Pua’ Kappung Penjaga Tradisi

0
408
Ilustrasi (NU Online)

Imam kampung, begitulah orang menyebut imam masjid yang juga dituakan oleh masyarakat sekitar. Salah satunya adalah Kunding, orang memanggilnya Pua’ Kasmi. Sosok berusia 65 tahun ini tinggal di Kelurahan Batupanga, Kecamatan Luyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ayah dari enam orang anak yang kelimanya telah berkeluarga dan satu bungsu yang masih gadis.

Sudah lebih dari dua puluh tahun lamanya beliau dipercayakan menjadi imam kampung. Ilmu agama yang ia miliki semakin membuat dirinya diposisikan dan dianggap orang tua oleh warga sekitar. Orang menyebutnya Pua’, yang artinya sosok yang dituakan dan dianggap sebagai orang tua kampung

Perannya Merawat Tradisi 

Mambaca-baca di masjid memperingati Hari Besar Islam menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap tahunnya. Seperti 1 Muharram, 10 muharram, 27 Rajab, peringatan Isra’ Mi’raj Nabi SAW, dan 15 Sya’ban. Satu hari sebelum hari peringatan, Pua’ imam mengumumkan kepada seluruh masyarakat, kurang lebih begini:

“Marondong ma’bongi namambaca muharram bomi tu’ tau. Jadi mua’malai, sanging mapparessu bomi tau kane-kande iya mala diparessu (besok malam kita akan memperingati 1 Muharram, jadi diharapkan bisa memasak kue sesuai yang bisa kit masak),” kata Pua’ imam menjelang Bulan Muharram.

Pada bulan-bulan tersebut, sebagian besar masyarakat memasak berbagai jenis makanan seperti  bubur kacang ijo (orang Mandar menyebutnya ule’-ule’), onde-onde, tallo kerang, buras dan lainnya. Makanan itu lalu dibawa ke masjid. Sebelum disantap bersama-sama, peringatan 1 Muharram diawali dengan zikir, ceramah dari Pua’ imam, dan ditutup doa bersama.

Suasana mesjid begitu ramai, semua kalangan larut dalam perayaan. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Perayaan itu mengajarkan pada masyarakat arti Hari Besar Islam, serta peristiwa bersejarah dalam Islam, sehingga masyarakat dapat memetik hikmah atau pelajaran darinya. Perayaan tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahim di antara masyarakat. Anak-anak pun turut berbahagia, sembari perlahan belajar memahami makna Hari Besar Islam.

Bukan hanya itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad Sallalauhu Alaihi Wassalam juga rutin diadakan setiap tahunnya. Berdasarkan hasil musyawarah Pua’ imam dengan para pengurus masjid, akan mengumumkan penetapan hari perayaan tersebut. Berbondong-bondonglah masyarakat memasak berbagai jenis kudapan seperti ketupat ,buras, ikan, telur, dan masih banyak lagi. Telur dihias dan ditancapkan pada batang pisang yang sudah disediakan di dalam mesjid.

Makanan lainnya  dikemas dalam kantong plastik, masyarakat mandar menyebutnya “barakka”. Namun ada juga yang dihidangkan menggunakan bakik yang siap disantap setelah pembacaan salawat dan hikmah Maulid.

Pua’ imam bertutur, “Mammunu tarrus tau tuttu taung anna’ malai tau maingarang tarrus nabitta Muhammad anna’ perjuanganna”.

Pu’a imam juga senantiasa mengajak jamaah untuk yasinan di mesjid tiap malam jumat, sehabis magrib. Semua jamaah duduk melingkar dengan Al Qur’an di tangan masing-masing, sebagai isyarat kesiapan untuk membaca Surah Yasin dan zikir. Setelah itu dilanjutkan  ceramah singkat dari Pua’ imam.

PW NU SULSEL

Tak jarang pula Pua’ imam mengajak bergotong royong dengan warga. Saat dilaksanakan pembenahan bangunan masjid, beliau mengumumkan dengan pengeras suara, meminta kerelaan warga untuk berpartisipasi. Tanpa banyak berfikir, bapak-bapak yang ada di sekitar mesjid sontak menuju masjid untuk bekerja sama.

Para ibu tentu saja tidak tinggal diam. Mereka membuat kue dan kopi untuk para pekerja di masjid. Situasi seperti itu, mereka menyebutnya “Siwaliparri”. Bahkan bukan hanya urusan masjid, saat ada pembangunan rumah warga, mereka turut berjibaku bergotong royong mendirikan rumah, baik itu rumah kayu maupun rumah tembok.

Semua itu tidak lepas dari peran Pua’ imam yang senantiasa mengajak warga membiasakan gotong royong. Sehingga tanpa diminta pun, jika ada yang hendak mendirikan rumah, mereka pasti ikut membantu.

Lantas apa yang menyebabkan Pua’ imam memliki prinsip yang kuat seperti itu?  

Pua’ imam adalah sosok yang sangat mencintai ulama dan senantiasa berguru padanya. Beliau belajar agama dan memperdalam ilmu kemana-mana. Sesekali beliau ke Kalimantan, berguru pada Kiai tersohor disana. Salah satunya adalah KH. Ahmad Suhdi Annur.

Ia juga memanfaatkan waktu dengan ziarah ke makam beberapa ulama yang ada di Kalimantan. Rutin pula beliau ke daerah Sengkang dan berguru pada almarhum KH. Muh. Thahir Samsuddin. Almarhum merupakan guru Tarekat Khalwatuyah Sammang. Kepada almarhum pulalah, Pua’ imam belajar tarekat. Setiap ada pengajian besar-besaran oleh almarhum KH. Muh. Thahir Samsuddin, Pua’ imam selalu pergi dan mengajak beberapa warga di sekitarnya yang juga hendak memperdalam ilmu agamannya.

Selain di Kalimantan dan Sengkang, ia juga berguru pada salah satu Kiai yang ada di Campalagian yang merupakan anak dari almarhum KH. Muh. Thahir Samsuddin yakni KH. Muh. Ridwan Tahir. Orang lebih akrab menyebutnya “Kiai Muda” karena umurnya yang masih kisaran 40-an tahun, ditambah beliau juga terlihat lebih muda dari usianya.

Pasca meninggalnya KH. Muh. Thahir Samsuddin, Pua’ imam melanjutkan “nyantrinya” melalui KH. Muh, Ridwan Tahir. Pua’ imam selalu hadir pada pengajian-pengajian yang diadakan oleh Annangguru Ridwan. Setiap Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, beliau juga silaturrahim kesana. Dari para kiai-kiai besar itulah ilmu dan pemahaman agama Pua’ imam semakin dalam. Hal ini semakin diperkaya, sebab beliau sangat rajin membaca buku-buku agama. Di lemari buku beliau, terpajang karya-karya Imam Al Gazali.

Tak mengherankan jika beliau mampu mengisi pengajian di masjid setiap kamis malam dan rutin berkhutbah jumat.  Beliau masih tekun belajar agama hingga di usianya yang sekarang. Ilmunya tak berakhir di masjid, tetapi diaplikasikan di tengah masyarakat. Saling membantu, saling meringankan, dan selalu mengingatkan pada kebaikan adalah nilai-nilai Islam yang ia selalu tekankan dan amalkan bersama masyarakat.

Peran dari tokoh-tokoh seperti Pua’ imam inilah yang sangat dibutuhkan di masyarakat sekarang. Sosok yang gencar mengajak pada kebaikan, menjaga tradisi, dan menjadi perekat di tengah-tengah masyarakat. Tidak seperti sebagian orang yang justru membuat sekat dan membid’ahkan segala tradisi, kebiasaan, dan ajaran-ajaraan ulama. Padahal, hal tersebutlah yang justru menguatkan persaudaraan, silaturahmi, dan gotong royong di antara sesama masyarakat. Tidak salah memang, jika beliau disebut Pua’ Kappung penjaga tradisi.

Nurwahida, Alumni Madrasah Literasi LTN NU Sulawesi Selatan

.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here