Literasi “Khasyatullah”

0
206
Ilustrasi (Tribunnews)

Kenyataan masih adanya masyarakat yang “ngotot” (berkeras hati) salat berjamaah di masjid di tengah pandemi Covid-19, tentu tidak semua dilatari oleh motivasi teologis semata, tetapi ada juga di antaranya karena alasan ekonomi dan faktor tradisi.

Logika yang terbangun dalam masyarakat bahwa masjid adalah simbol dan pusat kegiatan keagamaan tidak boleh dihalangi, karena sama artinya menghalangi orang menjalankan ajaran agamanya. Beribadah itu adalah aspek asasi yang begitu kuat memengaruhi setiap individu. Konsekuensinya, mereka harus ngotot meski harus memanjat pagar masjid yang terkunci untuk salat berjamaah. 

Sebetulnya, perilaku ngotot seperti itu mestinya tidak terjadi jika pemangku kepentingan bersama para ulama dan cerdik pandai memberikan edukasi. Umat memerlukan literasi beragama dalam menyikapi situasi pandemi seperti ini. 

Literasi beragama yang dimaksud adalah kemampuan seseorang dalam mengolah informasi dan pengetahuan agama untuk kecakapan hidupnya. Istilah takut kepada Allah (khasyatullah) tidak cukup dipahami secara tekstual karena akan melahirkan sikap “tajassum” yakni menyamakan takut kepada Allah dengan takut kepada makhluk. Takut kepada Allah tidak bisa dibandingkan dengan takut kepada virus corona. Sikap itu, di kalangan ulama kalam, bisa digolongkan musyrik. 

Mengenai takut kepada Allah (khasyatullah) bisa merujuk kepada QS. Fathir/35:28. “… Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun”.

Ayat ini tidak bisa dipisahkan dengan ayat sebelumnya yang berbicara tentang fenomena alam dan sosial. Artinya, “khasyatullah” itu lahir tidak berdiri sendiri tetapi terkait dengan pemahaman kita tentang fenomena alam dan sosial. (Shihab, “Al-Misbah”:11/63)

Menurut al-Ragib al-Ashfahani (w. 502 H./1108 M.), kata “khasyah” berarti “rasa takut disertai penghormatan yang timbul dari pengetahuan tentang sesuatu”. Kalimat kuncinya adalah rasa takut karena ada literasi, bukan asal takut dan takutnya karena penghormatan, bukan karena kebencian.

Jadi, takut kepada Allah harus diletakkan di atas literasi dan nilai kemanusiaan (saling menghormati). Kalau ada masyarakat yang merasa takut kepada Allah tetapi mengabaikan jiwa orang lain berarti bertentangan dengan prinsip “khasyatullah”

Jika demikian, kegembiraan menyambut Bulan Ramadan tidak perlu tergantung dibuka atau ditutupnya masjid. Kegembiraan di bulan ini sangat luas karena menyangkut meraih keridhaan Allah swt. Tugas kita adalah perbanyak ibadah, doakan bangsa kita semoga wabah pandemi ini segera diangkat oleh Allah swt. Wallahu a’lam

Dr. Muhsin Mahfudz, M.Th.I, Dekan Fakultas Ushuluddin, Filsafat, & Politik UIN Alauddin 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here