Pendidikan dan Media Digital (Refleksi di Tengah Pandemi)

0
294
Ilustrasi (Freepik)

Wabah corona Covid-19 menyerang secara frontal terhadap eksistensi kehidupan manusia sejagat. Banyak rencana program yang sudah tertata rapi mulai dari kegiatan yang sifatnya lokal, nasional, dan international ditunda pelaksanaannya dan tidak sedikit yang dibatalkan.

Tatanan sosial budaya mengalami perubahan, yang terkenal dengan keramah tamahannya, bersalaman bila bertemu, bahkan adanya budaya cipika cipiki ketika berjumpa sekarang berubah. Senyum yang merupakan ibadah sekarang tertutupi dengan masker. Silaturahim yang selama ini dimaknai kumpul-kumpul dilakukan dengan jaga jarak. Shalat jamaah di masjid yang menjanjikan pahala sekalipun harus dilaksanakan di rumah.

Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada awal Maret 2020 dan menghimbau agar masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah  demi menekan penyebaran virus Covid-19 di Indonesia. Presiden Jokowi menyampaikan bahwa salah satu upaya untuk mencegah, memperlambat, dan menahan penularan virus corona adalah physical distancing.

Bahkan tidak berhenti hanya sampai disitu, rumitnya penanganan wabah ini dan semakin semakin mengkhawatirkan sehingga pemerintah memutuskan untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bagi wilayah  tertentu. Penerapan PSPB sebagai kebijakan super ketat pemerintah dalam upaya memutuskan mata rantai penyebaran virus corona yang semakin meluas.

Sejak diberlakukannya physical distancing hingga PSBB ini tentu berimplikasi terhadap  pola hidup atau perubahan sosial masyarakat mencakup ekonomi, sosial, budaya, politik, kesehatan termasuk dunia pendidikan. Berimbasnya virus corona pada bidang pendidikan adalah beralihnya aktivitas  ke rumah serta tertundanya semua agenda kegiatan yang sudah direncanakan dalam beberapa waktu yang tidak ditentukan baik di sekolah maupun perguruan tinggi  guna mengikuti himbauan pemerintah untuk menghindari kerumunan dan meminimalisir pertemuan dalam jarak dekat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mas Nadiem Kariem mendukung kebijakan pemerintah tersebut dengan meliburkan lembaga pendidikan (sekolah dan kampus) mengalihkan proses pembelajaran di rumah. Segalanya aktivitas sekolah dilakukan di rumah. Pendidik (guru/dosen) mengajar di rumah dan peserta didik (murid/mahasiswa) belajar di rumah.

Setelah diberlakukannya belajar di rumah maka yang dirasakan oleh para  siswa sekolahan adalah mengeluh akan belajar dirumah karena dipenuhi dengan tugas rumah yang diberikan oleh  masing-masing  guru bidang studi.  Sebagian dari siswa harus belajar otodidak (sendiri), karena orang tua yang tidak mampu menjelaskan atau mengajari materi yang ada di buku sehingga membimbing anaknya sesuai kemampuan mereka.

Bahkan  tidak sedikit orang tua merasa kelelahan ketika anaknya harus belajar dan anak–anak lebih memilih main game khususnya dengan menggunakan telepon pintar atau bermain bersama teman. Sehingga nada kesal sering dilontarkan oleh orang tua kepada anaknya, yang semestinya anak tidak diperlakukan demikian.

Kendala yang paling menyedihkan ketika  tugas yang dibuat itu harus menggunakan teknologi   dengan aplikasi tertentu seperti halnya yang digunakan banyak orang yakni aplikasi classroom, zoom atau sejenisnya. Lagi-lagi orang tua belum memahami penggunaan aplikasi tersebut dan hal yang menghambat ketika kuota yang dimiliki sangat terbatas.

Demikian halnya  keluhan yang di rasakan oleh mahasiswa terkait dengan belajar di rumah.   Selain soal kuota internet terbatas, dalam pelaksanaan kuliah daring  banyak terkendala oleh sinyal dan atau jaringan internet. Seperti kasus mahasiswa Universitas Islam Makassar tidak sedikit  yang tinggal di daerah yang susah dijangkau, bukan hanya sinyal yang rendah tapi untuk mengakses ke tempat mereka hanya bisa dijangkau dengan kendaraan berat. Sehingga kalau akan mengikuti kuliah daring maka harus mencari tempat tertentu yang sinyalnya kuat dan dapat menangkap serta mengikuti proses perkuliahan.

Virus corona juga terimbas pada pelaksanaan Ujian Nasional 2020. Pemerintah telah memutuskan  untuk meniadakan UN mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga  Sekolah menengah Atas ( SMA). Langkah tersebut diambil tentunya sebagai bentuk respons pandemi Covid-19 dengan memprioritaskan keselamatan dan kesehatan rakyat. 

PW NU SULSEL

Dampak yang dirasakan oleh pendidik (guru/dosen) adalah dengan pemindahan model pembelajaran di kelas ke dunia virtual adalah mengharuskan adanya digitalisasi pendidikan dengan menggunakan teknologi tanpa harus bertemu.

Mengingat peralihan cara belajar ini datangnya tiba-tiba,  akhirnya memaksa  seluruh pihak untuk memanfaatkan apa yang ada sebagai media pembelajaran agar proses pembelajaran tetap terlaksana. Meski demikian dalam pelaksanaannya  tentu mengalami hambatan dan permasalahan proses belajar mengajar. Selain permasalahan jaringan yang kurang mendukung dan kuota yang sangat terbatas, keterampilan guru dalam memanfaatkan media digital masih sangat kurang.

Kehadiran  orona menjadi momentum bagi para pendidik untuk mempelajari media baru. Meskipun istilah media baru sendiri sudah ada jauh sebelum Covid-19 menyerang dan memaksa untuk beralih. Adanya wabah corona ini tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu pendorong bagi pendidik untuk menerapkan sistem baru dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

Belajar jarak jauh harus dilaksanakan sebagaimana  tertuang dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 1 bahwa pendidikan jarak jauh merupakan pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

Lebih tegas  pada Pasal 31 ayat 2 bahwa  pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Ayat 3 menjelaskan bahwa pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar yang sesuai dengan Standard Nasional Pendidikan.

Secara tegas pula pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 tahun 2016 bab 1 bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi  bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.

Dengan demikian, sebagai pendidik sudah seharusnya memiliki keterampilan dalam penggunaan teknologi pembelajaran. Semua dituntut untuk menyesuaikan  diri dan memanfaatkan media digital dengan harapan perubahan ini tidak berakhir seiring berakhirnya Covid-19.

Jadikan kehadiran corona ini sebagai pelajaran berharga guna melakukan perubahan menuju kemajuan pendidikan. Selamat bagi para pendidik!

Dr.  Hj. Mardyawati Yunus, S.Ag., M.Ag., Sekretaris Lembaga Ma’arif Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here