Kurban: Ketaatan, Keikhlasan, dan Perayaan

0
148
Ilustrasi (NU Online)

Hingga hari ini pendapat masih terbelah. Siapa sejatinya yang dikurbankan Ibrahim? Ismail atau Ishaq? Al-Qur’an tidak secara terang benderang menyebutkan siapa di antara dua anak Ibrahim itu yang dikurbankan.

Perbedaan pendapat tentang siapa yang dikurbankan oleh Nabi Ibrahim as, telah terjadi di kalangan sahabat.  Abdullah bin Abbas dan Abu Hurairah, misalnya, menyatakan bahwa Ismail yang dikurbankan. Sementara Umar bin Khattab dan Abbas bin Abdul Mutthalib menyebut Ishaq-lah yang nyaris dikurbankan.  Perbedaan pandangan itu tergambar dalam beberapa kitab tafsir, misalnya Tafsir Al-Kabir karya Fakhruddin al-Razi atau pun dalam Tafsir al-Qurthubi.

Namun, seperti (konon) dikatakan Gusdur, tidak penting siapa yang nyaris dikurbankan. Terserah mau Ismail atau Ishaq, toh pada akhirnya yang jadi kurban adalah seekor kibas (sejenis domba). Saya setuju dengan pandangan setengah bercanda ini. Yang paling penting dari segala sisik melik berkurban ini, bukan ‘siapa’, tetapi ‘mengapa’ harus berkurban.

Peristiwa kurban dalam Al-Qur’an surah as-Shaffat ayat 102-107 digambarkan begitu dramatis. Pertama kali saya membaca peristiwa itu dengan membaca terjemahan Al-Qur’an versi Departemen Agama. Ketika itu saya masihlah seorang kanak-kanak yang belum paham, bahwa kurban  ini menjadi syariat Ibrahim yang dilanjutkan oleh nabi-nabi sesudahnya. Tetapi kisah itu begitu mencengkau perasaan. 

Kendati kala itu saya hanyalah bocah yang tidak mengerti apa-apa, tetapi saya sudah merasakan satu pengorbanan yang tak tepermanai. Saya bisa mencecap sosok Ibrahim, seorang ayah yang keikhlasan dan cintanya tak bertakar kepada Allah. Lalu ada pula seorang anak yang saleh dan taat pada Allah dan orang tua. Serta seorang ibu yang tabah dan sabar atas satu perintah, seberat apa pun perintah itu. 

Saya ingin mengulang kisah dramatis yang tergambar dalam surah as-Shaffat tersebut dengan parafrase yang berbeda, berikut ini:

Ibrahim as, telah lama menanti kehadiran seorang anak.  Buah hati yang dirapalkan dalam hati di setiap sujudnya. Yang namanya selalu disebut-sebut dalam munajat di senyapnya malam. Yang didoakan lirih bahkan tak jarang dengan sedu-sedan tak tertahankan. Doa pun  terkabul. Si buah hati telah hadir di tengah-tengah mereka. Manakala Sang kinasih beralih rupa menjadi bocah menawan nan menggemaskan. Perintah Allah pun jatuh.

Tiga kali mimpi mendatangi Ibrahim. Mimpi tentang keharusan Ibrahim mengurbankan buah hati kinasihnya. Mimpi yang tak sekedar bunga tidur, tetapi sebuah isyarat perintah dari Tuhan. Ibrahim pun menghampiri sang  anak. Sekali lagi Ibrahim menatap buah hatinya. Ditelannya sedih yang membuncah dalam batinnya. Pilu yang sempat merasuk pikiran, ditekan hingga sirna. Allah di atas segalanya. Tak secuil rasa yang bisa mengusik keikhlasan dibiarkan mengapung di sanubarinya. Dengan lembut Ibrahim pun menyampaikan perintah Allah.

“Wahai anakku sungguh aku melihatmu dalam mimpi,  aku diperintahkan Allah mengurbankanmu, lantas bagaimana kiranya menurut hematmu?”.

Sang Anak balas memandang ayahnya. Mata indahnya bergemerlap gembira. Tak ada sedih membayang di raut polosnya, padahal maut hanya selangkah lagi di depannya.  Dengan ketenangan yang menawan,  sang anak berucap:

“Lakukanlah wahai ayahandaku, perintah Tuhan yang jatuh padamu. Insyaallah engkau akan menjumpaiku bagian dari orang yang sabar. Golongan orang-orang yang tegak dalam ketaatan”

PW NU SULSEL

Berita tentang jatuhnya perintah Allah untuk menyembelih sang anak, sampai pula di telinga ibunya. Hati ibu mana tak akan tersayat, jika mendengar sang anak akan dikurbankan. Apalagi sang anak ibarat bumi langit bagi si Ibu. Separuh jiwa dan belahan hati. Dzurriyah yang paling dinanti. Tetapi begitu tahu ini perintah Allah, semua sedih bagai kemarau setahun pupus oleh hujan sehari. Ketabahan sang ibu menerima perintah ini kokoh bagai akar yang menghunjam dalam ke tanah. Bergeming, meski sang  Iblis merayu berulang kali.

Detik demi detik, menit dan jam pun berganti. Siang memudar dirampas sore, waktu sore pun ditelan senja dan senja bertekuk lutut di pintu malam.

Demikianlah titimangsa berjalan sesuai kodratnya. Tak terasa sampailah waktunya peristiwa mencengangkan ini. Seorang anak tercinta akan dikurbankan. Disembelih hidup-hidup di atas altar ketaatan.

Langit terkuak. Allah mempersilahkan para malaikat menyaksikan ketaatan seorang manusia pada Tuhannya. Bukan hanya malaikat,   alam pun turut serta menyaksikan.

Ketika itulah sang anak berpesan pada ayahnya. “Wahai ayahanda, asahlah pedangmu setajam-tajamnya agar engkau bisa segera menyembelihku dengan cepat, supaya tak ada raut kesakitan di wajahku. Aku khawatir jika ada selarik kesakitan di parasku , ikhlasmu akan ternoda. Palingkanlah mukamu dari wajahku, agar tak terbit belas kasihmu. Tanggalkanlah bajuku, agar nanti bekas darahnya tak membuat ibu dan engkau bersedih yang menjadi lantaran  terbit penyesalan kelak di kemudian hari”.

Kalimat itu meluncur tenang dari mulut sang anak. Ibrahim pun memastikan bahwa semua perkataan anaknya, itulah yang akan dilakukannya. Pedang diasah setajam-tajamnya. Andai pedang itu diayunkan ke sebongkah batu, niscaya akan terpotong, karena tajamnya. Pedang kuat nan tajam itu pun diletakkan di leher Ismail. Sepenuh tenaga pedang itu ditekan ke leher sang anak, lalu secepat kilat ditarik. Tapi setajam apa pun pedangnya, sekuat bagaimana pun Ibrahim mengayau leher sang anak, namun tak segores luka pun yang timbul.

Menyaksikan itu alam terpesona. Gunung tegak dalam senyap, pepohonan terdiam, angin serasa berhenti bertiup. Mereka tercekam menyaksikan ketaatan yang luar biasa. Di langit bergemuruh. Malaikat pun dicengkau pesona ketaatan yang memukau dari  hamba yang bernama Ibrahim dengan Sang Anak.  Di tengah kesunyian yang memesona itu, Terdengarlah suara :

“Pandanglah baik-baik! Saksikanlah ketaatan hambaku yang bernama Ibrahim dan anaknya itu! Tidakkah pantas kepadanya aku sematkan gelar khalilullah?”  Diam! Suasana masih dipeluk oleh pesona ketaatan. Tapi malaikat tak ada lagi yang meragukan gelar Ibrahim. KHALILULLAH. Allah pun menyuruh Jibril mengganti korban Ibrahim yang merupakan anaknya sendiri dengan seekor kibas.

***

Kisah profetik itu telah berlangsung ribuan atau bahkan puluhan ribu tahun yang lalu, tetapi selalu saja akan terasa getarannya jika kita membacanya kembali hari ini. Hanya saja apakah prosesi kurban yang kita lakukan hari ini berada dalam altar keikhlasan dan pengorbanan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, beserta anak dan istrinya?

Pertanyaan ini sulit untuk segera kita jawab. Tetapi yang pertama-tama terlihat dari banyak prosesi kurban hari ini adalah perayaan.  Di mana-mana, saat hari raya Idul Ad’ha dan tiga hari sesudahnya akan selalu ada perjamuan. Konro, sup, sate bakar, gulai kambing melengkapi segenap perjamuan itu. Sering kali dilakukan di rumah bersama keluarga, di kantor atau di mana saja.

Tidak ada yang salah dengan perayaan itu. Binatang yang dikurbankan memang untuk dimakan bersama. Tentu dengan catatan, bahwa dalam perjamuan itu, orang miskin, anak yatim dan mereka yang selama ini dianggap orang lemah, ikut serta di dalamnya. Di hari Idul Ad’ha itu mereka ikut merasakan nikmatnya sate kambing, lezatnya gulai sapi dan gurihnya konro.

Setelah bicara soal perayaan itu, mari kita melangkah ke anak tangga yang lebih tinggi. Mari kita bicara soal pengorbanan, ketaatan, keikhlasan dan kecintaan pada Allah. Apakah setelah kita berkurban sapi atau kambing, yang mungkin tiap tahun kita lakukan, adakah muncul arti pengorbanan dalam jiwa kita? Atau berkurban itu kita rasakan hanya semacam arisan. Tiap bulan kita cicil, lalu setelah genap setahun kita nikmati hasilnya dengan perjamuan.

Bisakah setelah berkurban hewan kita sanggup pula berkurban perasaan demi kepentingan orang banyak dan demi kemaslahatan bersama? Mengorbankan perasaan rindu pada sanak kadang dan handai tolan di kampung. Dua hari raya tidak bersua, demi menjaga agar tidak terjadi penularan virus covid-19.  Bisa pulakah kita mengorbankan seluruh rasa sayang pada seseorang, karena dia memang tidak ditakdirkan untuk kita?

Bisa pulakah setelah berkurban, lalu muncul rasa ikhlas dalam diri kita. Ikhlas jika dalam satu kontestasi politik harus kalah, ikhlas jika harapan tidak terpenuhi dan ikhlas jika harus kehilangan sesuatu yang dicintai.

Puncak dari semua ini adalah, bagaimana cintamu pada Sang Pencipta, setelah kurban engkau gelar? Adakah hatimu masih dipenuhi cinta terhadap harta, terhadap materi dan terhadap dunia? Ataukah cinta itu kini dipenuhi oleh kecintaan pada Dia Sang Maha Cinta ?

Sekali lagi, seluruh pertanyaan itu tidak mudah untuk dijawab. Karena itu mari kita berkurban binatang, lalu dagingnya kita makan bersama. Tetapi jangan lupa bertanyalah terus pada diri kita masing-masing soal arti pengorbanan, keikhlasan, ketaatan dan cinta. Siapa tahu nanti akan ketemu jawabannya. 

Syamsurijal Ad’han, Ketua PW LTN NU Sulawesi Selatan

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here