Annangguru Sahabuddin dan Warisan Mulia Bernama Unasman

0
1354
AG. Prof. Dr. KH. Sahabuddin

Tahun 2019 lalu, penulis bersyukur dapat bertudang sipulung ria dengan sahabat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Menjadi teman sharing bersama peserta penerimaan anggota baru PMII se-Universitas Al-Asyariah Mandar (Unasman).

Diskusi berlangsung santai. Kami pagi itu membincang antropologi kampus. Sebuah diskursus yang  mengulas manusia-manusia yang beraktifitas di kampus. 

Satu hal yang penulis “klik” sewaktu  berdiskusi yakni tentang sejauh mana relasi antara visi Unasman dan arah gerakan PMII di internal kampus, yang sungguh sangat berat untuk mengurainya. Sebab berangkat dari segala keterbatasan penulis.

Dimulai dengan berselayang pandang saat Unasman pertama kali didirikan. Perguruan tinggi yang peletak dasarnya merupakan tokoh sufi, sesepuh PMII-NU, sekaligus tokoh pendidik di Indonesia Timur – Allahu Yarham Annangguru Haji (AGH) Prof. Dr. KH. Sahabuddin. 

Beliau diberi gelar guru besar tasawuf Asia Tenggara oleh IAIN Alauddin Makassar, lewat karyanya yang terkenal: Nur Muhammad (Pintu Menuju Allah). Sebuah tela’ah sufistik atas pemikiran Syekh Yusuf Annabhani. Buku bersampul hijau, yang prolognya ditulis langsung Dr. Alwi Shihab, menteri luar negeri di era Presiden Gus Dur.

AG. Prof. Dr. KH. Sahabuddin adalah panrita sufi yang lahir disebuah perkampungan teduh di Tanah Mandar, di kampung Sepang Desa Lembang-lembang, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kampung yang didiami oleh mayoritas orang Mandar, berikut segala kebersahajaannya, serta penganut Tarekat Qadiriyah yang selalu setia memegang teguh adat istiadat ke-mandar-an.  

Annangguru Sahabuddin menerima tongkat estafet Tarekat Qadiriyah dari guru beliau Allahu Yarham AG. KH. Muhammad Shaleh – bergelar Tomatindo di Pambusuang (beliau yang tertidur di Pambusuang). AG. Prof. Dr. KH. Sahabuddin juga mendapat bimbingan khusus dari ayah beliau Haji Pua Muhammad (pendiri dan Imam masjid Sepang).

AG. KH. Muhammad Shaleh sendiri berguru kepada Alim Allamah Al-Habib Assayid Alwi Bin Abbas Al-Maliki Al Hasani, tokoh sufi di bumi Hijaz, Makkah Al Mukarramah. Ayahanda dari Al-Habib Assayyid Muhammad Bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani. Diketahui juga beliau pernah berguru kepada Habib Syekh Umar Hamdan, Habib Sayyid Muhammad al-Idrus, dan Habib Syekh Hasan al-Masysyat. 

Haji Pua Muhammad juga diketahui pernah mendapat bimbingan dari Habib Assayyid Alwi bin Abbas Al Maliki. Bekal dari sanalah kemudian yang dipakai untuk membimbing anak-anak beliau. 

Kedalaman spritual Annangguru Sahabuddin yang beliau peroleh dari AG. KH. Muhammad Shaleh dan dari lingkungan keluarga beliau yang religius, kemudian mengilhaminya untuk mengaktualkan pengabdiannya kepada umat dengan mendirikan kampus yang kini bernama Universitas Al-Asyariah Mandar. 

Muhammad Muzani Zulmaizar, Direktur pondok pesantren Mahasiswa Unasman yang juga cucu dari Annangguru Sahabuddin mengatakan bahwa kampus tersebut didirikan pada tahun 1975, yang awalnya bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI). Pencantuman nama DDI atas izin langsung dari Allahu Yarham Anregurutta’ KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Sebab begitu susahnya pendirian sebuah kampus jika tak menggunakan nama lembaga.

PW NU SULSEL

Semakin berkembang, maka dibuka pula Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STIKIP) DDI dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) DDI, yang kemudian naik status menjadi Universitas Al-Asyariah Mandar di bawah naungan Yayasan Al-Asyariah Mandar.

Annangguru Sahabuddin memahami betul bahwa di tahun-tahun itu banyak masyarakat di Sulawesi Barat merajut asa, bermimpi ingin melihat putera-puterinya menjadi sarjana. Namun, asa tersebut yang umumnya suara hati dari kalangan petani kecil, nelayan, buruh bangunan, tukang becak, atau akrab dalam studi advokasi disebut kaum mustadlafiin.

Kegetiran hidup kaum mustadlafiin yang kerap kali harus menunda mimpi, karena keterbatasan akses dan biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.

Apalagi, belum adanya perguruan tinggi setingkat Universitas di ujung barat Sulawesi Selatan saat itu. Jarak tempuh ke Makassar dan Pare-pare yang jauh, semakin memantapkan hati dan tekad Annanngguru Sahabuddin untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut.

Unasman pun semakin istimewa, sebab menjadi salah satu prasyarat terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat di tahun 2004. Hal itu ditandai dengan kehadiran Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Puteri yang bertanda tangan di sebuah prasasti di depan aula kampus. 

Ke-Asyariah-an

Unasman menjadi perguruan tinggi swasta terbesar di Sulawesi Barat dengan karakternya yang khas – semi pesantren – perpaduan kearifan lokal, nilai-nilai keIslaman, dan ilmu pengetahuan berwawasan global.

Kampus yang dasar ketauhidannya merujuk pemikiran teologi tokoh besar Islam, Syekh Abu Hasan Al-Asyari. Istilah Ke-Asyariahan diambil dari nama tokoh yang sangat masyhur namanya dalam atlas kajian teologi Islam.

Dengan karakternya yang khas, salah satu mata kuliah wajib yang dipelajari oleh seluruh mahasiswa  adalah pendidikan agama Islam yang membekali mahasiswa dengan mata kuliah Islam Ahlusunnah Waljamaah An-nahdliyah. 

Mata kuliah sejarah teologi dan ke-Asyariahan di kampus Unasman, diajarkan oleh dosen agama pada pagi, siang, dan sore hari. Para dosen yang sudah dispesifikasi khusus untuk mengajarkan mata kuliah yang jarang dipelajari di kampus-kampus lain tentunya.

Selain diajarkan pada siang hari, Ke-Asyariahan juga diajarkan pada malam hari, tepatnya selepas sholat magrib. Mahasiswa semester awal hingga semester empat akan mendapat untaian-untaian hikmah dari sejumlah Annangguru lengkap dengan kitab klasik yang dilangsungkan di masjid kampus. Selama satu semester berjalan, mahasiswa wajib mengikuti pengajian sebanyak delapan kali.

Habib Assayyid Abdul Hamid Al-Mahdaly dan Annangguru Munu Kamaluddin dari Pambusuang Balanipa, yang kerap penulis jumpai mengampu pengajian-pengajian tersebut.

Terkait gelaran pengajian ini, Unasman membentuk pesantren mahasiswa yang ditugasi khusus mengurusi jadwal kedatangan para Annangguru. Di bawah naungan Pondok Pesantren Mahasiswa Unasman, dibentuk Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang kurang lebih mengurusi teknis serta administrasi pengajian. LDK tersebut diberi nama LDK Annabhani. Diambil dari nama tokoh sufi Syekh Yusuf Annabhani. Kemudian, kurikulum yang diajarkan sudah melalui pembahasan sangat ketat di internal Pesantren Mahasiswa yang bertanggung jawab langsung ke Ketua Yayasan. 

Namun demikian, materi Ke-Asyariahan ini hanya berlaku bagi mahasiswa yang beragama Islam saja. Bagi yang non-muslim dikondisikan dengan ajaran agama dan keyakinan masing-masing, dengan tenaga pengampu yang juga dikondisikan dengan agama si mahasiswa (biasanya dari kalangan pendeta atau pastor).

Saat penulis masih menjadi mahasiswa di kampus Unasman dulu, setiap hari jumat, (libur perkuliahan) mahasiswa non-muslim akan melangsungkan perkuliahan tersendiri dengan tenaga pengampu yang penulis maksudkan tadi.

Saat kampus tak terlampau ramai, para mahasiswa (yang non-muslim) melangsungkan perkuliahan dengan mata kuliah agama sesuai keyakinannya. Kemudian, di hari-hari yang lain, mereka akan berbaur kembali dengan mahasiswa seperti biasanya di kelas masing-masing.

Ke-Mandar-an

Peristilahan ini berangkat dari sejumput nilai-nilai kearifan lokal Mandar yang muaranya pada kemuliaan akhlak. Ke-mandar-an adalah falsafah hidup orang-orang Mandar yang laku hidupnya senantiasa berinteraksi dengan damai bagi sesama manusia dan alam sekitar.

Paradigma mengabdi untuk semua yang menjadi motto Unasman, dilatari oleh falsafah hidup leluhur orang-orang di tanah Mandar yang terbentang dari Paku (perbatasan Sulawesi Selatan) hingga Suremana (perbatasan Sulawesi Tengah). 

Falsafah yang terbentang dari bumi Pitu Ulunna Salu (PUS) hingga Pitu Babana Binanga (PBB) yang senantiasa saling menguatkan, siasayangngi (saling menyayangi) antara satu dengan yang lain, tanpa memandang suku, agama dan budaya. Sebagaimana yang terdapat pada logo Unasman. 

Dari filosofi kehidupan inilah, kita akan dengan mudah menjumpai aktualiasasi nilai-nilai ke-mandar-an dengan adab mahasiswa yang mencium tangan dosennya, sebagai bentuk penghargaan murid kepada gurunya. 

Kita juga akan mudah menemu kenali mahasiswa yang diajarkan untuk bertutur krama yang baik dan senantiasa “metabe'” jika melintas di hadapan orang banyak atau di depan para mahasiswa-mahasiswa senior dan dosen.

Annangguru Sahabuddin ingin menjadikan Unasman sebagai pusat kebudayaan di Sulawesi Barat dan laboratorium kepemimpinan bagi generasi muda di tanah Mandar, yang khas dan berbeda karakter dengan perguruan tinggi lain di Indonesia. 

Warisan mulia  yang diharapkan  terus bersemai, ajaran beliau tak lekang oleh waktu untuk menjaga harmoni kebhinekaaan di Pitu Ulunna Salu dan Pitu Babana Binanga. Sebuah ajaran untuk merawat ukhuwah keislaman, kemanusiaan, dan kebangsaan dari Paku hingga Suremana dalam sebuah paradigma besar Unasman: mengabdi untuk semua. 

Cara pandang yang menebarkan wewangian Islam Rahmatan Lil alamin sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat bagi seluruh masyarakat di Tanah Mandar tercinta.

Ahad 6 Februari 2005, AG Prof Dr. KH. Sahabuddin berpulang keharibaan Ilahi. Haul Akbar beliau biasanya digelar antara bulan februari, maret, dan april. Dihadiri tokoh penting baik di tingkat lokal hingga nasional. Dibanjiri ribuan jamaah tarekat Qadiriah, mahasiswa, civitas akademika Unasman, alumni, dan warga Nahdliyyin lainnya yang ingin meraup berkah dari beliau. Namun pandemi global Covid-19 membuat majelis akbar nan mulia tersebut ditunda untuk sementara waktu.

Semoga dengan keberkahan dari AG Prof Dr. KH. Sahabuddin kita dijauhkan dari bala dan wabah virus covid-19, sehingga dapat berjumpa bulan suci Ramadhan dengan penuh khidmat dan mendapat magfirah dari Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin.

Al-Fatihah!

Muhammad Arif, Wakil Ketua GP Ansor Polewali Mandar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here