Menjejaki Desa Puppuuring, Tempat Tuan di Tanase Menyebarkan Islam di Mandar

0
555
Gotong royong warga Desa Puppuuring membangun Surau (Dok. Penulis)

Kurang lebih dua tahun penulis bolak-balik ke Desa Puppuuring. Biasa seminggu sekali, kadang juga sebulan sekali. Sebuah desa yang berada dalam wilayah administratif Kecamatan Alu, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. 

Puppuuring adalah desa yang sebagian besar bentangan alamnya adalah pegunungan. Hawanya sejuk nian, dengan rimbun pohon durian dan perladangan padi (beras merah) mengelilingi perkampungan. 

Desa Puppuuring di sebelah barat dan utara berbatasan dengan Desa Besoangin Kecamatan Tubbi Taramanu (Tutar), sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Taramanu, dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Pao-pao, Kecamatan Alu.

Jarak dari kediaman penulis di Dusun Paropo Desa Mombi tak terlampau jauh. Jika ditempuh dengan sepeda motor, sekitar satu jam lebih perjalanan. Tetapi, wajib berhati-hati saat berkendara, karena menaiki tanjakan dan menuruni tebing yang cukup memacu adrenalin.

Khazanah kemolekan Puppuuring yang damai semakin lengkap, sebab deras Uwai Matama (nama sungai) yang airnya melimpah ruah dan melewati hamparan batuan pegunungan, menjadi sumber air bersih sembari menjadi tempat melepas lelah bagi para petani setelah seharian bekerja. Pagi, sore, dan petang hari, akan banyak warga mandi di sungai tersebut. 

Bagi yang sering menjejakkan kaki di Desa Puppuuring dan bercengkrama dengan warganya, pasti pernah mendengar – Tuan di Tanase – disebut Waliullah, penyebar agama Islam yang turut andil mensyiarkan Islam di tanah Mandar, di wilayah pegunungan Kecamatan Alu, sekitar abad ke-17.

Di Sulawesi Barat, nama beliau melegenda bersama dengan sejumlah nama penyebar agama Islam lain yang tak kalah masyhur, bergelar Tuan – yang sezaman dengan beliau. Seperti Tuan di Bulo-bulo yang petilasannya ada di Desa Ratte Kecamatan Tubbi Taramanu, Tuan di Karombang yang peristirahatan terakhirnya ada di Desa Karombang, Kecamatan Bulo, dan Tuan Langngarang di wilayah Samasundu, Kecamatan Limboro.

Tuan di Tanase petilasannya bisa dengan mudah kita ziarahi, sebab berada di Dusun Tanase, Desa Puppuuring. Berada di dataran tinggi, di bawah rimbun pohon jati, berjarak ratusan meter dari rumah penduduk yang tersusun rapi di kaki bukit.

Nama Tuan di Tanase bukan nama beliau yang sebenarnya. Sebutan ini merupakan gelar penghormatan yang diberikan oleh masyarakat di Mandar. Tuan di Tanase berarti Tuan dari Tanah Aceh, Serambi Mekah. Tanase inilah kemudian yang menjadi salah satu nama dusun di Desa Puppuuring.

Saat pernah berziarah ke sana sekitar tiga tahun yang lalu, dengan rasa sangat penasaran, penulis mencoba mempertanyakan nama asli beliau kepada tetua kampung yang ada di Tanase.

Penulis waktu itu diberi tahu, tapi diminta untuk tidak mempublikasikannya ke khalayak luas. Sehingga dalam catatan singkat kali ini, penulis tidak mencantumkan nama beliau tersebut.

PW NU SULSEL

Dari tetua itu juga diketahui bahwa petilasan yang sering ramai diziarahi itu adalah tempat terakhir kali warga berjumpa dengan Tuan di Tanase. Tempat yang dipesankan sebelumnya oleh beliau kepada warga, bahwa jika ingin mencari beliau kelak, hendaknya mencarinya di tempat tersebut (baca: petilasan Tuan di Tanase).

Diolo’, tappa’ mallinrung indini’mi beliau To Salama’, napasang memang lao pakkappung, mua’ melo’ mappesitai, pesitai indini’mi (dahulu, di tempat ini beliau To Salama’ terakhir dilihat, dan beliau memang berpesan bahwa kelak jika ingin menemuinya, bisa datang menemui beliau ke tempat ini ),” kata Jamaluddin yang juga kepala Dusun Tanase, saat mengantar penulis berziarah.

Menurut Misran, mantan kepala Desa Puppuuring yang sekitar lima bulan lalu purna tugas, petilasan Tuan di Tanase menjadi tempat yang rutin diziarahi warga. Setahun dua kali, warga Puppuuring akan berbondong-bondong berziarah, bermunajat bersama sebagai bentuk tawassul serta rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha kuasa. 

Ritual tahunan tersebut digelar saat akan ditanamnya padi dan saat masa panen tiba. Acara baca salama’ (selamatan) yang dipandu Imam Surau, dihadiri tokoh-tokoh adat dan pemerintah desa setempat. Ritual sakral dengan harapan agar tanaman padi tumbuh subur dan hasilnya diliputi berkah.

Mua’ melo’i tau mattanang anna massangking dai bomi tau siola ola mambaca diengeanna ma’linrung To Salama’ Tuan di Tanase, merau lao di Puang, sawa’ barakka’na To Salama’ta’ mabbarakka’ lao inggannana jama-jamangang (setiap kami akan menanam dan panen, kami akan bersama-sama ke tempat beliau Tuan di Tanase menghilang, berdoa kepada Tuhan, sebab berkah To Salama’ akan memberkahi seluruh pekerjaan.),” kata pak Misran kepada penulis, yang pada saat bercerita masih menjabat sebagai Kepala Desa Puppuuring.

Saat berada di petilasan Tuan di Tanase, warga menyiapkan hidangan makanan untuk dinikmati selepas doa bersama. Kue-kue tradisional khas Mandar, seperti sokkol (terbuat dari beras ketan merah), baye’ kambu (beras ketan yang dilumuri gula merah dibungkus dengan daun kelapa), ule’-ule’ (bubur kacang ijo+ gula merah), dan pastinya hidangan beras merah yang menjadi makanan pokok warga.

Penulis mengamati, warga Puppuuring jarang sekali membeli beras di pasar-pasar terdekat. Rata-rata mengkonsumsi beras merah dan diolah secara manual, ditumbuk dengan lesung – yang bahannya dari kayu hutan. 

Ingatan penulis tatkala bersilaturrahim di rumah warga, saat tiba waktu makan, pastinya yang menjadi menu utama adalah beras merah. Sangat jarang kita disuguhi beras biasa. Terasa sangat nikmat, karena acapkali disajikan bersama sayur tunas bambu, ikan asin, berikut minna’ Mandar (minyak kelapa yang diolah secara alami) yang melumurinya, ditambah sedikit cabai merah pedas.

Sepeda motor yang penulis kendarai, hampir tak pernah kosong saat akan kembali ke rumah. Hal tersebut tak lain sebab warga kerapkali menghadiahi satu dua liter beras merah dan gula merah (aren) untuk dibawa pulang. Penulis biasa tak enak hati, merasa malu, sebab tak mampu membalas kebaikan hati mereka.

Tatkala musim durian tiba, pun demikian keadaannya. Saat bertamu ke rumah warga, tuan rumah akan sibuk menyiapkan durian terbaik untuk dihidangkan kepada tamunya. Hari-hari saat musim durian di Puppuuring akan berbeda dengan bulan-bulan biasa. Perkampungan akan sangat ramai. Setiap rumah akan memiliki tamu yang datang dari berbagai tempat. 

Ada hal yang menarik terkait kearifan lokal warga yang masih terus bersemai di Desa Puppuuring. Hal tersebut penulis jumpai pada saat musim buah durian sekitar dua tahun lalu. Waktu itu, terjadi perdebatan kecil warga yang saling klaim tentang warisan pohon durian dari orang tuanya yang telah meninggal.

Ketidaksepahaman tersebut kemudian diselesaikan dengan baik dalam pertemuan yang dihadiri sejumlah pemangku adat. Menurut Ahmad, bendahara Desa Puppuuring, bahwa sebelum persoalan-persoalan demikian diserahkan ke pemerintah desa, biasanya pihak pemangku adat yang menyelesaikan terlebih dahulu. 

“Iya, sebelum diserahkan ke pak Desa dan kami di kantor, pemangku adat dulu yang menyelesaikan. Pemerintah desa tetap diperkenankan hadir dalam pertemuan tersebut, tapi pengambilan keputusan diserahkan ke rapat pemangku adat,” tuturnya.

Posisi pemangku adat masih cukup berpengaruh dalam pengambilan keputusan di Puppuuring, terutama yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Para pemangku adat adalah tempat bertanya, yang senantisa bersinergi dengan pemuka agama dan pemerintah desa. Sebuah kearifan lokal yang sudah jarang kita temui di tempat lain.

Saudaraku, pembaca yang budiman, sebenarnya masih banyak keistimewaan Desa Puppuuring yang belum penulis tuangkan dalam catatan singkat ini. Misalnya hajatan nikah massal, khitan tradisional, dan sejumput kearifan lokal warga yang lain. Hal tersebut karena keterbatasan data yang penulis miliki. 

Nilai-nilai Islam yang menyatu dengan kearifan lokal masyarakat, sangat terjalin mesra di Desa Puppuuring. Pribumisasi Islam dan nilai-nilai demokrasi lokal menjadi laku hidup dalam keguyuban warganya. 

Kearifan lokal yang bersenyawa dengan nilai-nilai keislaman yang ditinggalkan para penyebar Islam di masa lampau. Semoga intan permata kearifan tersebut senantiasa terus terawat di masa-masa yang akan datang. Amin Ya Rabbal Alamin.

Muhammad Arif, Wakil Ketua GP Ansor Polewali Mandar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here