Saatnya Bernyanyi Ininnawa Sabbarae!

0
841
Ilustrasi (Tim Kreatif LTN NU Sulsel)

Menghadapi Covid-19 menguras banyak energi. Yang tetap di rumah ditantang untuk bersabar dan yang harus keluar untuk tetap bekerja pun ditantang dengan ancaman kehidupan yang berbeda. Keduanya membutuhkan kesabaran untuk masing-masing bertahan atau mengalah. Boleh jadi keberlangsungan keberanian orang-orang keluar rumah dan kesabaran orang-orang yang tinggal di rumah adalah bagian dari keseimbangan yang sunnatullah.   

Tetaplah bersabar, meskipun pada saat itu hasil yang kita harapkan malah semakin menjauh. Apalagi jika keberhasilan yang diharapkan itu teranggap terganggu oleh ketidaksabaran orang lain. Maka tetaplah bersabar, sebab kesabaranmu itu bukan untuk mengendalikan orang lain. Tetapi untuk menjaga keseimbangan dirimu sendiri.

Jagalah sebagaimana engkau mengatur nada dalam nyanyian yang intinya harus tetap seimbang, seribut apapun para penggemar berteriak di bawah sana. Bernyanyilah dengan sepenuh penghayatan seperti nyanyian Bugis Ininnawa Sabbarae. Sebuah ajakan untuk menanamkan kesabaran dalam diri, meski situasi begitu rumit, atau sedang tidak menguntungkan.

Ininnawa sabbara’e                    duhai hati yang diliputi kesabaran

Lolongeng gare’ deceng             kelak akan mendapat kebaikan

Ala tosabbara ede                       duhai orang yang sabar

Pitu taunna sabbara’                  tujuh tahun sudah aku bersabar

Tengngi na engka ulolongnen    tak kunjung jua kudapati

Allaa riasengnge deceng            duhai yang namanya kebaikan

Deceng enre’ ki ri bola               duhai kebaikan naiklah ke rumah

Teng jali teng tappere                 tanpa alas tanpa tikar

PW NU SULSEL

Alla banna mase-mase               duhai sederhana tampak mengibakan

Mase-mase iko naga                   engkaukah itu kesederhanaan

Nigaro musilaongang                 siapakah yang engkau temani

Alla mutellu sitinro                     mengapa engkau beriring bertiga

Tellu memengnga si tinro           memanglah saya beriring bertiga

Nyawaku na tubukku                  nyawaku bersama dengan tubuhku

Alla dua temmassarang              duhai itu dua hal yang tak terpisahkan

Aga guna masarae                      apa guna bersedih

Ku pura makkui totoe                 kalau sudah begitu takdirnya

Alla pura Napancajie                 duhai yang sudah diciptakan-Nya

Entah kesabaran apa yang bisa bertahan selama tujuh tahun, tapi begitulah bunyi syair lagu ini yang menggambarkan teguhnya kesabaran yang tak lekang oleh waktu. Apakah kemudian kesabaran yang panjang itu berujung kesedihan semata? Syair lagu ini jelas menyatakan kesedihan tiadalah berguna jika itu sudah ketentuan Tuhan. Bahkan jika kamu memandang curiga, cemburu atau berburuk sangka dengan saya yang selalu berjalan beriring bertiga.  

Baca juga Sajian Khas Ramadhan #2

Siapakah yang berjalan beriring bertiga itu? Istilah bugis menyebutnya dengan kalimat tellu temmallaisengdua temmassarang. Duhai ini adalah perkara yang sulit dijelaskan. Secara sederhana syair lagu di atas mengungkap sedikit dua temmassarang adalah nyawa dan tubuh. Penyederhanaan dalam karya sastra lumrah dilakukan untuk kepentingan struktur kalimat, atau untuk memudahkan penyampaian pesan. Bahwa dua temmassarang itu adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dua temmassarang adalah filosofi hidup orang Bugis yang kemudian para penganut tasawuf terkadang menyamakannya dengan konsep wahdatul wujud. Duhai saya tidak akan menjelaskan wahdatul wujud disertai perbedaan dan kesamaannya dengan dua temmassarang.  

Intinya, dua temmassarang dapat diamati dari kehidupan orang Bugis yang sarat dengan kearifan lokal yang terwariskan secara turun-temurun. Misalnya terkait cara-cara mereka untuk menjaga hubungan dengan alam. Cara-cara yang kemudian dihabisi oleh kelompok keagamaan atas nama ‘gerakan pemurnian agama’.

Ketika seseorang mengalami geruk-gerukeng yaitu gangguan kesehatan atau sakit yang diakibatkan karena kesalahan seseorang terhadap alam. Biasanya diselesaikan dengan usaha memperbaiki kembali hubungan baik dengan alam. Misalnya, seorang anak mengalami panas tinggi, usai berjalan-jalan di hutan dengan tanpa sengaja mematahkan sebuah ranting pohon untuk sekedar dipermainkan. Ranting itu dipukulkannya ke kiri dan ke kanan sepanjang jalan, dan ketika bosan ranting itu dicampakkannya begitu saja.

Seorang sanro dengan kemampuan pakkarawa yang dimilikinya, akan segera mengetahui penyebab sakitnya adalah karena sikap yang tidak bersahabat dengan alam. Karena itu, dimintalah kepada keluarganya untuk melepas ayam di hutan. Sang anak kemudian diberi minum dengan air yang sudah dijampi-jampi. Perlakuan melepas ayam itu kemudian diteriaki khurafat, syirik, dan kafir.

Padahal sesungguhnya perlakuan itu tidaklah berhubungan langsung dengan pengobatan dan kesembuhan orang sakit. Tetapi perlakuan itu adalah kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan hidup dengan alam atau dengan makhluk lain sebagai manifestasi dari dua temmassarang.    

Baca juga Sajian Khas Ramadhan #1

Jadi manifestasi dua temmassarang adalah kesabaran di atas cinta, dan nyanyian adalah ekspresi cinta dan nada keseimbangan. Duhai perkara sulit ini kawan. Begini sajalah, cinta itu saling memiliki, selalu ingin bersama, tidak saling menyakiti dan butuh kesabaran untuk menjaga itu semua. Lalu apa hubungannya dengan nyanyian.

Asal kata nyanyian dalam bahasa Arab itu disebut ghina sama penyebutannya dengan orang kaya yang juga berasal dari akar kata ghina. Ghina itu adalah adaptasi nada dari keseimbangan alam, seperti suara hembusan angin, gemercik tetesan air, siulan dedaudan melambai, simponi burung-burung berkicau.

Awalnya manusia menirunya dengan mulut, gerakan tangan yang berkembang dengan penggunaan alat, sampai terciptalah alat-alat musik tiup, gendang, dan seterusnya. Semuanya berasal dari susunan dan tatanan yang seimbang. Karena itu orang yang memiliki harta yang banyak harus membagi hartanya kepada yang miskin, agar terjadi keseimbangan, makanya orang kaya disebut juga ghina.

Keseimbangan juga harus dijaga dengan konsistensi antara prinsip yang tertanam dalam hati, perkataan yang diucapkan dan perbuatan yang dilakukan, itulah yang dimaksud dengan tellu tammallaiseng. Jadi prinsip cinta dan keseimbangan dua temmassarang ditekuni dengan sabar melalui ada tongeng, lempu, dan getteng. Jujur terus terang dan tegas, yaitu bersatunya kata hati dengan perbuatan.  

Muh. Subair, Pengurus LTN NU Sulawesi Selatan & Peneliti Balitbang Agama Makassar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here