Air Barakka’ dari Gurutta Sanusi

0
574
Ilustrasi (Muh. Irham)

Menjadi santri  Anregurutta KH. Sanusi Baco selama enam tahun lamanya adalah sebuah kesyukuran yang saya rasakan. Bagaimana tidak, hanya dengan nyantri di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum saja, saya dan ratusan santri lainnya sudah dianggap sebagai anak oleh beliau. Hal itu yang membuat saya betah dan bertahan selama enam tahun di pesantren. Sebulum menginjakkan kaki di pesantren, saya sebenarnya sudah sering diperkenalkan dengan sosok Anregurutta KH. Sanusi Baco, yang kemudian menjadi idola bagi seluruh santrinya.

Bagi santri perantau dari luar Pulau Sulawesi – tepatnya dari Kalimantan Barat, hari-hari pertama di pesantren pastinya tidak mudah untuk dilupakan. Masih lekat dalam ingatan bagaimana saya berurai air mata, ketika kakak saya yang saat itu mengantar, hendak kembali ke rumah. Sebenarnya saya menangis bukan sepenuhnya karena ditinggal sendiri, melainkan karena saya tidak tahu sama sekali bahasa yang digunakan oleh teman asrama saya. Sungguh alasan yang aneh untuk menangis, tapi begitulah adanya. Hehehe

Mendengar kabar bahwa saya menangis, Ibu Sugia yang merupakan Kepala Madrasah Tsanawiyah sekaligus ibu angkat saya di pesantren, langsung menemui saya keesokan harinya. Kebetulan hari itu, Pimpinan Pesantren Anregurutta KH. Sanusi Baco sedang ada agenda dan datang ke pesantren untuk memberikan nasehat kepada santri-santrinya. Tak mau melewatkan kesempatan berharga tersebut, Ibu Sugia langsung memanggil saya menghadap ke ruangannya. Kemudian beliau mengajak saya bertemu dengan ulama yang sangat dihormati seantero Sulawesi Selatan ini.

Perjumpaan pertama saya dengan sahabat Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) ketika menempuh studi di Mesir ini begitu membekas. Saya diizinkan untuk memasuki ruangan beliau di hari pertama saya di pesantren. Pada saat itu, saya diberi air botol besar oleh Ibu Sugia. Awalnya saya tidak tahu untuk apa air tersebut.

Ketika bertatap muka dengan Gurutta Sanusi, Ibu Sugia sempat berbicara menggunakan bahasa bugis. Saya cuma diam, tanda tidak mengerti apa arti pembicaraan kedua orang tua saya di pesantren ini. Namun, ketika Ibu Sugia selesai bicara, Gurutta langsung menatap saya dan bertanya ‘’Siapa nama ta nak?’’. Saya menjawab dengan terbata-bata dan logat melayu yang masih kental, ‘’Name saya muslim Puang’’. Orang-orang yang ada di ruangan ikut tersenyum mendengar jawaban yang saya berikan, mungkin juga karena logat saya yang agak lucu didengar.

Agak lama saya duduk di ruangan itu, sembari memandangi wajah Gurutta hingga adzan dzuhur berkumandang. Ibu Sugia kemudian menyuruh saya pamit ke Gurutta. Saya pun mendekati beliau dan mencium tangannya, dibalas beliau dengan memegang kepala saya. Hangat, tenang, dan indah, itu yang saya rasakan. Ternyata Ibu Sugia meminta Gurutta mendoakan air botol yang ia berikan ke saya, setelah itu barulah saya mengerti apa maksud dari air botol itu.

Setelah pertemuan dengan Gurutta pada hari pertama di Pesantren, saya selalu rindu ingin memandangi wajahnya, mencium tangannya, serta minta didoakan oleh beliau. Hingga saat ini, walaupun sudah alumni, tetapi ketika berjumpa dengan Gurutta, kenangan pertama saya dengan beliau secara tiba-tiba akan menyembul dalam pikiran. Hal yang langsung saya lakukan adalah bergegas mencari air botol lalu minta didoakan oleh Gurutta Sanusi.

Kemarin, Sabtu (3/4/2020) adalah hari ulang tahun Anregurutta KH. Sanusi Baco. Kami santrinya belum bisa membalas apa yang sudah beliau berikan dan ajarkan kepada kami. Tapi harapan kami sebagai santrinya, semoga beliau selalu dalam ridho dan rahmat Allah SWT. Panjang umur dan sehat selalu Puang.

Andi Muhammad Muslim, Alumni Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Maros dan Kader PMII di Universitas Muslim Indonesia

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here