Pengantar Sahur

0
221
Ilustrasi (Tim kreatif LTN NU Sulsel)

Sahur terakhir. Begitu kata kunci sebagian unggahan status yang mengular di linimasa media sosial. Dua frasa yang juga ramai keluar dari nasehat pendakwah di televisi swasta. Kalimat pendek yang bikin hampir semua umat muslim bergetar hatinya, sebab akan segera merindu hampir setahun lamanya. Yaps, sahur tadi adalah sahur terakhir di Ramadan kali ini.

Sahur bukan sekadar sunnah puasa belaka. Sahur adalah peristiwa kebudayaan yang memuat penanda yang saling berkait kelindan. Salah satunya ialah bunyi. Tanpa bunyi, sahur hanyalah sunnah yang kering, hampa, dan hambar dari sebuah makna. Bunyi pengantar sahur meromantisir Ramadan, mengajak pelakunya melantunkan ibadah panjang dengan khidmat, sejak dari terbitnya fajar hingga terbenamnya di ufuk barat.

***

Kebanyakan dari kita mengfungsikan alarm lebih sering ketimbang biasanya di kala ramadhan. Bagi mereka yang jarang terbangun di sepertiga akhir, alarm cukup berguna mengagetkan dari mimpi. Terutama bagi anak kos a.k.a perantau yang hidup sendiri dan batal pulang karena pandemi, alarm adalah sebaik-baiknya pengingat – tentu saja posisinya jauh di bawah Tuhan. Kadang kala, alarm berbunyi sampai berulang, supaya sang tuannya terbangun. Meskipun bikin jengkel, tanpa alarm, sahur bakal berakhir bersama segelas air putih sahaja.

Alarm sama sekali tak berguna jika letak rumah hanya sepelemparan batu dari masjid. Bagaimana tidak, suara marbot masjid yang membangunkan warga dari tidur akan lebih nyaring kedengaran. Bahkan, bunyi kresek amplifier masjid yang baru disetel saja sudah bisa membuyarkan mimpi. Untuk marbot yang setia membangunkan sahur, banyak terima kasih perlu dihaturkan. Sebab, merekalah yang bangun lebih awal, sahur lebih dulu, dan mewakafkan dirinya agar orang di sekitar masjid tak keburu dikejar imsak.

Nah, ada beberapa macam nada suara marbot masjid kala membangunkan warga di sekitar. Suatu waktu, bisa terdengar kaku. Hanya mengatakan, “sahur..sahur..sahur!!!” dengan volume lumayan keras. Ada juga yang melantunkan nyanyian khas sahur yang sangat akrab di telinga dan seringpula didendangkan oleh banyak orang. Nada ini pula akrab dibunyikan oleh sekumpulan remaja yang berkeliling kompleks demi mengingatkan orang bahwa waktu sahur telah tiba. Sayangnya, tradisi itu kiat surut hingga kini, terlebih di masa wabah corona.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengarkan nada “sahur” yang agak beda. Alunan “sahur” tersebut persis chant yang kerap bergemuruh di tribun stadion. Sebuah nyanyian penyemangat bagi mereka yang sedang berlaga di tengah lapangan, pun untuk yang berjingkrak-jingkrak menggetarkan bangku penonton.

Dari suaranya, ia terdengar seperti seorang remaja. Barangkali, ia mendendangkan nyanyian “sahur” dengan nada demikian, musabab kerinduan dirinya pada keriuhan tribun, sekaligus menghibur penikmat sepak bola yang lagi bersantap sahur. Di Jerman, ketika sepak bola tanpa penonton telah digelar kembali, saya meyakini bahwa para pesepakbola merasa kehilangan satu senyawa penting dalam sebuah pertandingan. Yaps, gemuruh nyanyian penonton di pinggir lapangan. Kerinduan yang sama kita alami, ketika bunyi pengantar sahur akan raib berganti Syawal.

Bunyi terakhir pengantar sahur yang bagi semua orang teramat syahdu di telinga, tentu saja ajakan ibumu untuk menikmati sahur. Tak banyak yang bisa mendengarkan suara itu secara langsung di tepi pintu kamar, di hari-hari krisis sekarang ini. Namun, phyisical distancing bukan berarti pembatas interaksi, sebab teknologi kian bersolek canggih. Suara ibumu bisa kamu dengar via telfon ataupun video call. Suara yang lembut atau kadangkala bernada omelan, tergantung kamu yang telat bangun ataukah tidak.

Jadi, selamat merindui bunyi pengantar sahur. Selamat Hari Raya Idul Fitri sahabat-sahabat!

Andi Ilham Badawi, Redaktur pwnusulsel.or.id

PW NU SULSEL
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here