AG. KH. Muhammad Nur: Tak Pernah Lelah Mengawal NU

0
954
Ilustrasi (Muh. Irham)

Saya menduduki posisi Islah Zatih Bain sejak tahun 1970 dan belum diganti sampai sekarang”, kata Gurutta Nur saat kami temui di kediamannya beberapa masa silam. Islah Zatih Bain adalah sebuah lembaga yang menegahi persoalan-persoalan politik di internal tubuh NU.

“Tapi lembaga itu mungkin sudah tidak ada lagi di NU bahkan hampir pasti tidak ada yang tahu itu”, lanjut Gurutta sembari tersenyum renyah.

Apa yang diungkapkan beliau setidaknya menjadi gambaran kecil tentang komitmen beliau terhadap NU. Tak ada yang meragukan kapasitas dan konsistensi beliau terhadap jam’iyah. Bahkan sejak tahun 1964, ia sudah mulai bergabung dengan Rabithatul Ulama (RU), sebuah organisasi keulamaan yang dipelopori oleh KH. Muh. Ramli, KH. Ahmad Bone, dan KH. S. Jamaluddin Assegaf P. Ramma. RU inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Nahdhatul Ulama (NU) di Sulsel. Saat Gurutta Nur bergabung di RU, posisi ketua dipegang oleh KH. Ahmad Bone.

Beliau pun sangat antusias ketika dikunjungi oleh panitia Harlah NU Ke-80 dan Haul KH. Muh. Ramli ke-48 meskipun menyatakan tidak bisa hadir karena kesehatan beliau yang tidak memungkinkan. Meski begitu beliau mendoakan agar acara tersebut sukses. Beliau tak pernah lelah memberi masukan-masukan segar atau sekadar nasehat kepada generasi muda NU.

“Harus terus bikin kegiatan. Jangan hampir pemilu baru bikin kesibukan atau baru diramaikan”, titipnya kepada kami.

Serukan Islam Rahmatan Lil Alamin

Suatu ketika, Imam Ahmad berguru ke Imam Syafi’i tentang fiqh al-hadis, cara memahami sebuah hadis. Maklum, Imam Ahmad tidak menguasai ilmu itu. Beliau tidak menyusun kitab fiqh. Saat beliau berhadapan dengan Imam Syafi’i, sang Imam bertanya, tolong anda sebutkan sebuah hadis yang anda hafal. Imam Ahmad pun menyebut sebuah hadis, man taroka al-shalat fa qad kafaro. Imam Syafi’i lalu bertanya ke Imam Ahmad tentang maksud hadis itu. Imam Ahmad pun menguraikan maksud dari hadis yang diungkapkannya tadi. Kata Imam Ahmad, jika seseorang meninggalkan shalat, maka dia kafir.

Imam Syafi’i kemudian memberikan tanggapan atas penjelasan yang diberikan Imam Ahmad. Jika yang meninggalkan shalat tadi dan sudah dianggap kafir, kata Imam Syafi’i, kemudian shalat kembali saat waktu shalat masuk, apakah shalat sah atau tidak. Shalatnya sah, jawab Imam Ahmad. Kapan syahadatnya (masuk Islamnya lagi), Imam Syafi’i menggugat penjelasan yang diberikan Imam Ahmad. Beliau hanya terdiam. Tak bisa menjawab apa yang dikemukakan Imam Syafi’i.

Kisah tersebut diceritakan ulang oleh AG. KH. Muhammad Nur pada kesempatan lain pengajian yang diasuh beliau.

“Kalau semua yang meninggalkan shalat itu dicap kafir, kasihan anak-anak muda yang nakal. Mereka semuanya pasti sudah kafir karena mereka jarang shalat. Suruh saja mereka shalat jika waktu shalat masuk. Jangan selalu mencap kafir seseorang”, demikian komentar Gurutta tentang cerita tersebut.

Dari cerita itu, Gurutta menerangkan bahwa seseorang tidak cukup hanya memahami hadis saja. Tapi perlu memahami fiqh al-hadis, maksud sebuah hadis. Bagaimana caranya memahami fiqh al-hadis. Kata beliau, harus lewat ijazah, harus mengaji kepada seorang syekh atau kiai. Tapi sekarang banyak orang tahu hadis, hafal hadis lewat wijadah atau membaca sendiri. Misalnya masuk perpustakaan, buka kitab hadis, kemudian dihafal. Padahal itu belum cukup.

“Jadi belajar hadis harus lewat seorang guru, lewat ijazah agar tidak salah paham. Karena ada hadis sahih tapi tidak boleh diamalkan, tapi ada juga hadis yang ditolak atau dinilai tidak sah oleh ahli hadis tapi bisa diamalkan. Seperti hadis tentang masih hidupnya nabi Khidir. Imam Bukhori menolak hadis tersebut tapi banyak orang, khususnya para sufi yang meyakini bahwa nabi Khidir masih hidup”, terangnya.

PW NU SULSEL

Beliau juga sempat heran terhadap sekelompok orang yang menganggap fiqih itu banyak memuat pertentangan-pertentangan. “Itu mungkin karena mereka tidak tahu saja”, gumam sang Kiai.

Baca juga: Annangguru Edda: Keikhlasan di Balik Rumah Panggung

Anregurutta tak lupa menitipkan harapan kepada kaum muslimin khususnya para dai agar berdakwah dengan damai, dengan rahmatan lil alamin. Beliau cukup masygul atas fenomena kekerasan atas nama agama yang terjadi belakangan ini.

La ikraha fi al-din, tidak ada paksaan dalam agama. Tugas kita menyeru seseorang dengan hikmah, bukan dengan jalan kekerasan. Kita bukan Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa memaksa,” ujar Gurutta. 

“Orang minum tuak dalam rumahnya saja tidak boleh diganggu. Apalagi kalau pintu rumahnya ditutup, harus minta izin dulu baru masuk karena rumahnya orang. Biarkan nanti berhadapan dengan Tuhan karena dia (hanya) merusak dirinya. Kalau merusak masyarakat baru boleh dikerasi. Kalau tidak, jangan dikerasi. Seperti meledakkan bom. Ini tidak cocok. Apalagi mengatakan bahwa yang dilakukannya itu jihad. Kalau mau jihad, lawan hawa nafsu kita. Jadi tugas kita hanya memberikan ajakan dan penjelasan kepadanya akan apa dan bagaimana yang dilakukannya tersebut. Nabi Muhammad memerangi orang kafir Mekah karena dakwahnya diganggu. Jadi biasakan mengajak seseorang dengan damai, bukan dengan kekerasan”, jelas Kiai Nur.

Sang Kiai yang juga mendapat gelar Imam al-Ahsri dari Mesir, lalu mengutip sebuah hadis yang sangat populer. Suatu ketika, kata Kiai Nur, Nabi beristirahat di bawah pohon, tiba-tiba ada yang menghunus pedang ke arah Rasul lalu mengancam beliau. “Siapa yang menolong kamu?” kata orang yang menyerang Rasulullah. Beliau menjawab, Allah Azza Wajallah. Maka jatuhlah pedang itu kemudian diambil oleh Rasul lalu berbalik mengancam. “Siapa yang akan menghalangimu dariku”, kata Rasul.

Orang itu menjawab, jadilah orang yang memperlakukan musuh dengan baik. Rasulullah kemudian berkata ke orang itu, hal laka fi al-Islam, mauka kamu masuk Islam (dalam versi lain berbunyi, atasyhadu an la ilaha illallah, bersaksilah bakwa tidak ada Tuhan selain Allah. red). Orang itu menjawab, tidak, tapi saya berjanji tidak akan menyerang kamu dan tidak ikut bersama kaum yang menyerang kamu. Lalu Rasullah melepaskan orang itu. Kata Gurutta, justru karena orang ini sehingga kemudian hari banyak yang masuk Islam. Demikianlah Gurutta mengajarkan kita untuk bersikap dengan arif, damai, dan tidak dengan jalan kekerasan.   

Mubarak Idrus, Pengurus LTN NU Sulawesi Selatan

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Peduli PCNU Kota Makassar (2005)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here