AG. KH. Abd. Rahman Matammeng: Sampai Mati Tetap NU (Bagian I)

0
453
Ilustrasi (Muh. Irham)

“Gara-gara itulah kita hancur karena tidak mau masuk Golkar. Tidak ada urusan yang beres. Karena dulu pernah dibujuk sama pak Walikota. Macam-macam dijanjikan. Sekolah Gurutta akan dibangun dua lantai. Tapi dia (Gurutta Matammeng, red) tidak mau sehingga sekolah tidak dibangun. Biar barangkali gunung emas di mukanya dia tidak mau karena dia NU. Sampai mati dibawa NU-nya,” tutur St. Zubaidah.           

***

Menuliskan riwayat allahuyarham Anregurutta KH. Abd. Rahman Matammeng ternyata bukanlah pekerjaan mudah. Banyak kesulitan yang harus dilalui. Selain sedikit sekali data tertulis tentang beliau juga butuh analisis mendalam untuk mengelolanya menjadi satu hasil investigasi atau hasil liputan dari wawancara yang dihimpun dari orang-orang terdekat sang kiai atau dari sekelompok masyarakat di mana Anregurutta hidup bermasyarakat.

Untungnya beberapa rekan muda NU yang aktif di LAPAR (Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat) Makassar seperti Idham Arsyad, Saprillah Syahrir, dan Abd. Hakim Madda pernah melakukan riset yang diberi judul Fact Finding Pengaruh Peristiwa DI/TII terhadap Eksistensi Pesantren dan Ulama Di Sulawesi Selatan beberapa tahun silam. Sayangnya, hasil riset itu belum sempat diterbitkan hingga sekarang.

Tulisanini bisa dianggap sebagai “catatan pengiring” terhadap hasil fact finding yang dilakukan rekan-rekan muda NU sebelumnya, ditambah berbagai data yang dihimpun dari berbagai kesempatan, baik itu wawancara resmi atau sewaktu silaturahmi dengan keluarga atau beberapa ulama di daerah ini, serta data yang diperoleh lewat obrolan-obrolan kecil sembari menikmati secangkir kopi atau teh yang disuguhkan masyarakat Galesong Baru Makassar yang sempat ditemui, tempat di mana gurutta mengabdikan hidupnya menjelang akhir hayatnya.

Apa yang dituturkan oleh Ibu St. Zubaidah, istri Anregurutta KH. Rahman Matammeng di awal tulisan ini adalah gambaran kecil tentang komitmen seorang Abd. Rahman Matammeng terhadap jam’iyah Nahdhatul Ulama. Beliau, kata sang murid KH. Mahmud Abbas menuturkan bahwa secara struktural jabatan beliau di NU hanya tingkat MWC (Majelis Wilayah Cabang) yakni MWC Kec. Ujung Tanah.

“Setelah (jabatan) itu berakhir beliau tidak pernah berhenti mengabdikan dirinya untuk Nahdhatul Ulama hingga akhir hayat,” ujar KH. Mahmud Abbas.

Ingatan serupa diberikan oleh sang putri, Prof. Nurhayati Matammeng.

“Saya ingat ayahku, dedengkotnya NU. Setiap subuh didatangi semua kelompok-kelompok Islam berdialog. Dan sangat bilhikmah. Ayahku sangat dekat dengan Ahmadiyah, Khalwatiyah, dan Naqsabandiyah,” kenang Nurhayati.

Paparan di bawah ini akan  semakin menegaskan tentang sosok gurutta Matammeng sebagai seorang kiai NU yang punya komitmen tinggi terhadap jam’iyah, seorang ulama yang senantiasa berdakwah dengan hikmah dan fleksibel dalam bergaul.

***

PW NU SULSEL

Suatu ketika di tahun 1950-an, Gurutta Matammeng yang akrab disapa dengan Kiai Rahman Bone melakukan dakwah di sebuah desa di kaki gunung Empungeng Kabupaten Soppeng. Saat itu masyarakat pegunungan Empungeng masih memegang teguh tradisi Sawerigading. Gurutta Matammeng tidak lantas memvonis masyarakat Empungeng musyrik, tapi mencoba menyelami alam pikiran mereka. Masyarakat Empungeng ternyata masih teguh menjalankan agama Sawerigading yang dianut dari para leluhur. Tapi mereka punya mitos. Mereka akan meninggalkan agama Sawerigading-nya dan ikut agama Nabi Muhammad bila mabbettu-bettuni buluE ri liweng, sianre-anre ManuE, gunung-gunung di sebelah sudah meletus dan binatang saling memangsa.

Saat itu Kiai Matammeng “ikut” dalam gerakan DI/TII yang dipimpin Kahar Muzakkar. Beliau pun memerintahkan pasukan Kahar untuk melakukan tembak-menembak, perang-perangan. Pagi harinya Gurutta Matammeng mendatangi masyarakat Empungeng.

Maddupani Pesanna nenemu. Pesan leluhur kalian telah terbukti,” ujar anregurutta Matammeng.

Seketika masyarakat Empungeng pun memeluk Islam di bawah bimbingan Gurutta Matammeng.

Jadi Gurutta Matammeng tidak serta-merta menyalahkan apa yang dianut dan diyakini masyarakat Empungeng, tapi beliau mendakwahkan Islam dengan melakukan pendekatan kemanusiaan, memberikan nasehat dan pengertian. Tidak langsung memvonis atau menghakimi. Gurutta juga memahami budaya masyarakat setempat karena beliau sendiri kata St. Zubaidah, sang istri, memahami sejarah Sulawesi Selatan dari lontara La Galigo.

“Beliau sering menuturkan isi lontara, mulai proses penciptaan manusia pertama sampai lahirnya Sawerigading,” tutur Zubaidah.

Gurutta Matammeng juga fleksibel dalam bergaul. Jangan heran bila undangan ceramahnya datang dari berbagai kalangan. Mulai dari orang biasa sampai pejabat militer dan pemerintah sekalipun Kiai Matammeng sering mendapatkan perlakuan yang tidak wajar dari pemerintah. 

“Dia (Gurutta Matammeng, red) kalau ceramah tidak pernah jelek-jelekkan Golkar sekalipun Golkar sering menekannya. Memang Golkar sering menekan bapaknya Nurhayati tapi itu tidak bisa dilakukan karena dia punya kartu veteran yang menerangkan bahwa dia adalah seorang pejuang. Itulah bapaknya Nurhayati. Orang bilang tidak ada yang bisa ikuti bapaknya ceramah karena bisa mempersatukan orang,” cerita St. Zubaidah.

Gurutta Matammeng juga dekat dengan berbagai organisasi keagamaan, mulai dari Muhammadiyah sampai kelompok tarekat. Masih menurut sang istri, beliau sering diundang oleh Muhammadiyah bukan hanya ceramah bahkan diundang mengikuti konferensi sekalipun beliau adalah orang NU.

“Baginya dunia penuh dengan agama. Terserah mau pilih yang mana,” ujar Ibu Zubaidah.

Bahkan beliau pernah menjadi juru damai antara pemerintah dan kelompok tarekat. Ceritanya pernah kelompok tarekat Khalwatiyah di Kab. Maros “bentrok” dengan aparat pemerintah setempat. Sang bupati dibikin pusing. Akhirnya bupati meminta bantuan sang kiai. Barangkali bupati mengetahui kalau Kiai matammeng adalah juga penganut tarekat yaitu tarekat Muhammadiyah, salah satu tarekat mu’tabarah di NU. Gurutta kemudian mengunjungi mursyid tarekat Khalwatiyah. Kata damai pun akhirnya bisa terwujud.   

Bersambung…

Mubarak Idrus, Pengurus LTN NU Sulsel

***Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Peduli PCNU Kota Makassar tahun 2005 dengan gubahan semestinya.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here