Nahdlatul Ulama dan Coverciano

0
421
Logo Harlah NU ke-94 & Foto Lokasi Sekolah Kepelatihan Coverciano di Italia

Bagi orang Indonesia, mendengar nama Nahdlatul Ulama kiranya sudah biasa . Berbeda ketika ada yang menyebut Coverciano, rasanya sungguh asing. Paling banter, hanya penikmat sepak bola yang tahu, itupun kiranya masih terbatas. Namun, bila anda cukup menggemari Italia dan sering membaca literatur terkait perkembangan sepak bolanya, maka Coverciano adalah bagian penting dari masyhurnya balbalan di negara pemenang Piala Dunia sebanyak empat kali ini.

Coverciano merupakan salah satu sekolah kepelatihan sepak bola terbaik di Eropa, dan tentu saja di Italia. Di pinggiran wilayah Firenze, tepat di dekat kaki bukit Fiesole yang indah, Luigi Ridolfo menggagas sesuatu yang unik di dunia sepak bola Italia pada tahun 1957. Bersama Dante Berreti, bekas ketua federasi sepak bola Italia ini mempertemukan para pelatih dari berbagai penjuru untuk sharing gagasan. Coverciano digagas demi satu tujuan, melahirkan ide kreatif dan inovatif demi masa depan dunia sepak bola.

Lah, apa hubungannya dengan Nahdlatul Ulama? Organisasi Kemasyarakatan berbasis agama terbesar di dunia ini terletak Indonesia, berpisah 10.997 km dengan Italia di selatan Eropa sana. Pun, Covercanio itu berkaitan sepak bola, sedangkan Nahdlatul Ulama berurusan dengan agama Islam. Ketemunya bisa di mana ya?

Terlalu banyak perbedaan antara keduanya. Bahkan, untuk mencari kesamaannya, mungkin dianggap sulit. Namun, setelah membaca jejak historis dan bagaimana kedua entitas ini merespon dinamika perubahan zaman, saya merasa Nahdlatul Ulama punya sedikit kemiripan dengan Coverciano. Apa itu?

Jika Nahdlatul Ulama yang resmi berdiri pada 31 Januari 1926 (menurut penanggalan masehi) dan kini tepat berusia 94 tahun, secara leksikal disebut “Kebangkitan Ulama” di Nusantara, maka Covercanio saya anggap sebagai “Kebangkitan Pelatih” di Italia.

Berdirinya Nahdlatul Ulama merupakan respon atas problem keagamaan global, serta alasan kebangsaan dan sosial kemasyarakatan. Embrionya berangkat dari Komite Hijaz, sebagai jawaban ulama pesantren terhadap perkembangan Wahabi di Arab Saudi yang hendak menerapkan kebijakan untuk menolak praktik bermazhab di wilayahnya dan hendak membongkar makam Rasulullah saw. Nahdlatul Ulama juga hadir sebagai lanjutan komunitas terdahulu yang senafas seirama, seperti Nahdlatul Tujjar, Nahdlatun Wathan, dan Taswirul Afkar.

Hadirnya Coverciano sekiranya turut menyahuti perkembangan sepak bola dunia. Meski situasi klub-klub Italia saat itu memang masih mentereng di level kontinental, tapi nama Gli Azzuri di ajang sepak bola antar negara sedang dilanda masa suram. Apalagi, pasca tragedi kecelakaan pesawat yang ditumpangi penggawa Torino pada 1 Mei 1949, atau lazim disebut Tragedi Superga, kekuatan Italia benar-benar menurun drastis. Pasalnya, skuat Azzuri kala itu didominasi oleh penggawa Torino yang salah satu bintangnya adalah Valentino Mazzola.

Secara tidak langsung, efek Coverciano mulai terasa di Italia. Klub-klub lokal Italia yang dilatih oleh lulusan Coverciano melahirkan bintang-bintang hebat. Kesuksesan itu bermuara dengan berakhirnya puasa gelar Gli Azzuri selama hampir empat dekade. Di bawah Enzo Bearzot, Dino Zoff dan kolega sukses merengkuh trofi Julies Rimet di tahun 1982. Hal ini juga tidak bisa dilepaskan dengan didapuknya Coverciano sebagai markas Timnas Italia.

Demikian pula dengan Nahdlatul Ulama. Sumbangsihnya untuk Indonesia hingga kini begitu besar. Peristiwa paling monumental adalah Resolusi Jihad demi mempertahankan kemerdekaan RI pada 22 Oktober 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Santri setiap tahunnya. Selain itu, Nahdlatul Ulama turut melahirkan banyak tokoh yang berperan penting di dalam perjalanan panjang bangsa ini. Sebut saja, KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Wahid Hasyim, KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Idham Khalid, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Mustofa Bisri, hingga yang teranyar KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode ini.

Coverciano sebagai pencetak pelatih ulung melahirkan generasi allenatore kebangsaan Italia yang sukses dalam diagram juru taktik dunia. Di era kiwari, Carlo Ancelotti telah menikmati kesuksesan domestik dan kontinental. Massimiliano Allegri yang lagi pengangguran, sempat menghegemoni Serie A bersama Juventus. Roberto Mancini, Claudio Ranieri, dan Antonio Conte, masing-masing pernah berjaya di Inggris. Dan jangan lupakan Maurizio Sarri yang meraih trofi pertama selama karir kepelatihannya saat membawa Chelsea memenangkan Liga Europa musim lalu.

Selain hal di atas, yang paling mirip antara Nahdlatul Ulama dan Coverciano ada pada gagasan mereka. Nahdlatul Ulama dan Coverciano sanggup bertahan hingga kini berkat kepiawaian merespon dinamika perubahan zaman. Gagasan keduanya selalu fresh, menyambut apa yang berubah pada satu satuan waktu.

PW NU SULSEL

Keduanya mengikuti dan terlibat langsung di setiap dinamika zaman, dengan senantiasa berpijak pada tradisi baik di masa lalu. Sebagaimana tertuang dalam salah satu kaidah yang dipegang teguh oleh NU, “al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik).

Di dunia sepak bola, di mana strategi dan taktik berubah tiap waktu, perkataan Renzo Ulivieri, Kepala Sekolah Kepelatihan Coverciano di Italia, senada dengan kaidah tersebut. “Tidak ada sepak bola yang sempurna. Yang ada hanyalah sepak bola yang tepat untuk saat yang tepat”, katanya.

Nahdlatul Ulama dan Coverciano, sejak berdirinya, masing-masing berusaha melahirkan cetak biru gagasan untuk digunakan generasi di masa depan. Bahkan, cetak biru tersebut pada akhirnya menjadi rujukan dunia. Sebagaimana gagasan Islam Nusantara, kini berusaha di-copypaste di Afganistan, demi menciptakan tatanan negara yang damai setelah konflik berkepanjangan di wilayah tersebut. Islam Nusantara diharap mampu melahirkan kedamaian dan rahmat bagi semesta. Seirama dengan itu, Coverciano adalah role model sekolah kepelatihan di Eropa. Tak terkecuali di Inggris yang mendaku dirinya sebagai “pusat” sepak bola dunia, akademi kepelatihan ternama St. George Park pun berkiblat pada Coverciano.

Andi Ilham Badawi, Penikmat Sepak Bola dari Pinggiran. Sehari-hari Bergiat di LAPAR Sulsel & GUSDURian Makassar

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here