Pertanian Alami Berbasis Lokal Desa dalam Perspektif Teologis

0
480
Ilustrasi (dara.co.id)

Pertanian Alami Berbasis Lokal Desa adalah sistem pertanian yang menyandarkan kerja-kerja pertanian pada alam semesta dengan mengharapkan keridhaan Allah SWT sebagai sang Maha Kehendak atas segala apa yang ada di muka bumi. Hal tersebut diperkuat oleh landasan teologis tentang pertanian sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran dan Hadits, di antaranya yaitu Surat Yasin ayat 33, yang Berbunyi :

وَءَايَةٌ لَّهُمُ ٱلْأَرْضُ ٱلْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَٰهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ

Artinya : Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.

Surat an Nahl ayat 10-11, yang Berbunyi :

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً ۖ لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

Artinya: Dialah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.

يُنۢبِتُ لَكُم بِهِ ٱلزَّرْعَ وَٱلزَّيْتُونَ وَٱلنَّخِيلَ وَٱلْأَعْنَٰبَ وَمِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Surat al An’am ayat 99 yang Berbunyi :

وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَىْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا وَمِنَ ٱلنَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّٰتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَٱلزَّيْتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَٰبِهٍ ۗ ٱنظُرُوٓا۟ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثْمَرَ وَيَنْعِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكُمْ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Yang Artinya: Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

PW NU SULSEL

Dari ayat-ayat tersebut jelas memberi pesan khusus tentang Pertanian. Ayat pertama diakhiri dengan kalimat “Tidakkah kalian bersyukur”, ayat kedua ditutup dengan “Tidakkah kalian berfikir”, dan ayat ketiga diakhiri dengan “Tidakkah kalian beriman”. Jika deretan ayat diurutkan, terkandung pesan khusus tentang pertanian. Dari ketiga ayat tersebut, menunjukkan bahwa para petani dituntut untuk meyakini bahwa Allah SWT yang menyediakan irigasi alami berupa air hujan dan karenanya kehidupan berlangsung dengan rantai makanan untuk makhluk hidup, sehingga berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karenanya, petani harus memiliki keyakinan dalam bertani bahwa hanya kuasa Allah yang menumbuhkan segala jenis tanaman.

Dan hal tersebut dijelaskan juga melalui Hadist Nabi yang diriwayatkan Al Bukhari dan Ahmad sebagai berikut:

“Tidaklah seorang muslim yang berkebun dan bertani, lalu ada burung, manusia atau hewan yang memakan darinya kecuali bernilai sedekah bagi muslim tersebut.”

Oleh karena itu, seyogyanya para petani tidak boleh atas dasar memburu hasil pertanian yang melimpah lalu merusak Alam, karena akan membuat siklus alam kita akan rusak , misalnya dengan menggunakan zat kimia yang berbahaya bagi keberlangsungan alam. Maka, tidak heran kalau kemudian tanaman menjadi rusak dan membuat hama tidak terkendali sebab keseimbangan alam yang terganggu.

Allah SWT dalam Al-Quran memberikan peringatan kepada kita yang berbunyi :

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. – (Q.S Al-A’raf: 56)

Penekanan larangan merusak dan mengeksploitasi alam tanpa memperhatikan pelestarian Alam ditegaskan dalam surat Ar Rum ayat : 41-42 berikut ini:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ (42)

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”

Menjadi tugas kita semua sebagai kaum tani yang ada pada garda terdepan , yang berhadapan langsung dengan bumi-Nya Allah SWT untuk memberikan perawatan dengan memperbaiki kerusakan yang sudah sekian puluh tahun kita lakukan tanpa kita sadari dengan menumpahkan racun dan zat kimia ke dalam tanah. Alhasil, itulah yang menyebabkan pertanian kita hari ini mengalami masalah yang luar biasa. Tanaman menjadi sangat susah untuk disuburkan dan tidak memberikan hasil yang baik. Dan hal tersebut sesungguhnya Allah SWT telah memberikan penegasan kepada kita semua di dalam Al-Quran Surat Al Araf Ayat 58 yang berbunyi :

وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦ وَٱلَّذِى خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدًا كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلۡءَايَٰتِ لِقَوۡمٍ يَشۡكُرُونَ

Artinya : Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.

Melalui tulisan ini, kami mengajak kepada seluruh saudara-saudaraku agar kembali menyadari semua kekeliruan kita di dalam bertani, dengan berupaya keras mengembalikan kesuburan tanah agar keseimbangan ekosistem terjaga dan tanah kita kembali berproduksi dengan baik. Pilihannya, kita bertani dengan selaras alam, bertani tanpa merusak alam sekitar kita dengan menggunakan nutrisi penyubur tanah dan tanaman yang bersumber dari alam di mana kita bermukim. Dengan begitu, tanah akan kembali sehat dan siap memberikan asupan makanan/nutrisi yang sehat terhadap tanaman kita. Selain itu, senantiasa berserah diri kepada Allah bahwa segala sesuatunya sesungguhnya atas ketetapannya. Berhentilah bergantung pada zat kimia dan seolah hanya dengan itu tanaman bisa tumbuh dengan baik, karena sesungguhnya ketika hal tersebut terjadi maka kita secara tidak sadar mengganti posisi Tuhan sebagai sang maha kehendak. Dan hal itulah yang membuat keberkahan hasil pertanian kita menjadi hampa.

Jadi mulai hari ini kita kembali ke Natural Farming/Pertanian Alami dan sekaligus meletakkan segala sesuatu yang dilakukan mulai dalam proses pengolahan lahan, menanam sampai memanen harus memohon ridha dari Allah SWT.

Sumarno Paheruddin Tika, Ketua persaudaraan petani nusantara

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here