Pendidikan Multikultural, Berangkat dari Sekolah

0
213
llustrasi (Kompas.com)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menemukan bahwa bibit-bibit intoleransi dapat muncul dari sekolah. Kesimpulan ini muncul usai Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslikjatdikbud), Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemendikbud, melakukan penelitian pada tahun 2016 lalu, terhadap siswa SMA/sederajat, guru dan kepala sekolah di dua SMA negeri dan dua SMA swasta di Salatiga, Jawa tengah dan Singkawan, Kalimantan Barat.

Senada dengan Kemendikbud, penelitian Alvara Research Center setahun berikutnya, juga menguak bagaimana pelajar di Indonesia semakin intoleran. Guru turut berperan besar dalam penyemaian sikap intoleran ini – di samping ulama dan media sosial.

Temuan terbaru berasal dari penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, tahun kemarin. Hasil survei terhadap 2.237 guru muslim di 34 Provinsi di Indonesia, mengungkap enam dari sepuluh guru memiliki opini intoleran terhadap pemeluk agama lain. Bahkan, opini tersebut tidak hanya muncul dari guru sekolah menengah, tetapi tampak pula dari tingkat pendidikan anak usia dini.

Dari berbagai hasil penelitian tersebut, kecenderungan intoleransi di lingkungan pendidikan, khususnya sekolah, berada dalam taraf yang mengkhawatirkan. Sekolah yang seharusnya merupakan ruang untuk membentuk generasi terdidik yang berpengetahuan dan humanis, malah kini tercemar virus intoleran. Sikap intoleran yang berawal dari sekolah, bisa memberi dampak buruk bagi kualitas generasi dan tentunya pada kemajemukan di Indonesia.

Sistem pendidikan di Indonesia mengalami ketidakberdayaan – kalaupun tidak disebut sebagai kegagalan – dalam menghidupkan inklusifisme di lingkungan pendidikan. Pemahaman akan keberagaman dan kemajemukan belum banyak tertautkan dalam proses belajar mengajar. Bahkan secara spesifik,  dalam pelajaran agama di sekolah, masih dipengaruhi corak eksklusfisme dan mayoritanisme yang menafikan keyakinan beragama pihak lain.

Berangkat dari Sekolah

Sebagai garda terdepan, Kemendikbud merespon permasalahan intoleransi di lingkungan pendidikan, dengan menghimbau seluruh stakeholder untuk mengawasi setiap kegiatan yang berlangsung di sekolah. Namun, untuk menekan tingkat intoleransi di sekolah, upaya ini tidak cukup preventif dan belum menyentuh akar masalah,

Belum matangnya paradigma pendidikan yang berorientasi pada keberagaman dan kemajemukan membuat para pengajar dan pelajar terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan yang terindikasi dapat menyemai bibit intoleransi,. Sebenarnya, dalam kompetensi inti kurikulum 2013, terdapat bunyi-bunyian tentang keberagaman, seperti peduli, toleran, damai, santun, gotong royong dan jujur. Namun, pada praktiknya, hanya sekadar bunyi-bunyian tanpa implementasi.

Dibutuhkan sebuah paradigma pendidikan baru yang sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat Indonesia. Paradigma pendidikan multikultural mengedepankan penghargaan atas pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekuensi logis dari keberagaman dan kemajemukan di negeri ini. Pendidikan multikultural sejalan dengan intisari dari pendidikan, yaitu penghargaan atas hak dasar manusia. Singkatnya, memanusiakan manusia.

James Bank, seorang pioner dari pendidikan multikultural mengemukakan bahwa pendidikan multikultural, memiliki semangat dan ide yang sama dengan subtansi yang ingin dicapai oleh dunia pendidikan. Di mana pendidikan untuk kebebasan, dan sekaligus sebagai sarana penyebarluasan gerakan inklusif dalam rangka mempererat hubungan antar sesama.

Paradigma pendidikan multikultural juga mengedepankan penanaman nilai, yang dapat membentuk watak dan karakter seluruh elemen dalam dunia pendidikan, khususnya para pelajar. Hal ini sejalan dengan UU Nomor 20 Tahun 2003, pasal 4 yang berbunyi “Pendidikan harus dilaksanakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa”.

PW NU SULSEL

Menerapkan paradigma pendidikan multikultural dalam setiap proses belajar mengajar di lingkungan sekolah adalah sebuah keniscayaan. Paradigma ini akan memperkuat pemahaman akan keberagaman dan pentingnya sikap toleran. Sehingga, dalam prosesnya ke depan, penghargaan atas kemajemukan akan menjadi kebudayaan tersendiri dalam lingkungan sekolah. Meminjam istilah Driyarkara, pendidikan merupakan pembudayaan.

Budaya pendidikan yang toleran dan menghargai sesama di lingkungan sekolah, perlahan akan menghapus prasangka, egoisme, dan eksklusifisme di kalangan anak didik dan para pengajar. Budaya ini akan berangkat dari sekolah, dan kemudian menyebar, serta disebarkan oleh kalangan terdidik ke lingkungan masyarakat yang lebih luas lagi. Dengan begitu, fungsi sekolah telah kembali sebagai wadah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga, masyarakat Indonesia dapat hidup dalam perdamaian di tengah-tengah perbedaan dan tetap menjaga keutuhan bangsa Indonesia.

Andi Ilham Badawi, Penggerak GUSDURian Makassar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here