Menjadi Manusia Nusantara, Belajar dari “Agama Nelayan”

0
540
Lukisan perahu Sandeq khas Mandar (pic. kabarsulbar.com)

Beberapa waktu lalu, saya mendedah buku berjudul “Agama Nelayan” karya almarhum Prof. Dr. Arifuddin Ismail. Buku tersebut bercerita tentang sebuah daerah di Sulawesi Barat, tepatnya di Pambusuang, yang menggambarkan tentang relasi Islam dan budaya lokal. Buku tersebut juga menekankan pada kita bahwasanya mereka yang melaut tidak serta merta mengarungi samudera tanpa berhubungan dengan Sang Pencipta. Mereka (nelayan, red) sangat menitikberatkan hubungan antara manusia, alam, dan Allah swt.

Agama Nelayan mengisahkan dengan sangat apik, bagaimana nelayan memulai segala aktivitas dengan sejumput doa atau biasa disebut dengan mabaca-baca sebelum berangkat ke laut. Setelah itu ketika berada di lautan, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan seperti berbicara kotor, membuang sampah sembarangan, hingga meludah pun diatur – alias tidak boleh sembarangan.

Dalam buku itu pula, diperkenalkan tentang strukur organisasi kenelayanan. Jadi, dalam strukturnya ada istilah ponggawa (juragan) dan sawi (anak buah kapal). Posisi ponggawa sangat penting, sebab ia berperan membantu sawi ketika berada dalam keadaan susah. Misalnya mengalami masalah ekonomi, maka suatu keharusan si ponggawa harus mencarikan bantuannya, baik itu dalam bentuk uang atau materi lainnya. Memilih ponggawa pun tidak asal, ada kriteria terentu seperti adil, jujur, dan sifat terpuji lainnya.  Kebiasaan seperti ini sudah lama terjalin di antara sesama nelayan dan hal seperti ini harusnya dapat menjadi contoh dalam strukur lembaga lainnya atau tidak hanya dalam struktur kenelayanan saja.

Kehidupan masyarakat nelayan mandar, dalam sistem pembagian kerja dalam kehidupan keluarga tidak bias gender. Proses mencari nafkah, bukan tanggungan kepala keluarga saja, melainkan suami istri berkontribusi sama penting di dalamnya. Hal ini tercermin dari adagium siwalli parriq yang berarti bekerja Bersama atau gotong royong. Contohnya saja kita lihat di mana kaum laki-laki melaut dan para perempuan atau ibu-ibu menunggui sang suami semabari menenun. Anggapan masyarakat nelayan mandar adalah keluarga itu milik bersama, bukan perseorangan.

Di setiap aspek kehidupan mandar, budaya bukanlah ruang yang gersang tanpa nilai, sehingga ketika agama datang tinggal bagaimana keduanya dapat saling berdialog. Agama dan budaya berjumpa dalam satu tarikan nafas, dan memenuhi segala bidang kehidupan. Masyarakat nelayan dapat hidup, dihidupi, dan menghidupi lautan berkat keterikatan pada agama dan budaya.

Menjadi Mandar, menurut penulis adalah menjadi manusia Nusantara. Sebab tantangan kita ke depan kini semakin banyak, terlebih dalam hal tergerusnya identitas lokal kita. Gambaran yang dapat kita lihat ketika sebagian orang gemar mengkafirkan, mengkufaratkan, menyesatkan, dan semacamnya, tradisi masyarakat yang makna sebenarnya adalah mensyukuri keagungan Tuhan lewat alam raya ciptaan-Nya. Hal ini akan semakin menjadi ketika kita tetap petantang petenteng atau bersikap bodoh amat dengan tidak lagi perduli dengan budaya luhur kita.

Apalagi sampai membenturkan agama dan budaya adalah hal yang bermasalah dan sesegera mungkin diperbaiki. Sebab intrepretasi kita terhadap teks yang membuat kita sering bersitegang antar sesama. Belum lagi aspek hubungan dengan alam, yang di mana manusia kerap kali menanggalkan subyektifitas yang melekat pada alam semesta. Perlakuan kita seringkali merasa lebih superior, menganggap alam sekadar obyek eksploitasi, dan mengabaikan alam sebagai ciptaan Allah swt.

Sudah saatnya kita belajar dari para leluhur, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh masyarakat nelayan Mandar. Maka sepatutnya pula, kita harus bangga menjadi manusia nusantara dan pastikan nusantara bangga dengan kita. Jadi mari saling mengintropeksi diri apakah bangunan hubungan kita terhadap Allah, alam dan manusia sudah terjalin secara seimbang hingga saat ini?

Salama’ki iya nasanna.

Arif Nurkholis, Kader PMII Kab. Gowa

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here