Annangguru Hawu, Ajarkan Cinta di Tengah Masyarakat Multikultur Polewali

0
903
Ilusrasi: Muh. Irham (Karya-karyanya bisa dinikmati di @kurikulumerdeka)

Selepas berziarah ke makam Waliullah Syekh Bil Ma’ruf Abdurrahim Kamaluddin di Pulau Salama’, Kelurahan Amassangang, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, minggu (16/02/2020) lalu, penulis bersama rombongan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Barat beserta sejumlah anak muda NU Polewali Mandar, bertolak menuju Kota Polewali. 

Sebuah kota kabupaten padat penduduk, dengan kehidupan masyarakat urban yang majemuk – kesibukan orang kantoran, pekerja jasa, aktifitas jual beli di pasar baru, dan potret kehidupan nelayan di lingkungan Ujung, Sarampu, Kalawa’, hingga Takatidung.

Kota tua polewali dikenal multikultur karena beragamnya suku bangsa yang mendiami kota ini. Ada orang Mandar, Bugis, Pattae’, Jawa, Aralle, Mambi, Mamasa, dan sebahagian kecil etnis Tionghoa. Tak heran, kita akan banyak menjumpai sejumlah bangunan masjid dan satu dua bangunan gereja yang masing-masing umatnya hidup rukun dan damai.

Menjejaki kawasan kota tua Polewali, tiada lain untuk meraup berkah ulama besar tanah Mandar, Allahu Yarham Annangguru Haji Sahabuddin (Annangguru Hawu). 

Nama beliau mirip dengan nama pendiri kampus Universitas Al-Asyariah Mandar Annangguru Prof. Dr. KH. Sahabuddin. Namun keduanya berbeda.

Petilasan makam Annangguru Hawu berada di Jalan Kemakmuran, kompleks Masjid Al Munawwarah di Kelurahan Wattang, Kecamatan Polewali. Lokasi makam yang terletak di tengah-tengah kota.

Petilasan makam Annangguru Hawu (Foto: Dok. Penulis)

Masjid yang berjarak puluhan meter dari kawasan wisata pantai bahari. Pantai yang dari sore hingga malam hari akan diramaikan oleh wisata kuliner. Hilir mudik kendaraan dan temaram lampu merkuri yang terpasang di sepanjang bahu jalan.

Kehadiran Annangguru Hawu mengobati dahaga batin warga (umat Islam) yang setiap hari disibukkan dengan urusan pekerjaan, yang lazim kita jumpai di kota-kota kabupaten lain di Indonesia. Masyarakat kota yang dulunya adalah penduduk desa, karena tuntutan pekerjaan kemudian hijrah dan menetap di kota Polewali.

Annangguru Hawu adalah ulama asal Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Polewali Mandar. Pambusuang adalah kampung pesisir, sebuah perkampungan yang homogen dan di huni seratus persen orang Mandar yang beragama Islam. Kampung santri, banyak panrita sufi tanah Mandar dilahirkan di sana. 

Sebut saja diantaranya AG. KH. Muhammad Thahir (Imam Lapeo), AG. KH. Muhammad Nuh (nama pondok pesantren Nuhiyah diambil dari nama beliau), AG. KH. Muhammad Shaleh (Tarekat Qadiriyah), AG. KH. Muhammad Alwi (Imam Janggo’), Habib Sayyid Djafar Thaha Al Mahdaly, dan AG. KH. Ismail (Annangguru Suma’el), serta nama-nama lain yang tak bisa dituliskan satu persatu dalam tulisan singkat ini. 

Annangguru Hawu setelah mukim di Polewali menetap bersama istri dan anak-anaknya mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar, hingga menjadikan kota tua Polewali sebagai tempat pengabdian beliau yang terakhir.

PW NU SULSEL

Penuh Cinta dan Kasih Sayang

Cerita tentang kesufian Annangguru Hawu, ulama yang dikenal wara’ (hati-hati) atau dalam bahasa mandar “manini’, diceritakan oleh Imam masjid agung Syuhada Polewali Mandar Habib Ahmad Fadl Al Mahdaly.

Bahwa Annangguru Hawu merupakan ulama berwajah teduh yang lemah lembut, penuh kasih sayang, baik itu kepada sesama manusia maupun makhluk hidup yang dijumpainya.

Sebelum berpindah ke kota Polewali, Annangguru Hawu kerap kali melaut bersama santri-santrinya yang rata-rata nelayan di kampung kelahirannya di Pambusuang. 

“Annangguru Hawu ketika pergi melaut bersama para santrinya, akan memilah ikan-ikan yang didapat. Jika terlampau kecil, ikan tersebut akan dilepaskan kembali ke laut, kerap para nelayan terheran dengan sikap beliau itu,” tutur Habib Fadl menceritakan keistimewaan Annangguru Hawu.

Alasan melepas ikan yang terlalu kecil tersebut karena mengibaratkan ikan itu seperti manusia. Ikan berukuran kecil berarti seperti anak kecil yang masih bergantung pada kasih sayang orang tuanya.

Apabila tidak dilepaskan, ibunya tersebut akan rindu dan mencarinya kemana-mana. Tak terbayangkan, kerinduan seorang ibu kepada buah hatinya yang hilang entah ke mana.

Pun demikian, jika ikannya terlalu besar, ikan tersebut akan dilepas oleh Annangguru Hawu dengan alasan yang sama, menganggap ikan itu perumpamaan seorang ibu.  

Ibu yang akan terputus kasih sayang dengan anak-anaknya yang masih bergantung kepadanya. Anak-anaknya yang tengah menunggu kepulangannya akan terlantar. Annangguru Hawu tak ingin menjadi sebab terputusnya jalinan cinta, antara si ibu dan buah hatinya.

Acapkali para santri Annangguru Hawu terheran oleh sikap beliau yang tak lazim diperbuat seperti orang kebanyakan.

“Jadi Annangguru meminta ikan-ikan itu dilepaskan, santri-santrinya kadang terheran-heran, beliau lebih menyukai ikan yang berukuran sedang, karena menganggap ikan itu telah mandiri, dan tak ada yang terlalu bergantung kepadanya,” tambah Habib Fadl Al Mahdaly.

Ditambahkan anak sulung Allahu Yarham Habib Sayyid Djafar Thaha Al Mahdaly tersebut, kisah lain tentang keistimewaan Annangguru Hawu juga pernah terjadi saat membawakan pengajian kitab. 

Kala itu Annangguru Hawu secara tiba-tiba kesulitan mencerna salah satu isi kitab yang sementara diajarkan. Beliau kemudian mengistirahatkan pengajian untuk sementara waktu. 

Kepada istrinya, beliau bertanya  tentang masakan yang baru saja beliau makan sebelum pengajian. 

“Bu, masakan ta’ tadi bahan-bahanya diambil dari mana saja?” tanya Annangguru Hawu. 

“Bahan-bahannya saya beli di pasar,” kata istrinya. 

“Coba ingat-ingat dulu, apa-apa saja rempah yang kita campurkan,” tambah Annangguru Hawu. 

“Oh iya, ada jeruk nipisnya tadi tetangga yang jatuh saya pungut, itu yang dipakai tadi masak ikan,” tambah istrinya.

“Pantas, kita kesana dulu kasi tahu, terus minta baik-baik supaya halal,” pinta Annangguru Hawu.

Istrinya pun pergi ke tetangganya tersebut, dan meminta kehalalan satu buah jeruk nipis tadi. Setelah selesai, Annangguru Hawu kemudian melanjutkan pengajian bersama santrinya, isi kitab yang tadinya beliau lupa dan sulit dijelaskan pemaknaannya, seketika langsung beliau ingat dan dijelaskan dengan sangat lancar oleh Annangguru Hawu. 

***

Begitulah praktek kesufian Annangguru Hawu yang tetap mengedepankan sikap wara’ (hati-hati), meski hal itu bagi orang lain adalah sesuatu yang sepele dan remeh temeh. Seperti ikan-ikan dan buah jeruk nipis di atas.

Dijelaskan Muhammad Subaer Sunar, warga jalan olahraga kelurahan Wattang Polewali, bahwa ajaran cinta dan kasih sayang saat berada di Pambusuang, ditransformasikan dengan baik oleh Annangguru Hawu di Kota Polewali. Ajaran beliau yang harmoni dan penuh cinta, membuat warga selalu rukun dan damai. 

“Khotbah dan ceramah beliau membawa kesejukan sebagai perwujudan islam rahmatan lil alamin,” kenang Subaer.

Ayah dari Annangguru Puang Lawi

Annangguru Hawu merupakan orang tua kandung dari Annangguru Hajjah Alwiah (AG. KH. Puang Lawi), ulama perempuan yang masyhur namanya di Kota Polewali. 

Annangguru Puang Lawi’ sendiri adalah Ketua Yayasan Perguruan Agama Islam Husnul Khatimah. Sebuah yayasan yang menaungi lembaga pendidikan Pondok Pesantren dan SMK Maarif Husnul Khatimah di Jalan Gatot Subroto Kelurahan Madatte, Polewali.

Yayasan Perguruan Agama Islam Husnul Khatimah (Foto: Dok. Penulis)

Selain itu, Annangguru Puang Lawi juga membina anak-anak yatim piatu lewat panti asuhan yang beliau dirikan di kediamannya di Jalan Olahraga, Lingkungan Wattang Polewali. Kediaman yang tak terlampau jauh jaraknya dari Masjid Al-Munawwara, tempat Annangguru Hawu dimakamkan.

Annangguru Puang Lawi’ sangat dihormati, baik dari kalangan masyarakat biasa hingga para pejabat daerah yang datang meraup berkah.

Warisan kebersahajaan dari ayahanda tercintanya dijalankan sebagaimana pesan yang dititipkan – merawat umat, memajukan pendidikan agama, membantu kehidupan anak-anak yatim piatu, dan merawat harmoni kerukunan umat beragama di Kota Polewali. 

Ajaran Annangguru Hawu dan anak-anak beliau, serta santri-santrinya di tengah kompleksitas masyarakat Kota Polewali yang multikultur, beragam suku, agama, dan budaya bersinergi dengan ulama lain yang ada di Kota Polewali dan sekitarnya. 

Seperti Allahu Yarham, AG. Prof. Dr. KH. Sahabuddin, AG. KH. Mukhtar Badawi, AG. KH. Muhammad Arif Lewa, dan beberapa pendiri pondok pesantren di Binuang (kecamatan yang berbatasan langsung dengan Polewali), yang juga senantiasa menjadikan cinta sebagai ruh dalam berdakwah. 

Dakwah Islam yang ramah dan sejuk. Islam rahmatan lil alamin yang penting bagi kita semua, terkhusus lagi generasi milenial untuk terus mempelajari dan mengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Wallahu a’lam bish sawab.

Muhammad Arif, Wakil Ketua GP Ansor Polewali Mandar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here