Waktu Indonesia Mendengar Radio

0
286
Ilustrasi (Tim Kreatif LTN NU Sulsel)

Anak kandung media sosial lebih mengenal podcast. Akronim dari “ipod” dan “broadcast”, layanan siaran suara “on demand”. Podcast lahir seiring kelahiran iPod bikinan Apple medio 2001 silam. Podcast serupa youtube, semacam perpustakaan “suara” raksasa, tempat kita bebas memilih hiburan mana yang ingin didengarkan – mau sekali ataupun berulang kali. Ada musik, bincang politik, sepak bola, agama, hingga komedi. Pokoknya bebaslah, sesuai selera masing-masing. Kiwari, kanal podcast bisa dinikmati via spotify, anchor, google play music, dan masih banyak lagi.

Podcast bagian dari media baru. Jika ada yang baru, tentu saja ada yang lama. Dan layaknya perubahan, tak ada yang benar-benar baru di dunia ini. Apalagi teknologi, ia selalu berangkat dari penemuan sebelumnya. Letak perbedaannya, hanya pada tingkat efisiensi dan efektifitas. Olehnya, podcast adalah bagian revolusi dari radio konvensional. Prinsipnya sama; ada suara tiada gambar, ada penyiar tiada layar.

Sebagai media konvensional, radio perlahan kering penikmat. Namun, ia masih betah bertahan di tengah gempuran digitalisasi. Meski banyak pangkalan radio yang gulung tikar, tak sedikit yang mampu beradaptasi. Penikmatnya tetap ada, setia, dan terhibur. Itulah sebabnya, aplikasi Radio FM masih nongol di folder “alat” smartphone masing-masing. Nyatanya, radio masih dibutuhkan. Barangkali, ketika si empunya HP sedang fakir kuota. Hehehe

Radio adalah benda arkaik. Kini, usianya lebih satu abad, usai Guglielmo Marconi menemukan alat transmission dan receiver pada 1901. Di masa emasnya, radio duduk manis di bilik para kaya. Sebelum era televisi, hanya bangsawan desa yang mampu memiliki pesawat radio. Makanya, pesawat radio tombstone pertama di tanah air yang bermerek Philips seri 703 A dimiliki Sri Mangkunegara VII, penguasa Keraton Solo.

Melansir historia.id, pesawat radio itu merupakan pemberian dari Kompeni, sebagai bagian dari ujicoba siaran radio gelombang pendek dari Eindhoven, Belanda. Kemudi radio dipercayakan pada Ir. Sarsito. Si pemutar tuning yang akhirnya menemukan gelombang yang tepat, bikin masyarakat Solo jadi pendengar radio pertama di tanah air, pada 11 Maret 1927.

Dikisahkan pula, saking cintanya pada dunia penyiaran, Sri Mangkunegara VII merintis stasiun radio dan membeli pemancar tua. Stasiun itu digunakan untuk memutar dendang Jawa, sebagai bentuk perlawanan pada “budaya barat” dari antek kolonial.

Pendek kata, gelombang radio turut mempengaruhi frekuensi sejarah di negeri ini. Pidato proklamasi urung menjangkau wilayah luar Jakarta, jika tanpa kehadiran radio. Bahkan di masa revolusi (1945-1949), RRI bersama radio-radio perjuangan lain mengobarkan semangat juang. Salah satu peristiwa monumental yang memanfaatkan radio adalah gelora pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang didukung penuh lewat Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.

Kotak Suara Menjelang Berbuka

Sembilan ramadan kemarin. Selepas menyiapkan es buah, donat, dan panada, saya dilanda kebosanan tatkala menunggui waktu berbuka puasa. Kata orang, semakin dekat menitnya, semakin lama pula rasanya. Apalagi, saya sedang sendiri di rumah. Tak ada lawan bicara, kecuali layar yang berganti dari whatsapp ke youtube, pun sebaliknya.

Kesepian bikin saya rindu suasana di rumah. Selain karena urusan di kota belum selesai, ada larangan mudik bagi wilayah yang menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Belum lagi risiko jadi carrier tanpa gejala, membuat saya benar-benar belum punya rencana untuk mudik. Barangkali menjelang lebaran saja,. Sebab katanya, pulang kampung dibolehkan Presiden. Hehehe

Mengisi kerinduan, memecah kesepian, saya iseng memutar Radio FM di smartphone. Saya memilin ingatan, kapan terakhir kali mendengarkan radio. Yah, semakin jauh mengupas satu demi satu memori, momen itu hinggap di ramadan tahun kemarin. Ingatan saya menjangkau akan suasana menjelang buka puasa di kampung, kala televisi tak ada apa-apanya ketimbang radio. Di rumah, ibu akan rewel kalau ada yang menyalakan televisi menjelang berbuka. Kamu boleh bermain gawai sepuasmu, tapi jangan matikan radio. Tak ada yang boleh mengganggu radio, sampai adzan magrib selesai berkumandang.

PW NU SULSEL

Nyatanya, tak banyak yang berubah dari radio. Suara khas penyiar yang serak-serak basah, musik lawas pengingat masa, hingga tradisi salam-salaman pun masih ada. Di bulan ramadan, radio pun hadir dengan beragam konten bertema agama, semisal sesi lagu-lagu islami, atau bincang santai bersama seorang ustad.

Dan satu hal yang tak pernah terganti menjelang berbuka puasa – kadang pula sesudahnya – adalah “iklan politik radio”. Ramai para politisi hingga pejabat pemerintahan mengucapkan selamat berbuka puasa. Bagi mereka, “kotak suara” bernama radio, barangkali kelak punya dampak di kotak suara yang sebenarnya.

Sembari menyantap menu berbuka, saya menekan tombol off aplikasi Radio FM. Saya beranjak ke masa kini, tenggelam dalam tontonan asyik di kanal youtube. Di luar sana, semoga masih ada yang setia mendengar radio. Mereka yang menikmati radio sebagai “theatre of mind media”, ruang menginterpretasi dan mengimajinasikan peristiwa di dalam kepala, yang bisa jadi lebih indah dari apa yang terjadi di kenyataan.

Di bulan ramadan, radio ditemukan kembali oleh pendengarnya. Atau radio yang menemukan kembali dirinya? Entah. Bagaimanapun, waktu Indonesia mendengar radio ada di bulan penuh kemuliaan ini. Yang sebelumnya, juga sesudahnya, akan kembali jadi arkaik, sekadar antik.

Andi Ilham Badawi, Koordinator Komunitas GUSDURian Makassar & Staf LAPAR Sulsel

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here