Coronavirus dan Matinya Kepakaran

0
983
Ilustrasi (Detik.com)

“To defeat an epidemic, people need to trust scientific experts, citizens need to trust public authorities, and countries need to trust each other”.

Yuval Noah Harari

Wabah penyakit mematikan bukan pertama kali terjadi di dunia, termasuk Indonesia. Pada tahun 1911 hingga 1926, Indonesia terjangkit Pes (Flu Spanyol). Wabah mematikan ini menewaskan sekitar 120.000 jiwa. Historia mencatat, wabah Pes telah membunuh 60% populasi di Eropa pada abad ke 14. Wabah Pes di Eropa dan di Indonesia direspon dengan pengobatan yang sama melalui dukun dan jimat. Metode pengobatan ini tidak menunjukkan hasil dari proses pengobatan yang ada.

Setelah ditelusuri secara mendalam, wabah Pes bersumber dari kutu yang menempel pada hewan tikus. Sumber masalahnya berasal dari cara hidup manusia, di mana fasilitas sanitasi yang buruk menjadi sarang tikus got untuk berkembang biak dan berkeliaran. Tikus membawa kutu yang ditunggangi oleh bakteri Pestis Yersinia. Akibat gigitan kutu pada manusia, penyakit Pes Bubo atau sampar menjadi wabah yang mematikan.

Selain Pes, wabah penyakit yang mematikan dan berasal dari hewan antara lain: SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada tahun 2002-2003 menewaskan hampir 800 orang di seluruh dunia; MERS (Middle East Respiratory Syndrome) pada tahun 2012 yang menewaskan 858 orang di seluruh dunia; dan dunia kembali digegerkan dengan Covid-19 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Penyebaran virus baru ini terbilang cepat. Sejak pertama kali ditularkan, hingga saat ini per 27 Maret 2020 pukul 13.00 WITA, 200 negara telah mengonfirmasi terjangkit virus corona. Berdasarkan data dari situs BNO News, Tracking Coronavirus: Map, Data and Timeline, pada hari jumat, kasus coronavirus mencapai 529.614 kasus dengan menewaskan sebanyak 23.976 orang dan sembuh sebanyak 123.380 orang.

Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 terus menyebar ke banyak negara termasuk Indonesia. Sejak ditetapkan sebagai negara terjangkit Covid-19, melalui laman kawalcovid19.id dirilis sebanyak 1046 orang ditetapkan positif per 27 Maret 2020, 87 orang meninggal, dan 46 orang dinyatakan sembuh.. Indonesia pertama kali terjangkit Covid-19 pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan dua warga negara Indonesia positif terjangkit Covid-19 melalui media massa.

Sejak diumumkan oleh Presiden, langkah-langkah strategis ditetapkan oleh pemerintah dalam menekan penyebaran Covid-19 di Indonesia. Social Distancing diberlakukan untuk menekan laju penyebaran covid-19. Istilah itu kini diperbarui menjadi Physical Distancing. Penerapan Phisycal Distancing menyebabkan rutinitas sehari-hari berubah dengan secara signifikan. Sekolah dan perguruan tinggi menerapkan proses belajar mengajar secara online (e-learning), perusahaan dan instansi pemerintahan menerapkan kerja dari rumah, serta aktivitas yang biasanya dikerjakan di luar rumah pun dihimbau untuk tidak dilakukan.

Pandemic Covid-19 ini tentu saja menuai perdebatan. Indonesia sebagai negara demokrasi dan ditunjang oleh kemajuan teknologi informasi tentu saja melahirkan beragam perdebatan tentang covid-19. Politisi, penceramah hingga masyarakat awam banyak yang terlibat “adu jari” tentang coronavirus, bahkan hingga saling mencaci maki untuk mempertahankan argumentasinya. Perdebatan-perdebatan pun terjadi secara terbuka di media sosial.

Matinya Kepakaran

Media sosial menjadi kanal perdebatan berbagai kalangan. Perkembangan pesat internet ditunjang dengan algoritma teknologi informasi menyebabkan masyarakat terkoneksi satu sama lain. Keterbukaan informasi melalui media sosial selain memberikan dampak positif juga memiliki dampak negatif bagi ilmu pengetahuan. Sumber argumentasi perdebatan di media sosial terkadang berasal dari hoaks yang diproduksi dan diamplifikasi secara sengaja untuk menyebabkan kebingungan dan penyesatan opini publik.

Informasi yang didapatkan di media sosial dianggap sebagai kebenaran bagi masyarakat awan. Hoaks tidak hanya diproduksi pada saat kondisi stabil, tetapi turut diproduksi saat-saat genting seperti sekarang ini. Dengan mudah kita menemukan informasi tentang coronavirus di media sosial. Linimasa media sosial kita dipenuhi informasi-informasi tentang covid-19.

Masyarakat digital adalah masyarakat yang merasa cukup pandai sehingga tidak membutuhkan informasi dari ahlinya. Kepuasaan ini seolah membuang ilmu pengetahuan, merusak praktik dan tidak mau mengembangkan ilmu pengetahuan baru. Masyarakat digital seakan lupa bahwa sains dan rasionalitas merupakan dasar peradaban modern. Ketidakpercayaan terhadap pakar bukanlah hal baru.

PW NU SULSEL

Menurut Tim Nichols dalam bukunya The Death of Expertise (Oxford University Press, 2017), ketidakpercayaan masyarakat pada pakar disebabkan oleh kesalahan-kesalahan pakar, penyebabnya, dan cara pakar bertanggungjawab mengatasi masalah. Terdapat empat kategori kesalahan pakar yaitu:kegagalan biasa contohnya berhasil atau tidaknya uji coba teori; kegagalan mengkhawatirkan contohnya melebarkan keahlian dari satu bidang fokus ke bidang lainnya; kegagalan prediksi, walaupun bertahan di bidang sendiri terkadang prediksinya dapat membahayakan; dan penipuan dan penyimpangan ketika pakar memalsukan hasil pekerjaan mereka.

Ketidakpercayan masyarakat juga diperparah oleh para politisi, intelektual politisi, dan tokoh masyarakat yang berargumentasi berdasarkan informasi yang mereka baca di media sosial. Nichols bahkan menyebutkan bahwa peristiwa ini menjadi bagian gelombang antirasionalisme di masyarakat modern. Masyarakat hanya menerima berita yang membenarkan argumentasi kelompoknya dan cenderung menyerang kelompok yang berbeda pendapat dengannya.

Peristiwa pandemic covid-19 yang seharusnya direspon dengan sains dan ilmu pengetahuan, bukannya menjadi bahan perdebatan yang tidak bermanfaat bagi masyarakat. Di media sosial dengan mudah kita temukan argumentasi tentang penyebab munculnya covid-19, proses penanganan bagi yang terjangkit covid-19, hingga perdebatan tentang ekonomi oleh masyarakat.

Teori yang digunakan bermacam-macam, mulai dari pendekatan teologis hingga ke teori konspirasi. Perdebatan seperti ini tentu saja membuat masyarakat menjadi bingung untuk merespon pandemic covid-19, bahkan membuat sebagian besar masyarakat menjadi apatis. Informasi yang diterima melalui media sosial dianggap sebagai kebenaran selama sesuai dengan pendapatnya.

Dalam kondisi genting seperti ini, menghadapi pandemic covid-19 yang mematikan, dibutuhkan kanal informasi yang benar dan disampaikan oleh pakarnya, sehingga masyarakat dapat percaya pada prosedur-prosedur penanganan penyebaran dan pengobatan covid-19.  

Yuval Noah Harari dalam tulisannya in the Battle against Coronavirus, Humanity lacks leadership (time.com) mengingatkan bahwa dalam melawan sebuah epidemic, masyarakat harus percaya kepada ilmuwan dibidangnya, masyarakat harus percaya kepada otoritas pemerintah, dan negara harus saling percaya satu sama lain. Harari menambahkan the real antidote to epidemic is not segregation, but rather cooperation.

Oleh karena itu, masyarakat seharusnya percaya kepada ilmuwan dan pemerintah, serta tokoh masyarakat yang memiliki otoritas. Tidak lagi menerima informasi yang disebarkan melalui internet dengan media sosial sebagai salurannya tanpa melakukan validasi. Informasi yang didapat melalui internet harus diperiksa kebenarannya, bahkan dibutuhkan pendapat pakar sehingga tidak menimbulkan kepanikan. Karena pencegahan coronavirus adalah tugas kita bersama.

Langkah sederhana yang seharusnya dilakukan dalam membantu para pakar bekerja adalah dengan mengikuti protokol yang telah ditetapkan. Physical Distancing salah satunya dan menyebarkan informasi yang mengedukasi bukan malah menyebarkan informasi yang dapat menyebabkan kegaduhan dan kepanikan di masyarakat. Sekali lagi mengutip Harari, langkah penyelesaian sesungguhnya bukanlah pemisahan melainkan kerjasama.

Wamil Nur, Pengurus Wilayah Lakpesdam NU Sulsel

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here