Memaknai Kemanusiaan dari Akar Kebudayaan

0
605
Ilustrasi (anakrakyat.id)

Indonesia ada karena keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke merentang gugusan pulau yang dihuni beragam agama, suku, dan ras. Berbeda-beda tapi satu jua. Perbedaan identitas merupakan pondasi persatuan dan kebangsaan. Penghargaan atas kemanusiaan sebagai titik pijak telah dianut sejak lama dan menjadi bagian integral dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Beberapa tahun terakhir, pondasi keberagaman dan kebangsaan di Indonesia diguncang “gempa kemanusiaan” berbagai rupa. Intoleransi, persekusi, diskriminasi, rasisme, dan kekerasan merebak dan menjalar di mana-mana. Bangkitnya mayoritanisme, egoisme kesukuan, dan prasangka pada yang berbeda bersemai di pikiran banyak orang. Politik identitas dijadikan alat merebut kekuasaan, rakyat banyak pun dikorbankan.

Berdasarkan data Rule of Law Index, angka kebebasan beragama mengalami pasang surut sejak tahun 2014 hingga 2018. Sempat meningkat pada 2015 di angka 0,47, tahun berikutnya turun drastis ke 0,41 dan naik 0,02 poin pada periode 2017-2018. Penyerangan pada minoritas agama dan penghayat keyakinan paling banya disorot. Begitu pula pada sangkaan penodaan agama pada mantan Gubernur Jakarta, Ahok 2016 silam. Sementara itu, faktor lain seperti tidak ada diskriminasi malah semakin mengenaskan. Tren-nya terus menurun hingga 2018.

Secara umum, Indonesia menempati peringkat 63 dari 113 negara pada medio 2017-2018. Perlindungan dan pemenuhan HAM belum maksimal dilakukan. Aksi-aksi intoleransi dan diskrimininasi yang merebak seolah dibiarkan begitu saja, tanpa upaya pencegahan yang lebih preventif. Tren tersebut berlangsung di berbagai belahan Indonesia. Banyak kota telah mengalami bagaimana kehidupan keberagaman dan kebangsaan diusik oleh kelompok-kelompok tertentu.

Di Kota Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan, dari rentang Juli hingga Agustus 2019 beberapa peristiwa intoleran marak terjadi. Rentetan peristiwa ini seolah mengamini temuan Setara Institute, di mana indeks toleransi Kota Makassar mencatatkan angka 3,637 dan menduduki peringkat ke-87 atau masuk 10 besar kota dengan indeks toleransi terendah.

Berangkat dari hal di atas, pondasi keberagaman dan kebangsaan yang retak di sana sini selayaknya kembali ditambal. Salah satu caranya adalah kembali menggali relasi dan nilai kemanusiaan dari akar kebudayaan. Sebab, kebudayaan merupakan aset bangsa yang telah teruji daya tahannya selama berabad-abad dan menjadi pedoman hidup masyarakat nusantara dari masa ke masa. Selain itu, kebudayaan sangat dekat dengan keseharian masyarakat. Mengkampanyekan kebudayaan yang memuat nilai-nilai kemanusiaan sebagai dasar hidup beragam dan berbangsa akan mudah diterima masyarakat, terutama anak muda yang lebih banyak menghabiskan waktu di hadapan layar smartphone.

Menggali dari Akar Kebudayaan

Keberagaman suku, adat istiadat, agama, dan kepercayaan lokal merupakan corak masyarakat Sulawesi Selatan sejak lama. Berbagai identitas dapat berbaur tanpa sekat dan tanpa batas. Keberbauran ini mencipta produk kebudayaan berupa nilai dan prinsip hidup bersama. Demi terwujudnya ketentraman, kesejahteraan, dan kedamaian.

Nilai dan prinsip itu dituangkan dalam tiga terma khas yang diturunkan dari generasi ke generasi masyarakat Bugis-Makassar. Terma pertama adalah Sipakatau yang berbasis pada kemanusiaan dan kesetaraan, di mana sesama manusia mesti saling memanusiakan. Sipakatau merupakan salah satu pesan dari leluhur (pappasenna tau rioloe) di suku Bugis-Makassar yang sangat penting untuk diamalkan dan dijadikan falsafah dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. [1]

Sipakatau mengandung makna teologis sebagai penghargaan atas ciptaan Tuhan yang mulia. Setiap invididu memperlakukan sesama manusia tanpa memandang latar belakang agama, suku, ras, maupun kondisi sosial dan fisiknya. Sehingga, dalam hubungan sosial bermasyarakat tercipta suasana yang harmonis, tanpa sekat, dan saling mengasihi. 

Terma kedua adalah sipakalebbi yang berarti saling menghormati, menghargai, dan memuliakan keberagaman latar belakang identitas masing-masing. Sipakalebbi menempatkan manusia setara, di mana satu orang tidak berada tingkatan yang berbeda dengan orang lain. Jika ditarik pada wacana kewargaan, sipakalebbi menutup ruang perdebatan antara siapa yang mayoritas dan siapa yang minoritas. Perbedaan kuantitas tidak membuat suatu kelompok harus mendominasi dan memaksakan kehendaknya pada kelompok lain.

PW NU SULSEL

Dalam hal lain, sipakalebbi mengajak semua orang untuk berbuat kebaikan tanpa memandang perbedaan identitas. Kumpulan Andi Palloge Petta Nabba menyebutkan “tessiampoang uring-lowa, tessisebbokkeng pammuttu (tidak saling menutupkan belangan, tidak saling membocorkan periuk)”. Ungkapan ini menggambarkan bahwa perlu ada semangat tolong menolong satu sama lain oleh seluruh komponen dalam kehidupan bermasyarakat [2]. Pernyataan ini seperti yang selalu Gus Dur ingatkan, “Kalau kamu bisa berbuat baik, orang tidak akan bertanya apa agamamu”.

Terma ketiga yakni sipakainge’ yang berdasar pada kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak terlepas dari kekhilafan, kesalahan, dan dosa. Berangkat dari hal tersebut, sesama manusia dituntut untuk saling mengingatkan di jalan kebaikan dan mengutamakan musyawarah di tengah perbedaan pandangan. Sipakainge’ juga memiliki makna lain yaitu sebelum mengingatkan orang lain, terlebih dahulu menengok ke dalam diri sendiri. Apakah perkataan atau perbuatan yang dilakukan tidak akan merugikan banyak pihak atau malah menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat.

Pappasenna to rioloe (pesan leluhur) mengenai sipakainge’ menjadi sangat penting. Dalam kebudayaan masyarakat Bugis-Makassar ada satu pesan yang berbunyi, “Maduanna, mabbicara tenriampa’rani Arung Mangkau’e, yang artinya jika Raja yang bertakhta sudah tidak mau lagi diingatkan”. Terkait dengan konteks intoleransi dan diskriminasi, penguasa atau pemerintah senantiasa mesti diingatkan untuk mengambil upaya-upaya pencegahan pada aksi-aksi yang merongrong pondasi keberagaman dan kebangsaan.

Ketiga nilai dan prinsip ini merupakan modal budaya yang dimiliki oleh masyarakat Bugis-Makassar secara temurun. Modal budaya sangat penting sebagai landasan dalam pembangunan masyarakat. Menurut Pierre Bourdieu, modal budaya bertindak sebagai bagian penting dari hubungan sosial terutama dalam konteks hubungan timbal balik. Dengan kata lain, modal budaya merujuk pada pendidikan, sosial, dan intelektual yang diberikan pada generasi selanjutnya. [3]

Sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge’ berada dalam konteks pendidikan moral dan karakter masyarakat Bugis-Makassar yang diproduksi dan direproduksi dari masa ke masa. Atau dalam istilah Peter L. Berger, pengetahuan tersebut mengalami proses pelembagaan di lingkaran adat istiadat kemudian diinternalisasikan dalam kenyataan. Pengejawantahan nilai dan prinsip ini kemudian berlaku dalam pola relasi kehidupan sosial masyarakat Bugis-Makassar.

Di saat eskalasi intoleransi dan diskriminasi yang semakin deras – bahkan pasca pilpres yang memainkan politik identitas – sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge’ sebagai modal budaya penting untuk semakin diinternalisasi dalam bangunan sosial masyarakat Bugis-Makassar.

Perkembangan teknologi digital di era 4.0 bisa dijadikan sebagai alat penyebaran gagasan kebudayaan yang berkemanusiaan. Media sosial yang dibanjiri oleh konten negatif, perlu kiranya balik dibanjiri oleh konten positif yang memuat nilai kemanusiaan sebagai dasar hidup beragam dan berbangsa. Penyebaran gagasan ini pula sebagai bentuk edukasi dan pengembangan literasi digital yang berbasis pada kearifan lokal kepada pada penerus bangsa, yakni generasi muda.

Referensi

[1] A. Rahim, “Internalisasi Nilai Sipakatau, Sipakalebbi, Siapakinge’ dalam Upaya Pencegahan Tindak Pidana Korupsi,” Jurnal Al-Himayah, pp. 29-52, 2019.
[2] S. Latif, “Meretas Hubungan Mayoritas-Minoritas Dalam Perspektif Nilai Bugis,” Jurnal Al-Ulum, pp. 97-116, 2012.
[3] S. Udu dan W. O. Alfian, “Modal Budaya dan Modal Sosial Dalam Pengembangan Badan Otoritas Pariwisata Wakatobi,” dalam Konferensi Internasional Ikatan Dosen Budaya Daerah Indonesia (IKADBUDI) ke-7, Makassar, 2017.

Andi Ilham Badawi, Aktif di GUSDURian Makassar & LAPAR Sulsel.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here