Syekh Jamaludidn Al-Husaini dan Jejak Islamisasi Di Sulawesi Selatan

0
1514
Makam Syekh Jamaluddin Al-Husaini di Tosora, Wajo (Foto: Istimewa)

Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini semakin dikenal usai Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) mengunjungi makamnya beberapa dasawarsa yang lampau. Setelah  kunjungan Gus Dur tersebut, makam Syekh Jamaluddin Al-Husaini menjadi salah satu tujuan wisata spiritual di Sulawesi Selatan, selain makam Syekh Yusuf, Pangeran Diponegoro dan, makam ulama serta raja-raja yang ada di Sulawesi Selatan.

Bersama guru-mursyid saya, Syekh KH. Baharuddin HS beserta Majlis Ikhwan Al-Thariqah Al-Muhammadiyah As-Sanusiyah Al-Idrisiyah Indonesia, akhirya beroleh kesempatan bertabarrukan ke Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini, Sabtu (14/03/2020). Selama ini, saya mengenal nama ulama perintis awal islamisasi di Sulawesi Selatan lewat pendekatan kultural ini melalui karya yang ditulis AGH. Syekh Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma. Buku yang ditulis ulama pendiri NU di Sulawesi Selatan sekaligus mursyid Thariqah Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassari ini adalah segelintir dokumen tertulis yang menerangkan tentang kedatangan Syekh Jamaluddin Al-Husaini beserta perannya dalam proses islamisasi di Sulawesi Selatan.

Perintis Awal Islamisasi Di Sulawesi Selatan

Sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan hampir pasti selalu dikaitkan dengan datangnya tiga ulama dari Minangkabau; Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk ri Patimang. Ini dapat dimaklumi karena titik pijaknya adalah ketika Islam secara resmi diakui sebagai agama negara oleh kerajaan Gowa.

Kalau ini dijadikan dasar pijakan, maka Islam datang ke Sulawesi Selatan pada tahun 1605 setelah kedatangan tiga orang ulama tersebut. Tetapi kalau titik pijaknya adalah kedatangan para sayyid atau cucu turunan dari Nabi SAW, maka jejak-jejak keislaman di Sulawesi Selatan sudah ada jauh sebelum itu, yaitu pada tahun 1320 dengan kedatangan sayyid pertama di Sulawesi Selatan yakni Sayyid Jamaluddin al-Akbar Al-Husaini.

Siapa Jamaluddin al-Akbar al-Husaini? Dia adalah cucu turunan Nabi SAW atau Ahlul Bait yang pertama kali datang ke Sulawesi Selatan. Dia juga merupakan kakek kandung dari empat ulama penyebar Islam di Jawa yang lebih dikenal dengan wali songo yaitu Sayyid Maulana Malik Ibrahim, Sayyid Ainul Yaqin atau Sunan Giri, Sayyid Raden Rahmatullah atau Sunan Ampel, dan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Seperti dijelaskan oleh salah seorang ulama yang tergabung dalam Rabithatul Ulama (RU), cikal bakal NU di Sulawesi Selatan, AGH. Syekh Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma dalam bukunya, Kafaah dalam Perkawinan dan Dimensi Masyarakat Sulsel bahwa Syekh Jamaluddin al-Akbar al-Husaini datang dari Aceh atas undangan raja Majapahit, Prabu Wijaya.

Setelah menghadap Prabu Wijaya, ia beserta rombongannya sebanyak 15 orang kemudian melanjutkan perjalanannya ke Sulawesi Selatan, tepatnya di Tosora kabupaten Wajo melalui pantai Bojo Nepo, Kabupaten Barru. Kedatangan Jamaluddin al-Husaini di Tosora Wajo diperkirakan terjadi pada tahun 1320. Tahun ini kemudian dianggap sebagai awal kedatangan Islam di Sulawesi Selatan.

Syekh Jamaluddin Puang Ramma lalu mengutip keterangan dari Kitab Hadiqat al-Azhar yang ditulis Syekh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fattany, mufti kerajaan Fathani (Malaysia) bahwa dari isi daftar yang diperoleh dari Sayyid Abd. Rahman al-Qadri, Sultan Pontianak dinyatakan bahwa raja di negeri Bugis yang pertama-tama masuk Islam bernama La Maddusila, Raja ke-40 yang memerintah pada tahun 800 H/1337 M.

Sayangnya tidak dijelaskan di daerah Bugis mana dia memerintah dan siapa yang mengislamkan. Namun penulis kitab tersebut menduga bahwa tidaklah mustahil bila yang mengislamkan raja yang dimaksud adalah Sayyid Jamaluddin al-Husaini. Mengingat kedatangan ulama tersebut di daerah Bugis persis dengan masa pemerintahan raja itu. (KH. S. Jamaluddin Assagaf, tt: 26).

Keterangan serupa juga diberikan oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bahwa sebelum para wali songo yang dipimpin oleh Sunan Ampel menduduki Majapahit, Sayyid Jamaluddin al-Husaini yang mula-mula tinggal di daerah Cepu Bojonegoro telah lebih dulu masuk ke ibukota Majapahit dan kemudian mendapat tanah perdikan.

PW NU SULSEL

Dengan kemampuan yang tinggi dalam mengorganisasikan pertanian, Jamaluddin al-Husaini berhasil menolong banyak orang Majapahit yang akhirnya masuk Islam. Dari situ ia naik ke gunung Kawi. Kemudian melanjutkan perjalanannya ke Sengkang, ibukota kabupaten Wajo saat ini (Abdurrahman Wahid, 1998: 161).

Lalu mengapa nama Syekh Jamaluddin al-Husaini tak pernah ditemukan jejaknya dalam sejarah? Padahal perannya cukup penting dalam proses islamisasi di Sulawesi Selatan. Bahkan sebelum para wali songo menyebarkan Islam di Jawa, Jamaluddin al-Husaini telah memulainya dan konon wali songo sempat berguru kepadanya.

Nah, ketika Datuk ri Bandang hendak memenuhi undangan raja Gowa untuk menyebarkan Islam di kerajaannya, terlebih dahulu meminta pertimbangan gurunya Sayyid Ainul Yaqin atau Sunan Giri. Sang guru tentu saja gembira mengingat agama Islam telah dibawa lebih dahulu oleh kakeknya, Sayyid Jamaluddin al-Husaini pada tahun 1320 M di daerah Bugis Sulawesi Selatan (KH. Jamaluddin, op. cit: 31).

Boleh jadi karena Syekh Jamaluddin al-Husaini tidak pernah bersentuhan langsung dengan kerajaan Gowa-Tallo yang diketahui merupakan salah satu kerajaan yang terbesar saat itu di Sulawesi Selatan sehingga proses islamisasi di Sulawesi Selatan tidak dikaitkan dengan diri Sayyid Jamaluddin Al-Husaini.

Yang menarik kemudian, dalam beberapa versi “resmi” tentang masuknya Islam di kerajaan Gowa-Tallo disebutkan bahwa sebelum Datuk ri Bandang tiba di Tallo, Raja Tallo Sultan Abdullah diberitakan telah memeluk Islam dan yang mengislamkan adalah Nabi SAW sendiri. Konon Nabi SAW menampakkan dirinya dan menemui Sultan Abdullah. Nabi SAW lalu menuliskan kalimat syahadatain, kemudian meminta kepada sang raja untuk memperlihatkan kepada tamunya yang datang dari jauh.

Setelah tamunya datang ke Tallo, Sultan pun menemui tamu itu yang tak lain adalah Datuk ri Bandang. Dia lalu memperlihatkan tulisan yang ada di tangannya kepada tamunya. Tamu itu pun heran. Ternyata, Islam sudah ada di sini sebelum kami datang, kata sang tamu. Lalu raja mengisahkan hal ihwal pertemuannya dengan Nabi SAW.

Karena itu, ada ungkapan yang berbunyi mangkasaraki nabbiya. Ungkapan tersebut menyatakan bahwa Nabi SAW telah menampakkan dirinya di Makassar. Dan asal-usul dinamakannya daerah ini dengan Makassar besar kemungkinan dari ungkapan tersebut. Sayangnya oleh beberapa sejarawan seperti J. Noorduyn yang menulis tentang Islamisasi di Makassar, cerita ini dianggap dongeng dan harus berhati-hati mengutipnya (Noorduyn, 1972: 31).

Ini kemudian menjadi menarik karena bukan sekedar perbedaan pendapat mengenai sejarah islamisasi di Nusantara atau Sulawesi secara khusus. Tapi bagaimana akar polarisasi keberagamaan sampai pada nalar agama, itu bisa dilacak dari proses islamisasi itu. Misalnya, ada perbedaan model dakwah yang dikembangkan oleh Jamaluddin al-Husaini dengan Datuk ri Bandang, dkk.

Ketika tiba di Tosora Wajo, Sayyid Jamaluddin dan para pengikutnya tidak langsung mengajarkan Islam pada penduduk Tosora. Beliau justru mengadakan pencak silat secara tertutup dengan para pengikutnya. Masyarakat sekitar pun ingin mengetahui pertemuan apa gerangan yang diadakan tiap sore itu.

Akhirnya tersiarlah kabar bahwa yang dilakukan tamu-tamu itu adalah permainan langka yang dalam bahasa Bugis berarti suatu permainan gerakan yang bisa menjadi pembelaan diri bila mendapatkan serangan musuh. Karena yang memainkan permainan langka itu orang Arab (keturunan Arab) sehingga masyarakat setempat menamainya dengan langka Arab.

Masyarakat pun kemudian memohon menjadi anggota agar dapat ikut dalam permainan langka itu. Karena permainan latihan berlanjut hingga malam hari, selepas maghrib, Sayyid Jamaluddin dan rombongannya shalat. Masyarakat setempat yang ikut latihan juga turun shalat meskipun sekedar sebagai latihan. Meskipun pada akhirnya peserta latihan itu banyak yang mengucapkan syahadatain. Belakangan, arena latihan yang bernama langka Arab menjadi langkara. Kata ini yang kemudian menjadi langgara, lalu berubah menjadi mushallah dan masjid. (KH. Jamaluddin, op. cit: 28).

Saat ini, hampir tiap saat makam Syekh Jamaluddin Al-Husaini dikunjungi para peziarah, baik penduduk lokal atau peziarah dari luar Sulawesi Selatan. Bahkan semakin larut malam, peziarah bisa semakin melimpah jumlahnya. Hal itu tiada lain untuk mengharapkan berkah dari Sang Sayyid. Itu pula yang kami harapkan dalam kunjungan kami ke Syekh Jamaluddin Al-Husaini sabtu siang kemarin. Semoga kami dilimpahi juga keberkahan dari Syekh Jamaluddin Al-Husaini. Amin.

Mubarak Idrus, Pengurus LTN NU Sulawesi Selatan & Pengajar di Ponpes Multidimensi Al Fakhriyah Makassar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here