Renungan Dan Pelajaran Dari Wabah Covid-19

0
225
Ilustrasi (NU Online)

Sepekan terakhir, penulis melaksanakan tugas di rumah, istilah kerennya Work from Home, Study from Home, dan Pray from Home bersama keluarga. Sebelumnya, tetap ke Masjid berjamaah dengan pandangan pribadi bahwa Masjid adalah rumah Allah untuk memohon, mengadu, mendekat, berlindung dari bencana dan serangan makhluk sangat kecil yang tidak tampak dengan mata telanjang, namun menggemparkan dunia.

Peristiwa ini mengantar umat manusia merenung dan sadar betapa tidak berdaya dan lemahnya di hadapan yang Maha Kuat, Maha berkehendak. Betapa kecilnya manusia di hadapan yang Maha Besar, Maha Kuasa. Betapa terbatasnya ilmu pengetahuan manusia di depan pemilik Ilmu yang Maha Mengetahui. Seluruh realita peristiwa adalah ayatnya sebagai media pembelajaran dan perenungan untuk  lebih mengenal  “diri” dan Tuhan semesta alam.

Covid-19 pertama mewabah di Wuhan China, kemudian menyebar dan menjadi  pandemi  dunia.  Berbagai pandangan muncul di media. Ada yang beranggapan virus corona hadir akibat kesombongan China karena kemajuan ekonomi yang hampir menguasai pasar dunia, ada yang berpandangan karena perilaku konsumsi hewan liar sebagai kudapan di negeri Tirai Bambu tersebut.

Penulis berpandangan dari sisi lingkungan bahwa mewabahnya virus corona adalah  bentuk ”protes” lingkungan, reaksi alam akibat aksinya manusia (baca: kapitalisme). Bencana hadir melengkapi reaksi alam dalam bentuk  banjir, gempa bumi, angin topan dan lain-lain. Bumi lahir dengan keseimbangan dan segala isinya diciptakan untuk kepentingan manusia, namun aktifitas segelintir manusia yang mengganggu keseimbangannya, karena eksploitasi mengejar kepentingan materi.

Mikroorganisme bagian dari unsur lingkungan yang sebagian berperan dalam menjaga keseimbangan alam. Ada yang bermanfaat langsung dan sebagian “tidak” bermanfaat. Tuhan menghadirkan makhluk renik yang bermanfaat lebih banyak dari yang tidak bermanfaat, namun ketika yang bermanfaat terganggu, dampaknya makhluk renik yang tidak bermanfaat akan muncul mengganggu keseimbangan sistem.

Begitu pula dalam diri manusia Allah menciptakan ribuan enzim pangkal, menjaga keseimbangan metabolisme tubuh, termasuk menata kehidupan mikroba dalam tubuh. Gaya hidup dan pola makan dapat mempengaruhi atau menguras enzim pangkal dan merusak keseimbangan alamiah tubuh (baca: menimbulkan penyakit).

Virus corona yang menggemparkan dunia adalah sesuatu yang tidak tampak. Solusinya perbanyak merenung, meratapi, memohon, mendekat kepada yang tidak tampak. Kita yakini bahwa apa yang terjadi adalah kehendak-Nya. Akan tetapi datang karena ada penyebab bahasa kitabnya musibah datang karena izin-Nya akan tetapi datang karena akibat ulah atau perbuatan hambanya. 

Karena keyakian bahwa Virus corona mewabah ada penyebab dan di izinkan oleh yang menciptakan segalanya, maka para ilmuan mencoba mencari penyebabnya dengan pendekatan sains. Mulai dari mempelajari  virusnya, proses penyebarannya, bagaimana menginfeksi, dan lain-lain. Sehingga menghasilkan kesimpulan yang direkomendasikan melalui organisasi kesehatan dunia (WHO), Kementerian Kesehatan, hingga Majelis Ulama Indonesia.

Bentuk rekomendasi yang dianggap ampuh dalam perhitungan sains-rasional adalah menjaga jarak sosial distancing, physical distancing, sehingga hampir semua aktifitas yang melibatkan interaksi banyak orang harus dihindari, termasuk yang terkait dengan pelaksanaan ibadah.

Ibadah dengan anjuran/disunnahkan berjamaah di rumah ibadah untuk sementara dianjurkan pelaksanaannya di rumah masing-masing. Bahkan yang wajib berjamaah di rumah Ibadah, sementara tidak dilaksanakan karena kondisi darurat. Penulis akhirnya mencoba mentaati semua himbauan pemerintah (ulil amri) melalui MUI, namun selalu tetap merenung, termasuk merenungkan bahwa tampaknya himbauan WHO lebih “populer” dari himbauan MUI, bahkan mungkin masih ada yang perlu dipertimbangkan melengkapi himbauan pemerintah. 

Hasil dari perenungan penulis menyarankan 3 hal sebagai berikut:

PW NU SULSEL
  1. Mesjid yang untuk sementara sepi dengan jamaah, agar diramaikan dengan lantunan ayat-ayat suci Al Quran sebaiknya dengan terjemahannya. Al Quran adalah firman Allah yang diturunkan penuh dengan keberkahan. Ketika dibaca, di dengar, dipahami apalagi diaplikasikan dalam kehidupan bukan hanya berdampak spiritual, akan tetapi bisa berdampak psikis/kejiwaan bahkan fisik.  Dari pandangan sains, suara adalah pancaran gelombang kuantum yang diterima oleh alat pendengaran (bahkan terekam pada seluruh sel-sel tubuh) diolah oleh otak manusia, yang akan mempengaruhi kesadaran, pikiran, msindset, selanjutnya akan berpengaruh terhadap sikap, tindakan dan prilaku. Lantunan ayat suci Al Quran  memancarkan gelombang (kuantum) energi  positif yang pasti berdampak positif terhadap pendengar dan lingkungan (baca: menghadirkan pancaran aura, energi positif pada  lingkungan) yang boleh jadi menyebabkan covid-19 tidak bertahan alias hilang karena kehendak pencipta-Nya.
  2. Tayangan-tayangan media (TV, Radio, You Tube dll) hendaknya juga diarahkan  pada  hal-hal yang bisa mengantar penikmatnya banyak merenungkan dirinya dan pencipta-Nya.Tayangan yang cenderung mengarah pada penyebaran gosip, fitnah, hura-hura untuk sementara dihentikan dan mudah-mudahan menjadi bahan evaluasi untuk menata tayangan media di masa yang akan datang. TVRI  harus pertama memberikan contoh, dan pemerintah harus mengeluarkan regulasi yang mengatur TV swasta, termasuk  tayangan melalui youtube.
  3. Himbauan #Dirumahaja adalah momen berkumpul dan berinteraksi dengan anggota keluarga hendaknyadimanfaatkan untuk lebih banyak merenung, dzikir, ibadah doa bersama, membaca, mengkaji, memahami kitab suci serta mendengarkan lantunan ayat-ayat suci untuk menghadirkan “aura” energi positif dalam lingkungan rumah tangga, lingkungan masyarakat,dan akhirnya menciptakan ”aura” energi positif pada lingkungan nusantara.

Mudah-mudahan ketiga hasil renungan ini dapat menjadi masukan berbagai  pihak untuk melengkapi ikhtiar yang sudah dilakukan baik melalui himbauan pemerintah, organisasi, maupun secara pribadi. Insya Allah akan menyelamatkan warga bangsa dari wabah virus corona. Amin.

Penulis: Mir Alam Beddu

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here