebut. Misal disuatu tempat dibutuhkan bantuan tenaga untuk perbaikan fasilitas, tanpa diminta Pemimpin tersebut akan segera mengirim bantuan tenaga mesin atau alat bantu untuk perbaikan jalan tersebut.

Kemudian ketiga yang sekiranya menurut penulis paling penting yakni kita dapat melihat dari segi apa yang diucapkan atau dijanjikannya segera ia tunaikan. Pemimpin seperti ini akan segera ia penuhi ucapan janjinya tersebut. Ketika ia mengatakan bahwa ia akan lakukan besok maka ia tepati ucapannya tersebut. Keesokannya ia lakukan hal tersebut tanpa berpikir dua kali.

Demikian uraian tentang konsep Responsibility yang pada akhirnya penulis katakan bahwa konsep Responsibility ini sangat diperlukan dalam Kepemimpinan setiap orang lebih terkhusus lagi bagi mereka yang menjadi Pemimpin disuatu Instansi

editor : Syahrul

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here