Mustadh’afin dan Puasa di Tengah Pandemi

0
278

Terminologi mustadhafin bukanlah istilah yang baru. Di kalangan para aktivis, istilah mustadhafin diartikan sebagai orang tertindas atau yang senada dengan itu. Mustadhafin banyak disebutkan dalam al-qur’an dengan beberapa sighot (bentuk) yang didominasi dalam arti penindas bukan yang tertindas. Penghukuman terhadap pelaku penindasan dapat dikategorikan sebagai orang yang melakukan kedzaliman, dan balasan bagi mereka pun dapat dilihat dalam Al-Quran.

 Di tengah gempuran wabah Covid-19, kaum buruh – satu dari sekian kelompok mustadhafin – menderita imbas struktural yang besar. Di mana akibat wabah ini, ribuan pekerja di Indonesia terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bahkan disebut sebagai PHK Nasional. Hal ini menandakan pengangguran semakin bertambah.

Walaupun ada kartu pra-kerja bagi mereka selama empat bulan lamanya, bagi saya hanyalah obat penenang yang sifatnya sementara. Ditambah lagi, persoalan kurang efektifnya pengadaan kartu pra-kerja ini akibat relugasi yang awut-awutan dan tidak beres sana sini. Masalah lain adalah kurangnya sosialisasi hingga ke akar rumput yang menjadi salah satu faktor kurang efektifnya program tersebut.

Arah gerak mustadhafin dalam hal ini kaum buruh menjadi tanda tanya besar bagi kita semua, khususnya pasca Covid-19 berlalu. Pembelaan terhadap mereka (baca: muastadhafin) akan selalu bergulir tiap waktunya, bilamana tuntutan buruh berupa upah layak dan meminimalisir terjadinya PHK tidak diaminkan oleh para pemangku kebijakan. Tidak hanya buruh, seluruh elemen yang peduli akan nasib buruh akan menyuarakan hal yang serupa.

Puasa, Islam, dan Keadilan Sosial

Dalam Al-Quran, mustadhafin mendapat perhatian lebih, sebab misi Islam adalah penghapusan terhadap penindasan. Ini menjadi refleksi dalam melihat sejarah panjang kita selaku muslim. Bahwa pembelaan terhadap kaum mustadhafin atau kaum tertindas menjadi hal utama. Dengan begitu, pembahasan utama yang ihwal dibicarakan serta diperjuangkan dalam sidang para pengambil kebijakan ialah soal-soal kaum mustadhafin dengan sebenar-benarnya, sejujur-jujurnya, bukan berhenti dalam wacana dan nihil dalam praksisnya.

Kaum mustadhafin mesti menjadi kepentingan bersama, khususnya soal upah demi kehidupannya beserta keluarganya. Di bulan puasa seperti sekarang ini seharusnya menjadi bulan instropeksi diri sudah sejauh mana kesabaran, keadilan, serta tanggung jawab kita terhadap diri dan orang yang berada di sekitar kita.

Di bulan ramadhan ini term sabar menjadi penting (urgent) sebab dia menjadi tantangan puasa kita. Sedikit saja kita tidak sabar maka puasa kita bisa makruh. Kosa kata ini mestinya kita bisa ambil ibrahnya dari sikap mustadh’afin, ketika mereka bekerja dengan upah yang menyesakkan dada, namun tetap sabar dalam menjalankannya.

Selanjutnya keadilan. Adil menjadi salah satu sikap yang diteladankan Nabi Muhammad saw kepada umatnya, khususnya dalam hal jual beli (bisnis). Salah seorang folosof Yunani yakni Thales  kurang lebih mengatakan, “keadilan itu dapat terlihat ketika tidak ada orang yang paling kaya dan paling miskin”.

Formulasi keadilan mesti menjadi konsep pribadi dan dapat terpatri pada diri setiap orang, terutama para pengambil kebijakan. Dengan pemberian upah yang tak setimpal ke kaum mustadhifin (baca: buruh) maka keadilan hanyalah bualan semata. Bulan puasa cukup mengajarkan kita soal keadilan dasar, dengan bangun sahur sebelum subuh dan buka puasa di waktu maghrib. Dalam kehidupan sosial mengajarkan kepada kita bahwa lapar, haus, dan nafsu yang lain itu tidaklah menyenangkan bila ditahan dan atau tidak bisa didapatkan atau  direalisasikan. Sehingga arti keadilan seharusnya dapat diwujudkan dalam realitas sosial pasca Ramadhan dengan tidak mebiarkan mereka berusah-payah dalam mencari rezeki.

Bulan Ramadhan menjadi ajang diri kita untuk dapat mempertanggung jawabkan segala aktifitas kita selama sebulan penuh seperti bila puasa ada yang tidak terlaksana, kita mesti menggantinya di lain waktu. Ketiga sikap tersebut seyogyanya dapat teraplikasikan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan kita. Diwujudkan lewat perhatian lebih terhadap kaum mustadh’afin. Bukan dalam perwujudan sebaliknya, makin memarginalkan dengan aturan-aturan kepentingan kelompok. Lihatlah mereka seperti melihat diri kita sendiri bilamana berada di posisi mereka. Dimana kesabaran, keadila,n dan tanggung jawab adalah bagian dari keinginan semua orang.

PW NU SULSEL

Terlebih di tengah wabah Covid-19. Menyadarkan kita akan pentingnya gotong royong, persatuan, dan kebersamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Kesadaran nasional kembali di bentuk seperti awal kemerdekaan. Yang sama-sama melawan para penindas yang tidak memanusiakan-manusia. Bedanya, dulu hanya manusia, sekarang tidak hanya manusia tapi virus juga ikut meporak-porandakan rumah besar kita, Indonesia.

Selamat hari buruh. Mari jadikan Bulan Ramadhan sebagai tempat menghilangkan atau setidaknya meminimalisir sifat ke-aku-an yang acap kali menjadi boomerang buat diri sendiri.

Arif Nurkholis, Kader PMII Cab. Gowa

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here