60 Tahun PMII dan Harapan Seorang Kader

0
1100
Ilustrasi (NU Online)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sejak didirikan pada 17 April 1960 telah ikut serta dalam mengawal keberlangsungan pembangunan bangsa ini, baik dalam ranah politik, sosial, pendidikan, ekonomi maupun kebudayaan. Perjalanan dan kiprah PMII genap sudah 60 tahun (17 April 1960 – 17 April 2020).

Harapan, keinginan, dan tentu saja mimpi akan keberlangsungkan disiplin intelektual di tubuh PMII bisa terwujud sebagai mana pesan yang terkandung di dalam tujuan PMII itu sendiri . Termaktub di dalam anggaran dasar (AD) PMII Bab IV pasal 4 “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”.

Didirikannya Organisasi bernama PMII tentu saja mempunyai cita-cita dan tentu saja sebuah tujuan yang jelas. Dengan berlandasakan ideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah An-nahdliyah (Aswaja) yang memiliki inti sari serta prinsip-prinsip seperti tawazun (seimbang), tawasuth (moderat), tasamuh (Toleran),  ta’adul (Adil), dan tabayyun (jelas). Manifestasi ini bukan hanya sekedar simbolitas semata, melainkan diharapkan mampu menerapkan prinsip-prisip tersebut di dalam ranah pergerakan, mahasiswa, Islam dan Indonesia.

Sementara itu, ada yang berbeda dari perayaan harlah PMII saat ini, karena diarayakan di tengah-tengah pandemik COVID-19. Tetapi itu bukan menjadi penghalang bagi warga PMII untuk tetap merayakan hari kelahiran salah satu organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia. Merayakan harlah PMII bukan hanya sekedar open ceremony saja, melainkan harus tetap mengingat konstribusi para pendahulu terkait gerakan dan spirit perjuangannya.

Penulis sangat termotivasi dari semangat juang dari mantan ketua umum PB PMII pada tahun 1967-1970 “Sahabat Zamroni”. Disadari atau tidak, terjadinya aksi besar-besaran pada 1966 yang mengatasnamakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) adalah buah keringat dari sahabat Zamroni bersama mahasiswa-mahasiswa yang tersebar seluruh Indonesia.  Spirit perjuangan yang membara tidak berhenti pada kepuasan dalam meruntuhkan Rezim Orde Lama, tetapi Zamroni adalah sosok motivator yang yang sangat memperhatikan keberlansungan organisasi (PMII) dalam menapaki masa depan organisasi dan sebagai pengagas “independensi” PMII.

Meminjam istilah Tan Malaka bahwasanya idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda. Anggota dan kader yang masih eksis di garis struktural maupun kultur diharapkan mampu dan senantiasa berkomitmen dengan menyiarkan agama Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah An-nahdliyah serta semangat yang berkobar dalam mempertahankan keberlansungan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tak kalah penting, bagaimana kemudian menghidupkan kultur intelektual melalui forum-forum diskusi maupun kajian untuk tetap melatih nalar kritis, serta mengimplementasikan pengetahuan dan wawasan terhadap realitas sosial yang sedang dihadapi.

Setelah ditetapkan nilai dasar pergerakan (NDP) pada saat musyawarah kerja nasional (Mukernas) yang ke-III di Bandung, 1-5 Mei 1976, PMII menyusun NDP yang merupakan sebagai tali pengikat  (kalimatun sawa”) yang mempertemukan semua warga pergerakan ke dalam ranah dan semangat perjuangan yang sama. Oleh karena itu, setiap pemikiran, gerak maupun langkah warga PMII harus didasari dengan nilai-nilai yang terkandung didalam NDP. (Ahmad Hifni, Menjadi Kader PMII: 2016)

Tetapi di lain sisi, paradigma juga sangat penting sebagai titik pijak dalam membangun konstruksi pemikiran serta cara pandang untuk menghadapi realitas sosial saat ini. Meminjam istilah  dari Nur Sayyid Santoso Kristeva, bahwa dengan adanya paradigma Kritis dan Transformatif diharpakan warga pergerakan dapat mencerminkan Imagined community (komunitas imajiner) sehingga terbentuknya intelektual organik, agamawan kritis, professional lobbyer, ekonom yang cerdas, budayawan kritis, dan praktis pendidikan yang transformatif.

Di berbagai forum ilmiah, kajian maupun forum diskusi di warung kopi (warkop), penulis menyadari dari setiap anggota maupun kader PMII ketika diperhadapkan dengan NDP dan paradigma itu sendiri, belum mampu memahami secara jelas dan realistis. Hemat penulis hal ini mungkin saja terjadi karena berbagai hal.

Pertama. Anggota dan kader PMII sulit membedakan antara peran NDP dan paradigma di dalam tubuh pergerakan. Kedua secara nasioal di tahun 2020 ini pengurus besar (PB) PMII belum mengeluarkan sebuah sikap terhadap paradigma mana yang akan digunakan. Ketika dalam sejarah tubuh pergerakan sendiri sudah ada tiga paradigma yang pernah kita gunakan selama ini, yakni: (1) Arus Balik Masyarakat Pinggiran. (2) Kritis Transformatif. (3) Menggiring Arus.

Ketiga ,harus ada rumusan paradigma baru, sebab di era demokrasi ini dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara sudah berubah, jauh berbeda dibandingkan beberapa dekade terakhir, khususnya pada tahun 90-an.

PW NU SULSEL

Dengan semakin bertambahnya anggota dan kader PMII yang tersebar di pengurus besar (PB), pengurus koordinator cabang (PKC), pengurus cabang (PC), pengurus komisariat (PK) dan pengurus rayon (PR) di tingkat paling bawah diharapkan senantiasa dan setia dalam berkomitmen dalam menjalankan nilai-nilai dan tujuan PMII itu sendiri, sehingga melahirkan kader yang “Ulil Albab”.

Serta menjadikan PMII sebagai gerakan yang mengemban misi intelektual dan berkewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab menyebarkan komitmen keislaman dengan haluan Ahlussunnah Wal Jama’ah An-nahdliyah serta membesarkan bangsa Indesesia dari segala bentuk permasalahan yang membelenggu bangsa selama ini. Penulis juga mengharapkan bahwasanya anggota dan kader PMII akan terus bergerak di “rel” pergerakan dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan yang sama.

Penulis juga mengharapkan, bahwasanya anggota dan kader PMII mampu menciptakan sebuah iklim, di mana iklim itu mampu menciptakan suasana yang sehat, dinamis, dan kompetitif yang selalu dibimbing dengan bingkai taqwa, intelektual, dan profesional. Sehingga mampu meningkatkan kualitas pemikiran dan prestasi, terbangunnya suasana kekeluargaan dalam menjalankan tugas suci keorganisasian, kemasyarakatan dan kebangsaan.

Selamat Hari Lahir PMII (PMII ku, PMII mu dan PMII kita semua) 17 April 2020. Bukan tentang siapa yang paling pertama di PMII, tetapi siapa yang bisa bertahan hingga akhir dan berkontribusi terhadap PMII, tanpa berfikiran apa yang diberikan PMII kepada saya.

Rahmat Hermawan, Kader PMII Gowa

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here