Kali Sidenreng

0
236

Jelang siang yang terang di akhir 80-an silam, saya yang sedang bermain dengan teman di dekat rumah, tiba-tiba dipanggil ibu. “Ayo mandi, bersiap-siap, ke pesantren (maksudnya, PPUW). Bapakmu sudah siap sedari tadi”, kata ibu. Dua pekan sebelumnya, saya diantar Bapak ke pondok itu mendaftar sebagai calon santri baru. 

Hari itu, hari di mana santri-santri baru mulai masuk pondok. Cukup ramai pondok itu, santri baru tercatat lebih dari 500 orang. Pengelola pondok, sampai kewalahan membagi jatah asrama setiap santri. Kala itu, para santri baru harus antri menanti di asrama berapa ia ditempatkan. 

Santri baru itu, diantar orang tua dan sanak famili masing-masing. Ada yang diantar dengan kendaran pribadi, ada pula dengan angkot (pete-pete) seperti diriku. Bahkan ada yang diantar dengan mobil truk – pertanda orang tua sang santri pedagang pupuk atau juragan gabah. 

Beragam ekspresi santri saat orang tua mereka beranjak kembali ke rumah. Ada yang tersenyum, tertegun, hingga meneteskan air mata. Alasannya sederhana; untuk pertama kalinya selepas SD kami pisah rumah dengan orang tua. Dan barangkali karena ini, sejumlah santri kabur dari pondok itu gegara tak kuasa hidup terpisah dengan keluarganya. 

Tetapi, saya memilih bertahan dengan spirit dari kedua orang tua, bahwa “Di sana (PPUW) kamu segera paham agama, dan mengerti kehidupan”. 

***

Begitulah kisah sejengkal fase awal saya menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqaa (PPUW). Enam tahun lamanya saya bertahan di pondok ini belajar dan bergaul. 

PPUW adalah salah satu pesantren sepuh di Sulawesi Selatan. Didirikan oleh seorang ulama kharismatik, KH. Abd. Muin Yusuf (Kali Sidenreng; 1920-2004). Pesantren ini didirikan pada bulan April 1974, di atas lahan delapan hektar (sebagian tanah waqaf).

Sebelum mendirikan pesantren ini pada 1971, KH. Abd. Muin Yusuf aktif di Partai Nahdlatul Ulama. Dan tak lama kemudian, ia menjadi Ketua Tanfidziyah. Di bawah kepemimpinannya, NU berhasil tumbuh beserta badan otonominya seperti IPNU/IPPNU, GP Ansor, dan Fatayat NU. Pemilu 1971, ia tercatat sebagai anggota DPRD Sidrap dari partai NU. Di tahun 1980-an, ia menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, selama dua periode (1985-1995).

Jarak pesantren ini kurang lebih tiga kilometer dari kota tua, Rappang. Pesantren ini cukup populer di kawasan Sidrap dan sekitarnya. Tak heran bila santrinya berasal dari berbagai kabupaten luar Sidrap seperti kabupaten Pinrang, kota Parepare, Soppeng, Wajo, Luwu, dan Enrekang. Tetapi ada pula santri berasal dari Mamuju, bahkan dari provinsi Kalimantan Timur. 

Di zaman itu, pesantren ini cukup tersohor. Setiap tahun di pesantren ini menerima hampir ribuan santri. Latar belakang santri bervariasi, mulai anak petani hingga anak pegawai negeri/pejabat, dan saudagar.

PW NU SULSEL

Puluhan tenaga pendidik mengabdi di pondok ini. Beberapa di antara mereka berstatus PNS (khususnya Depag), sebagian lainnya direkrut dari alumni pondok yang telah tamat S1 di Perguruan Tinggi agama (Islam) dan umum. Sebagian lagi juga alumni pondok yang sukses meraih gelar sarjana di Mesir (bergelar Lc). Kurikulumnya, memadukan kurikulum “petunjuk” Depag-Diknas dan kurikulum khas pesantren tradisional. 

Tenaga pendidik berlatar belakang PNS digaji oleh pemerintah, sementara tenaga pendidik non-PNS diupah dari pembayaran sumbangan santri dan usaha produktif pondok. Di awal tahun 1990-an, pondok ini mengelola peternakan ayam ras petelur puluhan ribu ekor. Hasil usaha produktif ini, sebagiannya dialokasikan untuk membayar gaji pendidik (ustad/ustadzah) non-PNS. 

Di bulan Ramadhan, santri pondok mengemban misi terjun ke masyarakat menjadi da’i di masjid-masjid, khususnya di kawasan pelosok di beberapa kabupaten. Karena itu, sepekan sebelum bulan Ramadhan tiba, di pondok ini diadakan pelatihan khusus untuk membekali santri keterampilan ceramah agama, khas bahasa Bugis. Jadi disini, khazanah Islam dan lokalitas sangat mencolok. 

Khazanah Islam dan lokalitas di pesantren ini memang cukup kental. Pendiri dan Pemimpin pesantren ini, KH. Abd. Muin Yusuf (Kali Sidenreng) mengajarkannya. Dalam berdakwah di tengah masyarakat, Anregurutta senantiasa menggunakan bahasa Bugis kental. Metode ini ditempuh agar masyarakat mudah mencerna bahasa agama yang didakwahkan. 

Dengan itu, Kali Sidenreng dikenal sebagai ulama yang mampu memadukan Islam dan lokalitas dalam menyampaikan pesan-pesan agama. Bahkan, bukan hanya dalam berdakwah, dalam produksi teks keagamaan pun, khususnya tafsir Al Quran, Anregurutta Kali Sidenreng pun memadukan Islam dan lokalitas (Bugis). Buktinya, pada tahun 1985 ia memulai menulis tafsir Al Quran berbahasa Bugis. Pada tahun 1994, tafsir ini usai dikerjakan.

Dan hari ini, tepat 16 tahun sudah Anregurutta Kali Sidenreng berpulang (23 Juni 2004). Kita mengenangnya bukan hanya sebagai tokoh agama, atau ulama. Tetapi ia sesungguhnya seorang wali Bugis kharismatik. Ilmu agamanya dipanuti, lakunya diikuti, sosoknya disegani. Alfatihah.

Abdul Karim, Sekretaris PW Lakpesdam NU Sulsel

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here