Surat Cinta untuk PMII: Sebuah Refleksi di Hari Lahir

0
950

Dalam dunia kampus, lembaga kemahasiswaan menjadi tempat yang dicari, selain bangku di kelas kuliah. Doktrin yang beredar kebanyakan tentang kuliah yang tidak cukup menunjang wawasan dan kapasitas diri. Katanya pula, manusia memiliki potensi begitu besar, namun dalam proses aktualisasinya perlu ada wadah, serta faktor untuk mendorong potensi itu muncul. Sesuatu yang menurut aktor lembaga kemahasiswaan tidak “mengada” dalam ruang akademik.

Lembaga kemahasiswaan hadir mengisi ceruk yang kadang ditinggalkan kampus: sebagai tempat melepas kejumudan berfikir dan ruang untuk mengeksplor kemampuan diri. Mereka wara wiri “mengiklankan diri”, demi meraup hati para mahasiswa untuk menjadi penerus dari sebuah lembaga. Tidak heran para mahasiswa yang jumlahnya sampai ribuan itu kewalahan melihat banjirnya tawaran untuk bergabung di salah satu lembaga mahasiswa. Janjinya, segala kemewahan intelektual, pun strategi merebut gegap gempita “kekuasaan” di level antarmahasiswa.

Banyak yang bergabung, jumlahnya berbeda di masing-masing lembaga. Tergantung sejauh mana promosi “iklan” berbau doktrin menyentuh benak mahasiswa. Janji manis itu dianggap momentum, barangkali bisa sukses seperti kakak-kakak yang bicara di hadapan mimbar, yang eksis berswafoto bersama pejabat pemerintahan tertentu, atau yang hanya sesekali muncul di koran lokal sebagai penulis opini.

Beragam tujuan bermunculan, entah yang murni untuk memperoleh pengetahuan, mendapat jaringan dari lokal sampai nasional, hingga punya tempat tinggal gratis, sebab ada sekretariat atau kosan senior tempat bisa tidur nyenyak. Fenomena yang akrab berulang tiap tahun, setiap mahasiswa baru berkemeja putih membanjiri auditorium.

Tentang PMII

Lembaga kemahasiswaan terbagi atas dua ada intra dan ekstra. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan lembaga ekstra kampus yang lahir 17 April 1960. Sebutan untuk hari lahirnya adalah Harlah. Lain halnya organisasi ekstra lainnya ada milad, dies natalies, dan lain-lain.

Berangkat dari paradigma PMII sebagai amunisi semangat kader maka kehadiran PMII akan selalu menemukan titik temunya dalam dinamika kemahasiswaan yang ada di kampus. Selain itu, ideologi keislaman yakni Ahlu Sunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah menjadi ciri khas bahwa PMII adalah anak dari Nahdlatul Ulama (NU).

Prinsip Ahlu Sunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah seperti tawazzun, tawassut, tasamuh, dan ta’adul menjadi bekal diri anggota/kader PMII dalam dunia kemahasiswaan di tingkat kampus. Dan tak luput untuk tetap menjadi mahasiswa yang kritis dalam proses pengawalan kebijakan-kebijakan baik dalam ataupun luar kampus itu sendiri.

PMII pun menjadi salah satu lembaga kemahasiswaan yang gemar “beriklan” seperti yang saya utarakan di bagian awal-awal “surat” ini. Namun, apakah PMII hanya jago “marketing” saja? Bagaimana laku kader PMII, berikut lembaganya, menghadapi geliat zaman yang semakin riuh dengan akrobat digitalisasi dan otomatisasinya?

PMII dan Digital Native

Di era Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan lahirnya digital native (budaya digital), mahasiswa dan juga lembaga kemahasiswaan dituntut untuk beradaptasi dengan percepatan teknologi. Sebagai lembaga yang secara kultural dekat dengan Nahdlatul Ulama, prinsip PMII tentu tak jauh dari induk semangnya ini. Apalagi dalam merespon perubahan dunia, PMII selayaknya berlandaskan pada kaidah fiqih yang amat yakni al-mukhafadzotu ala qadimi as-sholih wal akhdzu bil jadidi aslah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

PW NU SULSEL

PMII memiliki motto, “zikir, fikir, dan amal saleh”. Aspek “fikir” bermakna kader PMII senantiasa berlaku sebagai seorang pencari kebenaran, yang prosesnya mesti bertungkus lumus dengan beragam sumber pengetahuan. Era digital native turut mengubah cara individu mengakses informasi dan pengetahuan. Internet menghadirkan segalanya. Tugas kader PMII adalah memaksimalkan potensi internet dan media sosial, dalam upaya mengonsumsi bahan-bahan referensi demi menunjang daya pikir yang kritis dan transformatif. Tentu saja, tanpa mengesampingkan pentingnya buku bacaan cetak yang juga sangat mudah diakses.

Lebih lanjut, aspek “amal saleh” merupakan agenda praksis dari ilmu pengetahuan yang sudah tersusun secara sistemastis dalam kerangka berpikir kader PMII. Amal saleh merupakan pengejawantahan pengetahuan di tingkat realitas, yang digunakan sebagai bagian dalam proses transformasi sosial. Sebab, PMII punya tugas penting dalam mengadvokasi, mengedukasi, dan berpatisipasi dalam ruang-ruang yang membawa maslahat bagi kaum mustadafiin. Amal saleh memuat nilai perjuangan, kemanusiaan, kesetaraan, kemajemukan, dan keadilan.

Dalam lingkup digital native, kader PMII bisa menjadi produsen informasi yang bernilai edukasi dan advokasi. Bukan hanya sekadar penikmat atau konsumen pengetahuan, di mana hanya berakhir di kepala sendiri atau di panggung kajian yang kadang masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Era digital memungkinkan kader PMII memproduksi beragam konten yang kreatif, sebagai respon atas maraknya narasi yang konservatif dan sangat rasis pada yang berbeda. Juga bisa memanfaatkan media digital dalam mendorong proses advokasi kepada rakyat yang kehilangan ruang hidupnya oleh para cukong dan gerombolan oligarki.

Aspek terakhir sekaligus yang disebut pertama adalah “zikir”. Zikir merupakan laku imanen dari setiap kader PMII, sebab tanpa “kun fa ya kun” dari Sang Pencipta, usaha rasional dan praksis transformatif akan tumpul di tengah jalan. Setelah berdialektika dengan pengetahuan dan bergerak melakukan perubahan, maka doa, wirid, dan tawakkal adalah jalan terakhir.

***

Demikianlah surat cinta nan singkat ini untuk PMII dan segenap kadernya dalam rangka Harlah PMII ke-60, di mana kehadiran PMII dari masa Orde Lama hingga sekarang terus memberikan kontribusi terbaik dari para anggota dan kader-kadernya. Penulis berdoa dan berharap besar agar PMII terus membumi dan berkibar hingga akhir (ila yaumil qiyamah) dengan prinsip-prinsip Ahlu Sunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah yang dibawanya.

Semoga “zikir, fikir, dan amal saleh”, tidak berakhir sebagai motto yang hanya dihafalkan di sesi Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA), tetapi diwujudkan dalam setiap tarikan nafas dan gerak langkah para kader PMII.

Salam pergerakan!

Arif Nurkholis, Pengurus Cabang PMII Kab. Gowa

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here