Memotret Syiar Islam Masjid Agung Syuhada Polewali Mandar

0
974
Masjid Agung Syuhada Polewali Mandar (dok. penulis)

Sepagi ini memotret keindahan bangunan masjid agung Syuhada di Kota Polewali. Masjid dengan syiar agama Islam yang sejuk dan damai. The Spritual Mosque, tempat perjamuan batin umat Islam, dengan geliat ekonomi rakyat dipelatarannya, yang perlahan terus tumbuh. 

Masjid agung Syuhada berdiri megah di pusat Kota Polewali, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Masjid yang bersitatap langsung dengan lapangan Pancasila, Gedung Nusantara (gadis), dan rumah jabatan Bupati Polewali Mandar.

Di masjid ini, kita akan dengan mudah menjangkau kantor-kantor layanan publik. Seperti Kantor Kementrian Agama Polewali Mandar, Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), kantor Dinas Perhubungan, dan Polres Polewali Mandar. 

Kemudian, tak jauh juga kantor Layanan Pajak, Kantor Badan Keluarga Berencana, Kantor Urusan Agama (KUA), Komisi Pemilihan Umum, kantor Kelurahan Pekkabata, bangunan sekolah SMAN 1 Polewali, dan Telkom. Dan, yang tak pernah sepi, kantor Kependudukan dan Catatan Sipil (dukcapil).

Pasar rakyat (sentral) dan radio lokal, juga tak jauh jaraknya dari masjid kebanggan warga Polewali Mandar tersebut. Hari jumat akan sangat ramai, sesak, dipenuhi jamaah yang melaksanakan salat.

Pelaksanaan salat jumat disiarkan secara live oleh STFM, salah satu stasiun radio lokal di kota ini. Yang diisi oleh khatib dari para muballigh yang sudah tidak diragukan kapasitas keilmuan agamanya.

Setiap ba’da magrib, malam senin dan sabtu, masjid ini akan diisi pengajian yang dibawakan oleh para Annangguru (Kyai), yang telah dijadwal khusus oleh panitia pembangunan masjid. Pengajian yang terbuka untuk umum. 

Para Annangguru ini adalah para Ulama yang keilmuan agamanya telah cukup mumpuni. Sengaja didatangkan oleh pihak panitia masjid dari pondok pesantren ternama dan pengajian kitab kuning di kampung-kampung santri.

Para Annangguru yang berasal dari dua pesantren ternama di Polewali Mandar, yaitu dari Pondok Pesantren Salafiyah Parappe Campalagian dan Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang. Kedua pesantren ini dikenal cukup berumur dengan ribuan alumni yang tersebar di mana-mana. 

Mahfum diketahui di kedua tempat ini, sejak zaman dulu, menjadi pusat pendidikan santri di tanah Mandar. Banyak Annangguru dan cendikiawan muslim terlahir dari sini. Sebut saja Annangguru Haji Abdul Latif Busra, Habib Sayyid Jafar Thaha Al Mahdaly, dan tokoh nasional Baharuddin Lopa, serta sejumlah nama tenar lainnya. 

Bisa dikatakan, Campalagian dan Pambusuang adalah ibukota kaum Nahdliyyin di Polewali Mandar, dengan suasana kota santri yang hingga hari ini masih terjaga kekhasan dan karakternya. 

Meski tak dipungkiri, di Polewali, Binuang, Wonomulyo, dan tempat-tempat lain juga terdapat sejumlah pesantren yang terus bergeliat mencetak santri-santri unggul untuk aset daerah dan bangsa di masa depan.

Konten-konten dakwah yang disampaikan para Annangguru yang membawakan pengajian di Masjid Syuhada tersebut, lumayan sejuk, ramah, dan menentramkan. 

Halaqah dengan kajian kitab-kitab klasik yang disampaikan dengan tutur dan bahasa yang akrab dengan kehidupan keseharian warga. Kisah Nabi, kisah para sufi, yang menembus ruang-ruang terdalam sanubari.

Khusus malam jumat , ba’da magrib, diisi pembacaan surah Yasin, surah Al Waqi’ah, dan surah Al-Mulk. Sedangkan ba’da Isya, diisi pembacaan Ratib Al-Haddad di rumah-rumah warga sekitaran masjid dan rumah jabatan Bupati.

Pun di malam sabtu, selepas salat isya dan pengajian, juga digelar pembacaan ratib Al-Haddad di kediaman sang Imam. Kebanyakan dihadiri oleh kalangan anak muda yang ingin meraup berkah dari sohibul Ratib, pengarang ratib – Allahu Yarham Habib Alwi Al-Haddad dari Hadramaut Yaman.

Pilihan untuk membaca Ratib Al-Haddad karena faedahnya yang sangat luar biasa. Didalamnya terdapat rangkuman doa-doa mustajab. Ada ayat kursi, tasbih, tahmid, tahlil, dan pembacaan shalawat kepada Nabi. 

Ratib Al-Haddad oleh sebahagian besar umat Islam bermanhaj ahlusunnah waljamaah di berbagai penjuru dunia banyak mengamalkannya secara rutin. 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, membuat aplikasi khusus Ratib Al-Haddad di Play Store Google, kemudian diijazahkan kepada seluruh warga Nahdliyyin dan seluruh umat Islam yang ingin mengamalkannya. Oleh para Ulama, sangat dianjurkan untuk membaca secara kontinyu Ratib Al-Haddad ini. 

Keindahaan masjid agung Syuhada juga sangat dipengaruhi karena letaknya yang cukup strategis. Berdiri megah di jalur trans Sulawesi, di depan traffic light, menjadi tempat yang pas bagi para penempuh perjalanan jauh, untuk singgah melaksanakan salat atau sekedar singgah untuk melepas lelah, selepas menempuh perjalanan berjam-jam.

Tak jarang, kita akan menjumpai plat-plat kendaraan yang kodenya berasal dari daerah di luar provinsi Sulawesi Barat. Misal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, bahkan Sulawesi Utara.

Bagi warga Polewali Mandar sendiri, yang kini bekerja dan mukim di luar Polewali Mandar, di Makassar, Jakarta, Kalimantan, Surabaya, Papua, atau tempat-tempat lain diluar Polewali Mandar, yang mengharuskan lama menetap disana.

Tidakkah ada pendar-pendar kerinduan akan kampung halaman ketika melihat kubah masjid agung Syuhada Polewali, di balik biru awan yang luas membentang. Dibalik shalawat Tarhim yang senantiasa dilantunkan, dari atas menara masjid yang kokoh berdiri menjulang tinggi. Penulis saja yang tengah memotretnya tak kuasa membayangkan. 

Muhammad Arif, Wakil Ketua GP Ansor Polewali Mandar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here