Pandemi yang (Tidak) Membongkar

0
605
Ilustrasi (Tim Kreatif LTN NU Sulsel)

Sejak pembatasan berbagai kegiatan untuk menghindari penyebaran virus corona, tidak sedikit orang yang kebingungan menghadapinya. Berbagai pertemuan, agenda-agenda penting, bahkan sistem pendidikan, dan tata kelola rumahtangga kena imbasnya. Sebagai negara yang tidak mengambil peran terlalu besar dalam teknologi dan media, di mana keduanya merupakan faktor determinan hari ini, kita lebih banyak mengkonsumsi berita tanpa aksi selektif. Alih-alih menyaring infomasi yang dikonsumsi, yang muncul adalah penghujatan, pencibiran, dan meneruskan tanpa batas. Meskipun sebagian orang tetap bijak mengelola lalu lintas infomasi tersebut.

Peter C. Baker (The Guardian, 30/3/2020) dalam sebuah pembuka artikelnya mengungkap bahwa “Times of upheaval are always times of radical change. Some believe the pandemic is a once-in-a-generation chance to remake society and build a better future. Others fear it may only make existing injustices worse”. Dia membangun dua asumsi bahwa pandemi bisa jadi adalah kesempatan untuk membangun, memperbaiki, atau menata ulang segala sesuatu dalam sebuah sistem, namun juga bagi yang lain justru menggiring ke arah semakin memburuknya ketidakadilan.

Tulisan Baker lebih lanjut banyak menyuguhkan kajian tentang krisis dilengkapi literatur-lietarur yang fokus membahas hal tersebut. Lebih menukik lagi, dia coba membeber keterkaitan merebaknya virus corona dengan perubahan iklim. Dia mengungkap fakta bahwa pandemi ini memiliki kecenderungan untuk memperbaiki anomali perubahan iklim, di mana penyebaran virus corona memiliki efek mengurangi aktivitas industri, lalu lintas jalan, dan polusi udara telah menurun drastis.

Dia mengutip Marshall Burke, seorang ilmuwan dari Universitas Stanford yang pada awal Maret lalu mengungkapkan mengenai data polusi dari empat kota di Cina untuk mengukur perubahan tingkat polutan berbahaya yang menyerang jantung dan paru-paru berada di angka PM2.5. PM atau Particulatte Matter sendiri adalah istilah untuk partikel padat atau cair yang ditemukan di udara. Burke memperkirakan bahwa di China saja, pengurangan emisi sejak awal pandemi telah menyelamatkan nyawa setidaknya 1.400 anak di bawah lima tahun dan 51.700 orang dewasa di atas 70 tahun. Hal ini menunjukkan jejak karbon yang berkurang karena menurunnya aktifitas manusia di masa pandemi.

Mungkin tidaklah terlalu berimbang jika mengukur dampak yang ditimbulkan oleh penyebaran virus corona hanya dari satu sisi. PBB melalui Shared Responsibility, Global Solidarity; Responding to the Socio Economic impacts of Covid-19 (Maret 2020) menyebutkan beberapa aspek dari lingkungan juga turut terdampak. Sebutlah misalnya penyediaan air bersih dan sanitasi layak di mana terjadi masalah penyediaan air bersih untuk penyediaan fasilitas cuci tangan yang merupakan hal penting untuk mitigasi penularan covid-19.

Dari aspek keterkaitan sosial dan lingkungan, pandemi kali ini dilihat berpotensi menggangu aktivitas konsumsi manusia. Panic buying sedang dan akan terjadi karena pasar pangan dunia sedang terganggu. Dari aspek lingkungannya, potensi sampah makanan akan meningkat seiring dengan cara konsumsi tersebut. Sementara di sisi ekonomi sangat jelas berdampak pada berbagai sektor, mulai dari pendapatan individu hingga pada stimulus ekonomi yang diharapkan turun dari pemerintah.

Memahami Krisis, Memupuk Kesabaran

Setelah beberapa bulan berlalu, masyarakat tampaknya menyadari bahwa pandemi Covid-19 bukanlah semata krisis kesehatan, namun telah menjadi krisis kemanusiaan. Dampaknya telah mengglobal, melampaui batas dan sekat negara. Cukup beralasan jika Yuval Noah Harari (Time, 20 Maret 2020) mengajukan gagasan untuk penggalangan solidaritas dan kerja sama global untuk memperbaiki dan menanggulangi pandemi Covid-19 ini. Dia menyatakan bahwa kerja sama global adalah cara yang cukup efektif untuk mengatasi krisis saat ini.

Harari merangkum beberapa hal yang dapat dilakukan dalam menjalin solidaritas global tersebut mulai dari berbagi informasi, produksi, distribusi peralatan medis, sekaligus tenaga medisnya, pemulihan ekonomi, dan kesepakatan global tentang pejalanan lintas negara. Menarik untuk merenungkan sebuah pertanyaan di akhir tulisan Harari tersebut bahwa apakah dengan merebaknya pandemi kali ini, masyarakat dunia akan tetap menempuh jalan perpecahan atau justru mengadopsi kerja sama global. Sebuah pekerjaan rumah yang masih harus dipikirkan, bukan hanya untuk kehidupan yang akan berubah pasca pandemi Covid-19, tetapi juga untuk keberlanjutan pembangunan dunia.

Namun wabah penyakit yang terjadi di dunia bukanlah satu-satunya saat ini. Tercatat ada wabah syairawiyah di Mada’in (Persia) pada tahun ke-6 H atau 627 M pada masa Rasulullah saw. Ada pula Thaun Amwas, sebuah wabah yang diasosiasikan dengan nama desa antara Quds dan Ramlah, sebagai tempat munculnya pada tahun 17 H, bertepatan dengan 638 M atau tahun 18 H/639 M di Syam yang telah merenggut puluhan ribu nyawa (Butar, Maret 2020). 

Riwayat lain yang cukup terkenal adalah perjalanan Khalifah Umar bin Khattab RA menuju sebuah desa di ujung Syam yang berbatasan dengan Hijaz, bernama Sargh. Dalam sebuah hadits Imam Bukhari dan Imam Muslin diriwayatkan oleh Abdillah bin Amir bin Rabi’ah bahwa Khalifah Umar bin Khattab RA menempuh suatu perjalanan menuju Syam. Ketika beliau sampai di Sargh, khalifah Umar mendapat kabar bahwa wabah sedang menimpa wilayah Syam.

PW NU SULSEL

Abdurrahman bin Auf bekata kepada khalifah Umar bahwa Rasulullah SAW penah bersabda yang artinya “Bila kamu mendengar  wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi di daerah kamu berada,maka jangan tinggalkan tempat itu”. Lalu Khalifah Umar bin Khattab meninggalkan Sargh.      

Merebaknya Covid-19 yang kemudian dinyatakan sebagai wabah atau pandemi global oleh WHO memang mengejutkan banyak orang. Beredar banyak informasi dari bermacam sumber bahwa benteng pertahanan terakhir dari virus ini adalah imunitas tubuh manusia itu sendiri. Selainnya berupa asupan gizi yang sehat, menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan terutama higienitas tangan, menjauhi atau tidak bercampur dengan sumber wabah dan terpenting adalah harapan serta doa.

Lantas dari manakah imunitas tubuh itu dapat diperoleh setelah memenuhi beberapa unsur tersebut di atas dan bagaimana cara memproduksinya? 

Salah satu Fakultas Kedokteran di San Francisco tahun 1986 mencantumkan sebuah penelitian tentang dialog dengan jiwa. Menurut hasil penelitian tersebut, lebih dari 75 persen penyakit tubuh berasal dari dialog negatif dengan jiwa. Hal inilah yang disebut oleh para ahli jiwa sebagai “sandiwara internal”. Cara ini cukup berperan bagi seseorang dalam menyusun gambaran kehidupannya dalam benaknya sendiri, termasuk pikiran dan susunannya dalam mental. Cara bertindak yang demikian ditengarai akan menyebabkan munculnya banyak penyakit seperti jantung, pusing, tekanan darah, melemahkan sistem saraf dan menurunkan kekebalan tubuh. (Elfiky, 2009)

Kekebalan tubuh atau imunitas sangat dipengaruhi oleh cara berpikir dan merespon berbagai hal yang menghampiri manusia. Termasuk bagaimana merespon pandemi yang sedang merebak. Semua level pemerintahan sedang dan terus turun tangan memberikan anjuran, pengawasan, dan terkadang punishment untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Tak sedikit tokoh agama yang menyerukan masyarakat untuk tetap tenang, waspada, dan tidak panik menghadapi situasi ini. Tenang, waspada, tidak panik, menerima, berprasangka baik adalah bentuk-bentuk mengendalikan diri yang sangat berhubungan dengan cara berpikir dan merupakan esensi dari kesabaran. Kesabaran sangat diperlukan untuk menghadapi sebuah krisis yang terjadi. Kesabaran adalah sebuah energi yang mampu membangkitkan imunitas sekaligus sebagai obat yang memiliki daya kesembuhan.

Arnold Henry Glasow, seorang pebisnis berkebangsaan Amerika (1905-1998) mengungkapkan bahwa “the key of everything is patience. You get the chicken by hatching the egg not by smashing it”. Kunci dari segala sesuatu adalah kesabaran, kita memperoleh anak ayam dengan cara mengeramkan telur, bukan dengan membantingnya. Dalam menghadapi pandemi kali ini, setiap kita diminta untuk bersabar dari segala sesuatu yang berpotensi memperburuk keadaan.

Tidak mudah menerima situasi menakutkan seperti sekarang, apalagi menggali hikmah dibaliknya. Dalam memahami krisis, Paul G. Stoltz memperkenalkan kecerdasan adversitas atau adversity quotient (AQ). AQ secara sederhana adalah kemampuan untuk mengubah kesulitan atau kesakitan menjadi sebuah peluang dan kesempatan emas.

Mungkin saja pandemi kali ini adalah sentilan untuk memperbaiki sistem kesehatan yang tidak responsif terhadap keadaan darurat. Sebagaimana epidemi flu global tahun 1918 yang membantu menciptakan layanan kesehatan nasional  di banyak negara Eropa. Adapula perang dunia kedua yang menjadi momentum bagi negara-negara maju saat ini untuk mempejuangkan kesejahteraan.   

Ya, semuanya memang terasa sulit, setidaknya sampai hari ini. Harari menegaskan bahwa bencana pandemi ini akan berlalu, tetapi pilihan kita saat ini akan memengaruhi kehidupan di masa-masa mendatang. Anda boleh tak sepakat dengan Yuval Noah Harari, tetapi tak sepantasnya meremehkan pesan Tuhan ketika menghadapi bencana apapun, sembari memaksimalkan upaya untuk menghadapinya. Kita hanya diminta untuk bersabar dan shalat atau sebanyak mungkin berdoa. Pandemi Covid-19 sedang datang menyapa dan telah membongkar banyak hal yang sudah tertata, tapi tidak termasuk membongkar kesabaran kita. Semoga.

Andi Nur Fitri Balasong, Former Officer of LOCALISE SDGs UCLG ASPAC-APEKSI- European Union & Pengurus LTN NU Sulawesi Selatan

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here