Ramadan, Teriakan, dan Ledakan

0
268

Iklan sirup marjan kini bukan santapan. Pariwara sarung wadimor pun kalah pamor. Acara komedi menjelang buka puasa, hingga pantun bertabur bedak usai santapan sahur, raib dari kelucuan. “Narasi Besar” di televisi, di laman media sosial, di bisik-bisik tetangga, di grup-grup whatsapp, pun di kutipan doa kita adalah virus corona. Makhluk kecil seukuran nanometer itu kini menjelma sebagai “Yang Lain Yang Besar”, yang dimusuhi umat manusia lewat tagar #lawancorona.

Bulan ramadan tahun ini memang terasa berbeda, bahkan kelewat berbeda. Bilamana dahulu, paling banter ya tahun kemarin, hiruk pikuk ramadan sudah terasa sebulan menjelang kedatangannya. Umat Islam bersiap menyambut kehadiran bulan penuh kemuliaan, dengan sejuta rencana, harapan, amalan, dan angan-angan. Sebab ramadan bakal menggandakan pahala, sekaligus menghapus dosa di buku catatan para malaikat.

Di trotoar, ratusan lapak semi-permanen bakal memamerkan kopiah dan baju koko jenis apa yang lagi tren. Bedanya kini, hanya ada satu dua lapak yang berjualan, berganti oleh pedagang masker dengan berbagai varian warna. Ajakan buka bersama, reuni teman SD, SMP, SMA, hingga nostalgia bareng mantan, berganti jadi himbauan #dirumahaja. Belanja dan silaturahim berpindah dari luring ke daring, yang bagi saya masih terasa kering.

Ibadah pun seperti itu. Menunggu hingga pandemi usai, ibadah dilakukan bersama keluarga. Kalau anda jomblo, mau gimana lagi jika bukan bersama sepi. Jumatan, tarawih, dan idul fitri yang biasanya dilakukan secara berjamaah, ditiadakan dulu, menimbang kemaslahatan yang lebih besar. Meski ada yang masih ngeyel, melompati pagar, hingga mendemo pengurus masjid, itu hanya terjadi di beberapa titik. Edukasi, komunikasi, dan pendekatan persuasif akhirnya meluluhkan sebagian dari mereka. Lagi-lagi demi maslahat orang banyak.

Tanpa Teriakan, Minus Ledakan

Ramadan bukan hanya soal ibadah, melainkan kegembiraan. Bersama pahala, kegembiraan di bulan suci pun dilipatgandakan. Ada dua penanda kegembiraan itu; teriakan dan ledakan. Dua suara yang biasanya bikin bising di bulan lain, malah berganti jadi bunyian yang adem-adem saja di telinga. Bahkan tanpanya, ramadan begitu-begitu saja. Nahasnya, kiwari, itulah yang terjadi. Suara itu “didiamkan” oleh yang tak bersuara: Covid-19.

Teriakan “sahur, sahur, sahur…!”, disertai bunyi yang tercipta dari gesekan antara seng dan permukaan jalanan, hingga tabuhan perkusi oleh para remaja lorong, berganti dengan pekikan alarm. Berisiknya komentator Liga Champions yang seharusnya menemani sahur tahun ini, berubah bisu. Kesenangan para bocah yang bermain bola menjelang berbuka atau selepas tarawih, lengkap dengan teriakan “Gol….!”, bersalin hening.

Padahal, seperti dikisahkan Miftakhul F.S., penulis Sepak Bola Tak Pernah Mati (2019), ramadan adalah bulan yang kian mendekatkan anak-anak dengan sepak bola. Sebaliknya, kegembiraan sepak bola akan selalu mengingatkan anak-anak pada masjid, berikut halaman atau jalanan di muka rumah Tuhan yang kerap dijadikan lapangan dadakan. Bahkan bagi orang dewasa, kerinduan tentang masa kanak-kanak, paling banyak tentang kegembiraan dan begitu menyenangkannya bermain di bulan ramadan.

Pun dengan ledakan. Ini bukan tentang ledakan yang bikin nyawa menghilang akibat ulah teroris biadab, melainkan ledakan yang memberi keriangan di bulan penuh kemuliaan. Ledakan itu berasal dari petasan yang biasanya lebih mahir dibuat oleh anak-anak tinimbang orang dewasa. Ada-ada saja varian petasan hasil karya tangan-tangan mungil, tengil, dan pemberani. Busi, kaleng milo, batu karbit, korek kayu, hingga yang paling orisinil ya meriam bambu itu. Bagi sebagian bocah, petasan rakitan gampang dibuat, sebab bahan-bahannya mudah didapat, daripada harus membeli petasan instan. Membelinya mungkin mudah, minta uang ke ibu yang paling susah. Hehehe

Namun lagi-lagi, nyaringnya petasan, kini sayup di tengah pandemi. Tak ada tarawih di masjid, berarti tak ada medan uji nyali untuk meledakkan petasan ketika ikamah shalat isya belum terdengar. Dikejar-kejar pengurus masjid hingga sarung raib entah di mana. Diburu warga, sampai pura-pura berwudhu untuk ikut shalat isya. Keisengan anak-anak yang sebenarnya bikin orang dewasa tak kesal-kesal amat. Sebab bagaimana pun, seperti kata Zen RS, bulan ramadan adalah kanal “beribadah sebagai piknik” bagi anak-anak. Tempat mereka bertemu teman, bercanda, dan sesekali meminta imam masjid menandatangani catatan tugas amaliah ramadan.

Menurut beragam pemodelan statistik, pernyataan para ahli kesehatan, hingga ketetapan masa darurat bencana oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), corona bakal mereda di bulan Juli nanti. Tandanya, bulan ramadan sepertinya akan benar-benar berakhir dengan teramat berbeda dari biasanya. Meski begitu, usaha, doa, dan ikhtiar tak boleh berujung sampai semua ini tuntas. Sampai kita bisa mendengar kembali teriakan, ledakan, dan kegembiraan di negeri ini. Barangkali di tujuh belasan, atau paling buruk ramadan tahun depan.

PW NU SULSEL

Andi Ilham Badawi, Koordinator Komunitas GUSDURian Makassar & Staf LAPAR Sulsel

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here