Assuro Maca: Tradisi Menyambut Ramadhan

0
520
Ilustrasi (Tim Kreatif LTN NU Sulsel)

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan di mana Al-Quran diturunkan. Bulan yang pada sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, keduanya adalah maghfirah, dan ketiganya adalah pembebasan dari api neraka ini dianggap sebagai tamu agung oleh umat Islam.

Ibarat mendapatkan kabar jika rumah kita segera dikunjungi oleh tokoh agama ataupun orang penting, maka tentunya kita akan mempersiapkan diri dan membersihkan rumah untuk menyambut tamu spesial tersebut. Begitu pula jika bulan Ramadhan hendak tiba, umat muslim menyibukkan untuk menyambutnya dengan sukacita dan meriah.

Di Indonesia, umat muslim memiliki tradisi Islam tersendiri dalam menyambut bulan Ramadhan. Ada berbagai macam tradisi yang dilakukan, sembari menanti hadirnya sang bulan suci. Terlebih di Sulawesi Selatan, tradisi menyambut bulan Ramadhan sangat khas, sesuai dengan kearifan lokal yang berkembang di daerah masing-masing.

Masyarakat Bugis-Makassar menyelenggarakan berbagai macam tradisi seperti mabbaca atau assuro maca. Dalam tradisi assuro maca ini, biasanya dilakukan oleh masyarakat seminggu hingga sehari menjelang masuknya bulan suci Ramadhan. Saking kentalnya tradisi ini, masyarakat Bugis-Makassar yang ada di perantauan dengan sukacita akan tetap melangsungkan assuro maca.

Assuro maca adalah tradisi yang sudah lama dilakukan, jauh sebelum Islam hadir di tengah-tengah masyarakat Bugis-Makassar. Dahulu tradisi ini dilakukan untuk berdoa kepada Dewata Seuwae, Sang Pencipta dalam keyakinan Bugis Kuno. Ketika Islam datang, lantas berkenalan dengan kearifan tradisi, maka terjadilah perjumpaan (encountering) antara tradisi Bugis-Makassar dengan nilai-nilai ajaran islam.

Tradisi ini dilakukan dengna membaca doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, yang akrab disebut imam kampung. Tak jarang pula, tuan rumah memanggil tetangga atau kerabat dekat untuk hadir bersama dalam kegiatan assuro maca. Di beberapa daerah tertentu, Assuro Maca dilangsungkan menjelang magrib, sehingga para tetangga akan melakukan Shalat Magrib berjamaah di rumah si empunya hajatan.

Pada dasarnya tradisi ini hanya berisi doa-doa, tetapi tidak lengkap rasanya jika tanpa menyiapkan hidangan kuliner. Makanan yang sangat popular disajikan saat assuro maca ialah pisang raja. Masyarakat menyajikan pisang karena mereka meyakini bahwa pisang adalah simbol manis, dengan harapan bahwa kehidupan keluarga, masyarakat, hingga pekerjaan akan dikarunai kemudahan, seperti rasa manis yang ketika menyentuh lidah, menghadirkan kenikmatan tersendiri. Penyajian makanan terebut selain simbol pengharapan, juga adalah simbol ‘’takhallaqu bii akhlaqillah’’ dan memberi makan orang lain itu dicintai oleh Allah Swt.

Selain menyajikan aneka macam makanan tradisional seperti songkolo, nasu likku, hingga sayur kacang, masyarakat juga membakar stanggi atau dupa sebagai wewangian dalam kegiatan assuro maca tersebut. Dupa yang dibakar dan menghasilkan wewangian itu juga simbol pengharapan masyarakat agar kehidupan mereka dilimpahi keharuman dan juga wewangian adalah sunnah Rasulullah saw yang sangat beliau cintai.

Namun tampaknya, tak banyak masyarakat yang melakukan assuro maca di situasi pandemi penyakit Covid-19 yang terjadi sekarang ini. Kalaupun ada, biasanya terbatas dan tidak mengundang tetangga. Apalagi tradisi ziarah makam, yang menuntut kita untuk bepergian, rasanya muskyil untuk dilakukan.

Kondisi Sulawesi selatan saat ini masuk dalam zona merah penyebaran Covid-19. Maka, Anregurutta Sanusi Baco selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan menghimbau agar masyarakat tidak melakukan ziarah kubur yang dapat memancing kerumunan orang. Beliau menghimbau agar ziarah kubur diganti dengan mengirim Al fatihah serta doa kepada orang tua atau kerabat yang sudah meninggal, sebab ganjarannya pun tetap sama.

Walaupun tradisi ziarah kubur baik dan harus senantiasa kita lestarikan sesuai denga kaedah “Almuhafadzoh bil qadimish sholih wal akhzu bil jadidil ashlah’’, akan tetapi jika kondisi seperti saat ini menghindari kerusakan lebih baik daripada mendahulukan kebaikan: ‘’Dar’ul mafashid muqaddamu ‘ala jalbil masholih’’

PW NU SULSEL

Jadi karena Ramadhan rahun ini kita dilanda pandemic Covid-19, maka baiknya kita mengikut himbauan “ulil amri minkum’’ yang sudah sangat bijak dalam membuat keputusan. Begitulah seharusnya (tasharraful imam ‘ala raiyyati manuthun bil mashlahah) agar terhindar dan memutus mata penyebaran Covid-19. Semoga kita bisa bertemu di hari kemenangan yang di mana Allah SWT melantik kita menjadi Al-Muttaqun dan mendapatkan Al-libasu Taqwa, pakaian takwa. Amin.

Andi Muhammad Muslim, Kader PMII Cab. Makassar & Penggerak GUSDURian Makassar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here