M. Iqbal Assegaf, Sosok Inspratif yang Dilupakan Zaman.

0
1749
Foto (Muslimoderat)

Pada kesempatan kali ini. Saya ingin mengajak pembaca, untuk membahas, mengenal, dan sembari bernostalgia tentang sosok M.Iqbal Assegaf. Salah satu tokoh yang inspiratif bagi kalangan mahasiswa pergerakan di jamannya. Tulisan ini, juga saya persembahkan untuk Haul kepergian beliau 21 tahun yang lalu, yang mungkin saja telah dilupakan oleh banyak orang.

Sosok M. Iqbal Assegaf mungkin terdengar asing bagi aktivis mahasiswa era milenial, namun tidak bagi aktivis masa Orde Baru. Nama M.Iqbal Assegaf menjadi sosok yang cukup terkenal pada masanya dan menjadi teladan bagi mahasiswa Maluku Utara saat itu.

Bagaimana tidak, beliau pernah mencatatkan diri sebagai aktivis yang sukses dan juga berhasil memimpin Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), salah satu organ kemahasiswaan terbesar di Indonesia.

Pada masa kejayaannya, beliau dikenal sebagai sosok yang inspiratif. dan disegani kalangan aktivis mahasiswa kala itu. Beliau juga terbilang sebagai salah satu aktifis yang turut andil dalam masa transisi Orde Baru ke era Reformasi. Sebuah prestasi yang jarang dimiliki oleh mahasiswa Maluku Utara kala itu.

M. Iqbal Assegaf adalah anak keempat dari dua belas bersaudara, yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang cukup disiplin perihal agama, serta dididik langsung oleh ayah yang bernama Habib Husain Ahmad Assegaf dan Ibu yang bernama Rawang Abdullah Kamarullah, di sebuah perkampungan terpencil tepatnya di Pulau Bacan desa Bajo Kabupaten Halmahera Selatan pada 12 Oktober 1957.

Sebagai anak desa yang lahir dari keluarga serba kecukupan, Iqbal kecil tumbuh menjadi anak yang mandiri dan memiliki tekad yang kuat dalam hal melanjutkan Pendidikan. Ini dibuktikan dengan suksesnya ia dalam menyelesaikan jenjang pendidikan formalnya (SD,SMP dan SMA) di kota Ternate, ibukota Provinsi Maluku Utara.

Dalam proses penyelesaian pendidikan formalnya, Iqbal harus hidup jauh dari keluarga kecilnya demi meraih cita-citanya dan terpaksa harus belajar sambil bekerja dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun sesekali ia selalu menyempatkan untuk pulang ke kampung halamannya bertemu dengan keluaganya.

Aktifitas Iqbal dalam menjalani hari-harinya di kota, membuatnya menjadi sosok yang sangat mandiri dan religius, ini tak lepas dari pembentukan karakter dari sang ayah yang selalu memberikan pemahaman keagamaan dan pemahaman tentang filosofi hidup ketika ia pulang kampung. Lewat didikan dari ayahnya itulah, di usianya yang masih belia, Iqbal telah mengerti bagaimana menjalani hidup dan menjadi pribadi yang tak gampang putus asa dalam menjalani hidupnya yang serba kekurangan.

Keuletan dan pribadi Iqbal dalam menjalani hidupnya itulah yang mengantarkan ia menjadi peserta didik yang cerdas. Salah satu potensi yang mencolok dari Iqbal adalah kebolehannya dalam berpidato, dan ini yang menjadi awal prestasinya dengan menjadi ketua Osis saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.

Mungkin lewat bakat alaminya inilah yang membuat Iqbal menjadi sosok yang dikagumi saat menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ternama di Bogor (Institute Pertanian Bogor) dan bekal itu ia kembangkan dengan masuk menjadi salah satu anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. 

Sosoknya menjadi sangat terkenal saat sukses menjadi Ketua Umum PB PMII masa khidmat 1988-1991 dan menjadi tokoh yang sangat dikagumi oleh mahasiswa – mahasiswa yang berasal dari Maluku Utara. Tak hanya sampai di situ, Iqbal juga sukses menjadi ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, sebuah organisasi kepemudaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama 1995-1999, serta menjadi Anggota DPR dari fraksi Golkar 1998-2003.

PW NU SULSEL

Saat menjadi ketua umum PB PMII, beliau sempat menjadi tokoh yang disegani oleh pemerintah pada masa Orde Baru. Salah satu perjuangannya yang mengusik pemerintah adalah saat beliau menuntut Menteri Agama kala itu untuk turun dari jabatannya atas kasus tragedi Terowongan Mina yang menewaskan 1600 jemaah haji asal Indonesia tahun 1990. Dari tuntutanny,a ia menganggap bahwa Menteri agama teledor dan harus diadili di Mahkamah Internasional. 

Perjalanan hidup beliau terhenti saat kecelakaan yang dialaminya di pintu Tol Plumpang Jakarta Utara pada 13 Februari 1999, saat itu beliau bersama istri Rahma Muhammad berniat menghadiri acara halal bi halal warga Maluku Utara di gelanggang remaja Jakarta Utara. Di tengah perjalanan beliau mengalami kecelakaan tragis yang telah merenggut nyawanya.

Dari perjalanan hidup dan prestasi – prestasinya itulah yang membuat saya tertarik untuk mengulas tentang sosoknya yang menurut saya sangat inspiratif. Saya pertama kali mendengar nama beliau dari salah satu materi pengkaderan di PMII Metro Makassar, setelah mulai menelusuri jejak beliau dari artikel-artikel yang bercerita tentang sosoknya di internet, yang akhirnya mengantarkan saya mengaguminya sebagai aktivis yang patut dicontoh.

Beliau adalah satu-satunya orang yang menjadi keterwakilan generasi muda Maluku Utara yang bisa sukses dalam kancah nasional. Namun segudang prestasi beliau ini seakan tenggelam oleh zaman dan tak pernah muncul kepermukaan, bahkan dari kalangan mahasiswa yang bergelut di organisasi PMII sendiri, jarang ada yang mengenal beliau. Ini yang membuat saya sedikit merasa prihatin karena sosok hebat dari beliau telah dilupakan dan jarang dikenal dari kalangan milenial.

Oleh mereka yang mengenal langsung beliau, sosoknya digambarkan selalu tampil trendy dan pribadi yang bersahaja, bahkan setelah menjadi anggota legislatif pusat, beliau masih terbilang sebagai orang yang tak segan membantu mahasiswa-mahasiswa yang kala itu kesulitan, dalam menjalani kehidupan di ibu kota, baik dalam urusan organisasi maupun urusan pribadi seperti kesulitan membayar biaya semester, dan lain-lain.

Saya pikir, sosok M.iqbal Assegaf perlu menjadi tokoh inspiratif kalangan generasi muda masa kini, terkhususnya bagi mahasiswa yang bergelut di dunia aktivis, bahwa anak dari desa terpencil pun mampu untuk bersaing sampai menjadi orang yang diperhitungkan dalam kancah nasional asalkan memiliki tekad yang kuat dalam berproses menjalani kehidupan.

Raganya mungkin sudah lama meninggalkan kita, namun tidak salah jika nama M. Iqbal Assegaf di abadikan sebagai nilai dan spirit juang generasi saat ini, yang mungkin saja, di abadikan dalam sebuah lembaga, atau insitute sebagai bagian dari penghormatan kita untuk terus menerus memelihara gagasanya, agar nantinya diteruskan di setiap generasi.

Kita perlu meniru pola gerakan yang dilakukan oleh kelompok Gusdurian, yang mengabadikan sosok Gus Dur dalam nalar setiap insan, yang bergelut dalam dunia aktivis, tanpa mengabaikan pengabdian kita terhadap PMII. Al-fatihah.

Suratman Kayano, Pengurus Lakpesdam NU Sulsel & Ketua Umum PMII METRO Makassar Periode 2017-2018.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here