Jangan Menolak Penguburan Jenazah Corona, Jangan Hilang Rasa Pacce ta’!

0
630
Ilustrasi (NU Online)

Dalam beberapa hari terakhir, kita dihajar oleh berita-berita yang murung akibat pandemi covid-19. Selain karena pandemi ini telah menggempur pula negara ini, juga tiap hari kita disuguhkan berita pasien positif virus covid-19 yang akhirnya meninggal dunia. Tentu saja yang sembuh karena  serangan virus ini juga sudah banyak. Bahkan menurut keterangan para ahli,  jika dipersentasekan, sekitar 80-90 % yang positif terkena virus hanya menunjukkan gejala sedang dan ringan.  

Namun yang membuat kita semakin getir adalah sikap sebagian di antara kita yang ikut kehilangan rasa kemanusian, empati, tenggang rasa dan pacce pada sesama.  Belum betul-betul kering berita yang mengisahkan beberapa tenaga medis perawat pasien positif Covid-19 mengalami diskriminasi, kini kita juga disuguhkan rekaman peristiwa mengenai adanya segelintir orang yang menolak pemakaman jenazah positif covid-19. Alasan mereka menolak pemakaman tersebut karena lokasi makam dianggap dekat dengan pemukiman  dan mereka takut tertular.

Sebagai masyarakat yang mayoritas beragama Islam, seharusnya sudah paham bahwa agama kita begitu menghormati jasad orang yang meninggal. Tidak hanya terhadap yang seagama, bahkan di luar Islam pun diberikan penghormatan yang sepantasnya. Mungkin kita masih ingat dengan satu riwayat dari Jabir Ibn Abdillah yang terdapat dalam Sahih Bukhari;

Marra bina janaazatun , faqaama laha al-nabiyu, waqumna bihi faqulna: ya Rasulallah innaha jinaazatun yahudiyyi. Faqaala: izaa raytumul jinaazata faqumuu.  (Ada jenazah lewat di depan kami, dan Nabi berdiri memberi penghormatan, kami pun ikut berdiri sembari berkata: “Itu adalah jenazah orang Yahudi ya.. Rasulallah. Rasulullah menjawab dengan sabdanya: Jika kamu melihat jenazah (lewat) maka berdirilah (beri penghormatan).

Hadits tersebut menunjukkan Nabi memberikan penghargaan terhadap jenazah, tanpa membeda-bedakan apakah jenazah tersebut adalah orang muslim ataupun bukan muslim.  Saking pentingnya penghormatan terhadap jenazah ini, maka dalam Islam, pemulasaran jenazah melalui beberapa rangkaian, yakni memandikan, mengafani, menyalati dan menguburkannya. Hukum mengurus jenazah adalah fardu kifayah. Jika salah satu prosesi tidak dilakukan oleh sementara orang, misalnya tidak ada yang mensalati atau menguburkan, maka seluruh penduduk di daerah itu berdosa.

Memang betul, ketika orang sudah menjadi mayat, maka tak lama lagi jasadnya akan menyatu dengan tanah. Segala atributif sosialnya pun menguap. Tetapi agama tetap mengajarkan kita untuk menghargai jasad tersebut dan memperlakukannya dengan baik. Itulah salah satu bedanya antara manusia dengan binatang.  Karenanya pula manusia yang meninggal disebut jenazah dan binatang yang mati dinamakan bangkai. Dalam kebudayaan Bugis-Makassar penghormatan atas orang yang meninggal diteruskan dengan beberapa upacara. Bagi orang Makassar, orang meninggal sesungguhnya: Tena na mate, a’lingkanaji ri anja (Tidak mati, mereka hanya menyeberang ke alam barzah).

Kita mengerti, kematian orang-orang yang positif covid-19, tidak sama dengan kematian orang-orang biasa.  Virus covid-19, kita sama mafhum, penyebarannya cepat dan eksponensial. Itu pulalah sebabnya cara-cara pemulasarannya juga berbeda dengan jenazah pada umumnya.  

Petugas yang akan melakukan pemulasaran jenasah covid-19; mulai dari memandikan, mengafani, menyalatkan sampai penguburan, adalah mereka yang sudah paham prosedurnya. Mereka pun melakukan semua prosesi pengurusan jenazah itu dengan pakaian pelindung (APD) sekali pakai. Jenazah sendiri diperlakukan sangat khusus; tidak hanya dikafani, tetapi juga dibungkus plastik, dimasukkan dalam kantong mayat, bahkan  setelah itu dimasukkan lagi dalam peti. Para petugas memastikan agar tidak ada cairan yang bisa merembes dari jenazah. Setelah itu tidak perlu lagi keluarganya  mencoba melihatnya.

Meskipun cara-cara pemulasaran jenazah covid-19 berbeda dengan jenazah umum, tapi tetap diberlakukan secara terhormat dengan mengikuti semua rangkaian yang seharusnya dilakukan terhadap jenazah seorang muslim dan agama lain. Termasuk dia pun harus dikuburkan. Karena itu jika petugas yang berwenang ingin menguburkan jenazah yang positif covid-19, sepatutnya kita tak perlu menolaknya, kendati lokasi penguburannya mungkin tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduk.

“Tetapi jangan sampai mayatnya bisa menularkan?”

Jujur kita akui di masyarakat memang terjadi semacam disinformasi mengenai pandemi covid-19 ini. Di satu sisi masyarakat terlihat begitu panik ketika mendengar kabar ada jenazah positif corona yang akan dimakamkan di pekuburan seputar tempat tinggalnya, tetapi di saat yang sama terlihat masih banyak yang acuh tak acuh dengan aturan physical distancing. Informasi dari media sosial lebih cepat menyerbu mereka dibanding dengan penjelasan resmi dari pemerintah. Padahal di media sosial banyak informasi hoax dan tidak berdasar.  

PW NU SULSEL

Akan hal ini, memang perlu sosialisasi yang baik dan masif dari pihak yang berwenang, misalnya ada penjelasan dari pemerintah, petugas kesehatan dan birokrasi tingkat kelurahan, bahkan sampai ke jenjang RT/RW. Seluruh elemen masyarakat, seperti jurnalis, penulis, agamawan dan influencer juga diharapkan dapat menyampaikan informasi yang tepat .   

Untuk sementara, dalam situasi yang kalut ini tetaplah kita berpikiran jernih. Tentang penguburan jenazah covid-19, sebelum menolak,  cobalah kita renungkan: “Jika pemerintah  telah berusaha keras mencegah penyebarannya melalui orang hidup, maka apakah mungkin, mereka akan membiarkan penyebaran itu lewat orang yang sudah meninggal?”  Memang merancang  pemakaman khusus bagi jenazah covid-19 adalah alternatif yang terbaik. Tetapi sambil menunggu hal itu disiapkan pemerintah, mari kita merenungkan kalimat tadi.

Jika pemerintah telah menetapkan lokasi pemakaman di suatu tempat, maka itu sudah pasti dengan kalkulasi sejauh mana tingkat keamanan bagi masyarakat di sekitarnya.  Lagi pula, yang bisa melakukan interaksi aktif adalah orang yang hidup, bukan mereka yang meninggal. Dan seperti yang banyak disampaikan oleh para ahli, virus ini bisa menyebar cepat dari interaksi fisik orang-orang yang hidup. 

Sikap menghadang mobil jenazah, apalagi sambil bersitegang dengan petugas dalam bentuk kerumunan, malah lebih berpotensi menjadi sarana penularan. Bukankah pula, jika kita ramai-ramai menolak jenazah itu dikuburkan, apakah tidak berarti kita membiarkan jenazahnya terbengkalai?  Cara itu tentu semakin berbahaya, karena bisa memicu penyebaran yang lebih eksponensial. Di saat yang sama sikap itu mencerminkan kita seakan telah kehilangan rasa pacce (rasa pedih dan lara karena ikut merasakan penderitaan orang lain). Dan di atas segalanya kita menanggung dosa sebab menghalangi penyelenggaran jenazah dengan baik.

Dalam keadaan merebaknya wabah, sikap kalut dan putus asa memang gampang meruak. Tetapi di tengah situasi tersebut, jangan kehilangan Makassarta, jangan kehilangan Bugista. Kita hanya menjadi Bugis dan Makassar jika siri dan pacce masih bersemayam dalam sanubari.  Jangan biarkan  pacce  itu sirna karena wabah corona.  Salah satu tandanya kehilangan pacce, ketika  rasa kemanusian kita sirna. Dan menolak penguburan jenazah covid-19 adalah contohnya.   

Kita boleh berjarak secara fisik, tetapi hati kita saling terikat satu sama lain.  Keberjarakan tubuh jangan membuat nurani dan pacce kita ikut berjarak.  Kita harus tetap sama dalam rasa, satu dalam empati dan bergerak bersama melakukan langkah-langkah kecil kemanusian. Corona tengah menguji kita, bisakah kita tetap bersatu ketika menghadapi makhluk tak terlihat ini? Jika hubungan fisik kita telah putus dan ikatan kemanusian kita tercerai berai, itulah tanda kemenangan virus ini.  Kita tidak ingin virus itu yang menang. Sembari memohon pertolongan yang kuasa, mari kita rapatkan ikatan kemanusian kita.

Mereka yang meninggal karena wabah penyakit, demikian kata Kiai Said Aqil Siradj, berpulang dalam keadaan syahid.  Kita memang tidak bisa mengantarnya beramai-ramai ke tempat peristirahatan terakhirnya, tetapi kita masih bisa memberikan tempat pada jenazah itu untuk segera bertemu dengan Tuhannya. Adalah jauh lebih baik bagi kita memberi penghormatan pada mereka saat diantar ke pemakaman terakhir dengan berdiri di depan pintu rumah kita masing-masing. Tundukkan kepala sejenak, mendoakan dia yang mendahului kita agar betul-betul meninggal dalam keadaan syahid. Sembari jangan lupa memohon pada Yang Maha Kuasa agar awan mendung di atas negeri ini cepat berlalu.

Syamsurijal Adhan, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Sulawesi Selatan

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here