Barakka’ To Salama’ di Binuang: Syekh Bil Ma’ruf Abdurrahim Kamaluddin

0
696
Makam Syekh Bil Ma’ruf Abdurrahim Kamaluddin di Pulau Salama' (Foto: dok. penulis)

Ahad 16 Februari 2020 lalu. Tak begitu pagi, sekitar pukul 09. 30, laut nampak tenang di dermaga penyeberangan menuju pulau Salama’, di kampung Bajoe Kelurahan Amassangang, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar.

Mengunjungi Pulau Salama’, berarti menapaki sebuah tempat yang damai bak surgawi. Daya tarik pulau disertai debur ombak Selat Makassar, menjanjikan ketentraman batin bagi siapa saja yang menjejakinya. 

Disebut pulau Salama’, sebab di sana terdapat makam penyebar Islam pertama di Mandar, To Salama’ Syekh Bil Ma’ruf Abdul Rahim Kamaluddin. 

Dalam bahasa Mandar, salama’ berarti selamat. To Salama’ diartikan sebagai orang yang selamat, dunia dan akhirat (fiddun ya wal akhirah). Orang-orang yang diyakini secara spritual, berjumpa dengan dzat Allah swt.

Pulau Salama’ secara administratif terletak di Kelurahan Amassangang, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Tak terlampau jauh jaraknya dari kota Polewali.

Dua kapal mini dan satu speed boat, mengantarkan penulis bersama rombongan peziarah menuju pulau yang tampak sangat hijau dari kejauhan. Rombongan yang terdiri dari sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Barat dan anak-anak muda NU di Polewali Mandar (PMII dan Gerakan Pemuda Ansor).

Kapal berlabuh di dermaga, tepat di bibir pantai yang dihiasi siluet batu karang. Kami langsung disambut senyum hangat penduduk pulau yang sepertinya tak akan pernah kehabisan cadangan senyum. 

Senyum khas nelayan yang hampir selalu dijumpai tatkala berkunjung ke kampung-kampung pesisir di tanah Mandar. Kesenangan dan kegetiran hidup, disambut dengan tawa dan senyum. 

Makam Waliullah Syekh Bil Ma’ruf Abdurrahim Kamaluddin tak terlampau jauh jaraknya dari perkampungan warga yang sepanjang garis pantainya ditumbuhi pohon bakau (mangrove).

Kompleks makam yang sedari pagi menjelang siang juga telah disesaki peziarah yang datang dari berbagai tempat. Mereka menunggu antrian untuk masuk berziarah meraup berkah.

Untuk menjangkaunya, kita akan menaiki puluhan anak tangga. Sebab letak makam berada di atas gundukan tanah yang tinggi. Rombongan kemudian bersegera menaikinya saat tiba di sana.

PW NU SULSEL
Perjalanan menyusuri makam Syekh Bil Ma’ruf Abdurrahim Kamaluddin (Foto: dok. penulis)

Baru menaiki satu anak tangga, aura spritual sang wali sudah sangat terasa. Terlebih, saat hendak memasuki pintu makam, para peziarah sudah tak ada lagi yang bersuara nyaring. Semua takzim di tempat duduk masing-masing. 

Dalam sebuah riset akademik ditemukan bahwa Syekh Bil Ma’ruf Abdurrahim Kamaluddin adalah Panrita Sufi bijak bestari yang berhasil melunakkan hati Raja Balanipa ke-4 Daetta Tommuane alias Kakanna I Pattang, untuk kemudian berikrar memeluk Islam. 

Begitu kuatnya pengaruh sang wali yang mampu masuk ke lingkungan istana kerajaaan kala itu menyampaikan risalah kenabian. 

Bak gayung bersambut, tak ada ketegangan berarti tatkala beliau memperkenalkan Islam yang saat itu masih sangat asing bagi petinggi kerajaan dan masyarakat yang ada di Mandar.

Beliau memperkenalkan nilai-nilai keluhuran Islam yang rahmatan lil alamin, dengan tutur yang lembut dan perangai yang tak kalah lembutnya pula.

Risalah kenabian yang disampaikannya berjumpa dengan nilai-nilai kearifan orang Mandar yang juga menjunjung tinggi adab dan akhlak yang mulia. Malumu pau, malumu kedo (lembut dalam berkata, lembut dalam bersikap).

Pondasi keislaman yang berkebudayaan inilah kemudian yang diletakkan Syekh Bil Ma’ruf Abdurrahim Kamaluddin yang kini kita rasakan sekarang. KeIslaman yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.

Maarif NU di Pulau Salama’

Selepas berziarah, rombongan selanjutnya mengunjungi dua lembaga pendidikan Maarif NU yang tak jauh dari petilasan makam, meski bukan kunjungan formal.

Melewati jalan setapak yang mengelilingi pulau, perahu nelayan yang lalu lalang di laut lepas, sesekali penulis jumpai. 

Sekitar sepuluh menit berjalan, kita akan sampai ke tempat tersebut,  yakni Madrasah Tsanawiah dan Raudathul Athfal (setingkat PAUD) di bawah binaan langsung LP Maarif NU Polewali Mandar. 

Mengunjungi madrasah yang kondisi bangunan fisiknya masih sangat sederhana, berdinding anyaman dan atap seng seadanya.

Sepengetahuan penulis, bangunan ini adalah hasil patungan dari sejumlah warga Nahdliyyin di kepengurusan LP Maarif NU Polewali Mandar. Tanah yang ditempati adalah tanah yang diwakafkan oleh warga pulau Salama’.

Mereka menyisihkan sebagian hasil keringatnya, demi melihat anak-anak pulau Salama’ mengenyam pendidikan tanpa harus menyeberangi laut ke kota Polewali dan daerah sekitar. 

Ya, sebuah pekerjaan rumah (PR) bagi warga Nahdliyyin di semua tingkatan – struktur dan kultur – untuk menjadikan Madrasah beserta Raudathul Athfal tersebut sebagai solusi bagi warga pulau yang ingin memperoleh pendidikan formal, sebab tak banyak sekolah agama yang berdiri disana.

Penulis disambut pula sejumlah anak kecil yang tengah asyik bermain di fasilitas bermain yang disediakan oleh pengelola Raudhatul Athf’al Maarif NU. 

Anak-anak tersebut berlarian kesana kemari. Naik turun tangga. Tawa riangnya terdengar menyatu bersama deburan ombak dan semilir angin yang sepoi-sepoi.

Keluguan berbaur kelucuan anak-anak ini semakin melengkapi keindahan panorama surgawi yang ada di Pulau Salama’. Bahwa dahulu kala, pernah ada seorang aulia bermukim di pulau nan terpencil ini, yang selanjutnya mensyiarkan Islam damai ke relung-relung batin masyarakat di tanah Mandar tercinta. Al-Fatihah.

Muhammad Arif, Wakil Ketua GP Ansor Polman

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here