Apang Bugis dan 15 Ramadan

0
474
Ilustrasi (Tim Kreatif LTN NU Sulsel)

Ramadan adalah bulan yang penuh dengan kemuliaan. Di antara banyak kemuliaannya adalah sebagai bulan penuh rahmat, bulan penghapus dosa, dan bulan pengampunan. Seperti yang disebutkan dalam hadits :

اول شهر رمضان رحمة، واوسطه مغفرة، واخره عتق من النار

Artinya: Permulaan bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan penghujungnya adalah pembebasan dari api neraka.

Ramadan selalu identik dengan tradisi-tradisi. Hampir setiap Ramadan adalah momentum untuk merawat tradisi yang menjadi khas di tiap penjuru nusantara. Tak lain dan tidak bukan, tradisi tersebut menjadi bentuk tasyakur atas kehadiran Ramadan. Lebih tepatnya sebagai rasa syukur bisa merasakan kembali bulan yang penuh berkah. 

Di antara banyak yang menjadi kebiasaan, khususnya untuk di wilayah Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Barru, kue apang jadi tradisi untuk hari ke-15 Ramadan.

Kue berbahan dasar tepung beras ini, akan dibacakan doa salama’ (doa selamat) saat menjelang buka puasa, yang doa tersebut ditujukan untuk seluruh penghuni rumah. Pembacaan doa ini dipimpin oleh kiai kampung, atau tokoh agama setempat. 

Doa selamat ini dilakukan di tiap-tiap rumah. Setelahnya, akan dibawa ke mesjid untuk menjadi takjil bagi jamaah shalat maghrib. Bahkan, di hari itu, orang-orang saling bertukar kue apang antara rumah yang satu dengan rumah lainnya, sebagai bentuk persatuan dan suka cita pada pertengahan Ramadan.

Sedikit berbeda dengan Kabupaten Barru. Kue apang justru akan dihidangkan setelah shalat tarawih. Jadi, seluruh jamaah akan mencicipinya setelah shalat tarawih terlaksana. Alasan mengapa harus di masjid, kata masyarakat setempat, karena ketika memasuki pertengahan Ramadan mulai timbul rasa malas untuk tarawih. Dengan adanya hidangan tersebut, jemaah menjadi semangat lagi untuk memakmurkan mesjid. Namun di tengah pandemi Covid-19 ini, tradisi ini tak lagi dilakukan. Sebab berdasar kepada imbauan ulama dan umara, menerapkan social distance dan stay at home

Entah sejak kapan tradisi 15 Ramadan ini mulai. Namun masyarakat hanya mengatakan, “Ini hanya kami rawat, agar tidak lekang oleh zaman.”

Sebagiannya lagi mengatakan, “Yah karena dari kecil kita sudah rasakan tradisi ini, jadi kita hanya melanjutkan.” Artinya, tradisi 15 Ramadhan ini sudah menjadi bagian dari kebudayaan Islam, khususnya bagi dua daerah; Pangkep dan Barru.

Nama kue apang sendiri, istilahnya diambil dari bahasa Arab, yakni afuw, atau afwan artinya pemaafan, atau ampunan. Jadi, masyarakat secara tidak langsung mengartikan kue tersebut sebagai simbol pengharapan ampunan dari Allah SWT. Sebab, sepuluh malam pertengahan dari bulan Ramadan adalah maghfirah, ampunan. Seperti yang disebutkan pada hadits sebelumnya.

PW NU SULSEL

Haryanti Alwis, Alumni Madrasah Literasi LTN NU Sulsel

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here