Apakah Bacaan Al Quran Bermanfaat Bagi Mayit?

0
1725
Ilustrasi (Google Images)

Bismillahirrahmanirrahim,-

Sebagai pengantar, saya menyampaikan rasa apresiasi dan takrim kepada ust. Dr. Musyaffa Ad Dariny, Lc. M.A. hafidzahullah atas ceramah, ilmu dan nasehat-nasehatnya yang insya Allah bermanfaat. Nafa’anallah bi ulumih. Namun, dalam kaitannya dengan pernyataan beliau dalam salah satu ceramahnya di channel youtube Masjid As Salam Bekasi dengan tajuk “Hukum Kirim Al Fatihah”. Beliau membahas tentang boleh tidaknya mengirimkan bacaan al-Fatihah kepada orang yang sudah wafat atau mayit, dan dampak pernyataan tersebut pada sebagian besar umat Islam, maka saya merasa perlu memberikan beberapa catatan kecil.

Kenapa catatan kecil? Oleh karena ilmu saya masih minim, masih belajar dan muttabi’ kepada ulama. Dan masalah itu hanyalah satu perkara (qadhiyyah) furu’iyyah yang tidak perlu dipertentangkan, tetapi jika dihembuskan dengan corong panas, itu bisa bikin ‘gerah’ orang yang mendengar.

Pertama, akhuna Ustad Musyaffa menyebut bahwa segala bentuk perbedaan pendapat harus dikembalikan kepada Allah (Alquran) dan Rasul-Nya (Hadis), dengan mengutip potongan ayat QS An Nisaa : 59

فإن تـنــازعــتم في شيء فـردوه إلي الله والرسـول إن كنـتم تؤمـنـون بالله واليوم الآخـر

Potongan ayat ini merupakan kelanjutan kalimat sebelumnya, yaitu perintah untuk mentaati Allah, Rasul dan ulil amri. Maka tidak bijak jika kedua kalimat itu dilepaskan dan dipahami terpisah. Ulil amri adalah pemimpin dan penanggung jawab urusan. Dalam urusan agama, ulil amri adalah ulama, dan masing-masing kita taat dan muttabi’ kepada pendapat ulama yang dianut.

NU muttabi’ kepada ulamanya, demikian pula Muhammadiyah, Persis, Wahdah, Salafi, HTI, dan sebagainya. Maka pada prinsipnya, persoalan furu’iyyah merupakan hak masing-masing untuk mengamalkan sesuai ajaran yang disetujui. Namun, dalam persoalan prinsipil dan berdampak besar, maka wajib taat kepada ulil amri yang disepakati (ijma), seperti fatwa-fatwa MUI terkait bolehnya tidak shalat jumat di mesjid untuk menghindari penyebaran virus covid-19 yang mudlaratnya global.

Dalam adab ikhtilaf, tidak semua perbedaan pendapat serta merta dianggap “perselisihan” (التــنــازع). Menghadiahkan bacaan Al Quran kepada mayit, boleh atau tidak, bukan lah perselisihan (tanazu’), tapi perbedaan pendapat yang bersifat ijtihadi (ikhtilaf). Tanazu’ dipahami sebagai perbedaan yang diperselisihkan dan berpotensi mengarah, atau diarahkan, kepada permusuhan, saling benci dan ambisi untuk mengalahkan satu pihak.

Ini sering terjadi pada masa pra Islam, di mana suku-suku arab selalu tanazu’ pada perkara-perkara kepentingan kesukuan mereka. Maka Islam datang mengajarkan bagaimana bersatu dan menghindari perpecahan dalam payung Islam. Warga Nahdliyyin bersyukur karena mereka memiliki pertahanan diri untuk tidak terjerumus dalam tanazu’ yang destruktif, yaitu etika loyalitas kepada ulama dan kaidah-kaidah ushuliyah dalam menyelesaikan perbedaan pendapat (ikhtilaf).

Prinsip Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah menyatakan bahwa perbedaan pendapat para imam mazhab dan ulama bukan musibah, tetapi rahmat bagi umat. Kita sering membaca hadis Nabi saw: إخـتــلاف أمــتي رحـمـــة  “Perbedaan (pendapat dalam urusan agama) pada umatku adalah rahmat (kasih sayang Allah bagi mereka).” Lantas kenapa kita alergi dengan perbedaan?

Orang yang mengamalkan hadiah bacaan Al Quran kepada keluarganya yang telah meninggal dunia tidak berdosa, dan sama halnya yang tidak mengamalkan juga tidak berdosa. Itulah furu’iyyah dan tidak ada kaitannya dengan bid’ah apalagi dlalalah (kesesatan). Orang mati dapat kiriman pahala bacaan Al Fatihah dari anaknya, pasti bergembira dan menjadi rahmat baginya. Orang yang tidak dikirimi hadiah pahala karena anaknya mengira tidak sampai pahalanya, rahmat juga untuk orang mati itu, karena tidak perlu repot menunggu kiriman apapun dari keluarganya. 

PW NU SULSEL

Kedua, saya menemukan beberapa dalil dari hadis dan qaul ulama yang mu’tabarah tentang hukum bolehnya mengirimkan bacaan Alquran kepada mayit. Meski belum didalami, tetapi cukuplah untuk dipahami oleh masyarakat awam agar tidak saling menyalahkan pada persoalan furu’iyyah.

Dalam Al-Fatawa al-Kubra, jilid 3 (kitab al-janaiz), Ibnu Taimiyyah (imam dan ulama panutan Wahabi-Salafi) berkata:

أن الميت ينـتـفـع بقــراءة القــرآن كمــا ينـتـفـع بـالعـبـــادة المــاليــة من  الصــدقــة ونحوهـــا

Artinya: Sesungguhnya orang mati (mayit) itu memperoleh manfaat dengan (hadiah) bacaan Al Quran, sebagaimana bermanfaat baginya (pahala) ibadah harta seperti sedekah dan sebagainya.

Maksudnya, jika sedekah harta atau materi itu pahalanya sampai kepada si mayit, maka terlebih lagi bacaan Alquran yang diniatkan pahalanya untuk mayit.

Dalam kitab Al-Ruh, Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah (juga adalah salah seorang imam panutan Wahabi-Salafi) menyebutkan:

أول مـا يهــدى إلى المـيـت الصـدقـة والإستغـفــار والدعـاء له والحـج عنه. وأمــا قــراءة القـرآن وإهــداؤهـا إليه تطـوعـاً من غيـر أجــر فهــذا يصــل إليه  كمــا يصـل إليه ثــواب الصــوم والحـج

Artinya: Yang paling utama untuk dihadiahkan kepada mayit adalah sedekah, istighfar, doa dan haji yang diniatkan untuknya. Adapun bacaan Alquran yang dihadiahkan orang hidup kepadanya secara suka rela tanpa diupah, maka bacaan itu sampai pahalanya kepadanya, seperti halnya hadiah pahala puasa dan haji.

Ibn al-Qayyim, di bagian lain dari kitabnya, menganjurkan orang yang akan menghadiahkan bacaan Alquran agar terlebih dahulu “meniatkan” pahala bacaannya itu untuk si mayit, dan tidak disyaratkan untuk dilafadzkan, cukup di hati. Ini sejalan dengan kaidah ushul yang mengatakan: الأمـــور بمـقــاصـدهــا yaitu bahwa segala perkara (urusan ibadah dan sebagainya) ditentukan oleh maksud (niat) dilakukannya perkara tersebut. Jika untuk diri si pelaku, maka dia dapatkan pahalanya, dan jika maksudnya untuk dihadiahkan orang lain, maka pahalanya kepada yang diniatkan.

Imam al-Hanafi dalam kitab Syarh Fath al-Qadir ala al-Hidayah menyebutkan hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib, Nabi saw bersabda:

من مــرّ على المــقــابـر وقـرأ  قل هو الله احـد إحــدى عشــرة ثـم وهـب أجــرهـا للأمــوات أعطي من الأجــر بعـدد الأموات

Artinya: “Barang siapa yang melewati pekuburan dan membaca qul huwallahu ahad (surah Al Ikhlas) sebelas kali lalu dia hadiahkan pahalanya kepada seluruh mayit di tempat itu, maka dia akan mendapat pahala sebanyak jumlah mayit yang diniatkan.” Jika sekiranya pahalanya tidak sampai, untuk apa Nabi perintahkan sahabat-sahabatnya membaca seperti itu?

Disebutkan dalam Hawasyi Tuhfat al-Muhtaj bi Syarh al-Manhaj, mazhab Syafiiyah sepakat bahwa pahala sedekah sampai kepada mayit. Adapun pahala bacaan Al Quran ada perbedaan pendapat, namun yang terkuat adalah pendapat bahwa pahala itu sampai dan harus diyakini sampainya karena itu adalah termasuk doa untuk mayit. 

Muhammad bin Ahmad al-Marwazi mendengar Imam Ahmad bin Hambal berkata: Apabila kalian masuk dalam pekuburan maka bacalah surah Al Fatihah, Al Ikhlas dan Al Muawwizatain, lalu niatkan pahala bacaan surah-surah itu kepada para ahli kubur, maka pahalanya akan sampai kepada mereka. Para ulama mengajarkan sebaiknya dibaca doa setelah membaca  surah-surah tersebut :

اللهــم أوصــل ثـواب مـا قــرأتــه إلي …

“Ya Allah, sampaikanlah pahala apa yang saya baca ini kepada … (nama mayit yang dituju)”

Seluruh imam mazhab sepakat bahwa sedekah dan doa kepada orang yang telah meninggal dunia sampai dan tidak tertolak. Dengan demikian bacaan Alquran yang disertai niat dan doa tentunya sampai juga kepada mayit.

Ketiga, alasan bahwa mengirimkan pahala bacaan Al Quran kepada mayit itu tdk ada dasarnya karena Nabi dan sahabat sendiri tidak pernah mengamalkan adalah absurd dan tidak bisa diperpegangi. Ulama dan warga NU berprinsip bahwa sesuatu amalan yang tidak dilakukan Nabi saw tidak berarti dilarang selama tidak ada nash yang melarang dan tidak bertentangan dengan nash serta maqashid al-syariah.

Ada banyak amalan yang tidak diamalkan Nabi saw, baik dari informasi sejarah dan riwayat hadis, namun bukan pelanggaran syariat. Misalnya, membangun menara mesjid, memakai sajadah dalam shalat, mahar nikah dengan seperangkat alat shalat atau sebidang tanah, melaksanakan khataman Al Quran, mendirikan pesantren tahfidz dan panti asuhan, melaksanakan kegiatan MTQ, dan menghitamkan jidat dengan alasan tanda sujud. Apakah semua itu akan digugat dan disalahkan? Ulama dan warga nahdliyyin dalam masalah ini dua langkah lebih cerdas.

Keempat, penulis membangun preposisi-preposisi logis sebagai dalil aqli dalam persoalan ini. Membaca Al Quran oleh orang hidup pastinya berpahala. Tidak ada yang membantah ini. Jika bacaannya “dihadiahkan” kepada mayit, karena keyakinannya bahwa pahalanya sampai, dan ternyata memang sampai, maka tujuan tercapai dan pahala tertransfer.

Sebaliknya, jika seseorang yakin dan mengirim pahala bacaan ke mayit, tapi ternyata kiriman pahala itu tidak sampai, seperti pendapat Ustad Musyaffa di channel youtube tersebut, maka pahala bacaan Al Quran itu, sedikit atau banyak, akan “kembali” kepada si pembaca. Maka dalam pandangan penulis, sama sekali tidak sia-sia mengamalkan tradisi membacakan Al Fatihah kepada orang tua, guru dan keluarga kita yang sudah meninggal. Berkah buat si pembaca, berkah juga buat mayitnya.

Pertanyaannya, orang menolak membacakan Al Fatihah ke mayitnya, karena tidak yakin sampai pahalanya, pahala apakah yang didapatkannya? Dan apakah yang ditunggu oleh mayitnya jika ternyata dia butuh tambahan pahala dari anak-anaknya? Jadi sebaiknya biasakanlah mengirimkan pahala bacaan kepada keluarga dan guru serta ulama-ulama kita. Urusan sampai atau tidak, serahkan kepada Allah. Kata Gus Dur, gitu aja kok repot!

Wallahu a’lam

AG. KH. Afifuddin Harisah, Ketua PW Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU Sul-Sel & Pimpinan Ponpes An Nahdlah Makassar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here