Tawaran “Islam Kosmik” (Bagian II)

0
273
Design by Muh. Irham

Sedikit selayang pandang. Dahulu, sekitar 1980-an, para aktivis Islam di Indonesia pernah memperkenalkan “Islam Kosmopolit”. Ini gagasan yang cukup segar pada masanya. Islam Kosmopolit, kurang lebih adalah corak keberislaman yang memandang optimis bahwa pesan-pesan Islam dapat diterima semua kalangan dan menjawab persoalan-persoalan dunia. Di sisi lain, mereka memandang positif globalisasi. Islam, bagi mereka, dapat berdialog menjawab tantangan global, menjadi aktor globalisasi yang membawa perubahan positif bagi umat manusia.

Penggerak Islam Kosmopolit adalah kelas menengah intelektual yang terdidik dalam lingkungan modern, dan percaya pada sifat positif modernitas. Artikulasi Islam ini memang agak “terbaratkan”, tapi oke, mereka pada dasarnya memandang semua manusia setara dan berhak untuk setara. Kurang lebih seirama dengan “Islam Kosmopolit” adalah “Islam Peradaban”, atau kini “Islam Berkemajuan”. Keberislaman ini masih percaya pada manfaat modernitas, pada peran penting kota (pusat-pusat industri) dalam menggerakkan “peradaban”, pada pentingnya “pembangunan”, dan lain-lain.

Satu kelebihan dari Islam Kosmopolit adalah: mereka telah merasa perlu meninggalkan dan mengatasi sekat-sekat ideologis di kalangan umat Islam. Mereka merasa perlu mengatasi warisan fragmentasi warisan masa lalu sejarah Islam dan menggalang lebih banyak titik temu dan kesepahaman. Basis perhatian mereka sudah bergeser dari problem ideologi ke aras material.

Mereka menyadari tantangan “era global” yang tidak bisa lagi diatasi sendiri-sendiri oleh golongan dan faksi-faksi umat Islam. Kesalahan terbesar Islam Kosmopolit hanya satu: mereka percaya mereka dapat maju bersama kapitalisme modern. Sesuatu yang terbukti salah beberapa dekade kemudian, karena dampak kapitalisme yang luar biasa destruktif tidak dapat lagi berdamai dengan corak peradaban dunia yang mereka idamkan.

Baca Tawaran “Islam Kosmik” (Bagian 1)

Bila dilihat sedikit lebih cermat, pecahan dari kaum intelektual penganut Islam Kosmopolit ini kemudian berdiaspora, namun dengan corak yang semakin mundur. Artinya, semakin masuk ke ideologi, alih-alih memperluas kesadaran akan tantangan aras material. Muncul Neo-Midernisme Islam, Neo-Tradisionalisme Islam, Islam Liberal, Post-Tradisionalisme Islam, Islam puritan, Islam Fundamentalis, Islam Konservatif, dan lain lain, yang ujung-ujungnya semakin mundur dalam “Islam moderat” versus “Islam Radikal” hari ini. Ini titik nadir kemunduran dari “performa” wawasan keberislaman kita beberapa puluh tahun terakhir. Memprihatinkan.

Para aktivis Islam yang hari ini bekerja dengan agenda-agenda global, seperti perdamaian di Timur Tengah, dialog lintas agama di level global dan semacamnya, sebenarnya mewarisi “api” Islam Kosmopolit ini, namun tak lagi sesolid dulu, karena mengalami diaspora. Karena ketiadaan lagi platform Islam Kosmopolit, mereka akhirnya tetap bekerja dalam ritme fragmentasi sesuai patron dan afiliasi kelompok Islam masing-masing. Secara umum, artinya, agenda Islam Kosmopolit tidak lagi mampu diterjemahkan secara kosmopolit, melainkan secara sektarian sesuai tendensi masing-masing.

Bersamaan dengan pudarnya cita-cita dan wadah Islam Kosmopolit, agenda-agenda gerakan Islam pada level global justru diambil alih oleh kalangan sektarian di bawah bendera “khilafah Islamiyah” yang semakin memperunyam panggung ideologis di kalangan umat Islam. Alih-alih menyatukan, agenda global gerakan ini turut memecah belah. Ini dikarenakan gerakan khilafah tetap bekerja dengan logika fragmentasi, malah mempertajamnya.

Gerakan ini bagus pada niatan awalnya, namun bermasalah pada metode, praktik dan tujuannya. Niatan awalnya (sebagian tergambar dalam retorikanya) adalah melawan kezaliman kapitalisme dan tata rezim politik global yang menindas. Namun, metode mereka yang mensyaratkan keseragaman aspirasi umat Islam secara politis, menciptakan fragmentasi baru. Alih-alih menuai simpati, gerakan ini menjadi ancaman bagi kelompok Islam lain. Belum lagi “grammar” “khilafah” yang monolitik dan satu-warna juga menimbulkan was-was pada kalangan penganut agama lain.

Ada potensi besar pada wacana dan ideologi “Islam Nusantara”, yang sekarang familiar pada kita berkat kontroversi seputarnya. Sekali lagi, yang patut diperhatikan bukan klaimnya, bukan pula bobot kebenaran ideologis, atau koherensi ideologisnya. Yang patut diperhatikan: sejauh mana wacana dan ideologi ini membawa kesadaran baru akan arah material yang dihadapi.

Pada dasarnya Islam Nusantara hendak menjawab tantangan Islam di wilayah kepulauan Nusantara (mencakup Indonesia). Sumbernya diolah dari khazanah masa lalu yang kaya akan keragaman budaya dan adat – istiadat, serta kearifan pengetahuan, yang menggambarkan tradisi-tradisi rakyat masa lampau.

Dari masa lalu, kesadaran ini diharapkan terproyeksi ke masa kini. Agenda minimalnya, mempertahankan budaya dan tradisi keumatan yang berlangsung di kepulauan Nusantara. Namun, ada potensi Global yang mulai dilirik, ketika Islam Nusantara juga dipandang sebagai salah satu platform yang potensial untuk membangun kerja-kerja Global. Contohnya, dalam perdamaian lintas agama/lintas-ideologi agama di wilayah-wilayah konflik, seperti di Timur Tengah.

PW NU SULSEL

Apa kesamaan Islam Kosmopolit dan Islam Nusantara?  Keduanya menyadari perlunya mengatasi sekat-sekat ideologis di kalangan umat Islam. Keduanya menyadari perlunya mengatasi “virus F” (Fragmentasi). Keduanya juga menyadari perlunya membangun kehidupan bersama yang terbuka, damai, dan nir-kekerasan. Perbedaannya, Islam Kosmopolit dibayangi cita-cita kehidupan kota yang maju dan beradab, Islam Nusantara mengeram cita-cita kehidupan desa yang sarat tradisi leluhur.

Bila dilihat dari kerentanannya terhadap ekspansi kapitalisme, Islam Kosmopolit lebih mudah membawakan kepentingan kapitalisme dari pada Islam Nusantara. Islam Kosmopolit dibangun di atas budaya industri, sedangkan Islam Nusantara dibangun di atas kultur agraris-feodal. Tidak berlebihan bila dinyatakan, selama Islam Nusantara dijalankan secara militan dan konsisten, kapitalisme dapat di redam di basis-basis agraris, karena syarat utama dari keberadaan Islam Nusantara adalah keragaman tradisi yang berhubungan dengan basis materialnya: tanah dan alam.

Secara geopolitik ideologi keislaman, Islam Nusantara adalah eksperimentasi “Islam Kosmopolit” pada skala tertentu, skala “Nusantara”. Namun, kita bisa memperluas imajinasi “Nusantara” ini pada tingkat global. Pertanyaannya, dengan cara apa? Jika Islam Nusantara dibangkitkan untuk dibudidayakan di Eropa, Timur Tengah, atau Afrika, apakah batang pohonnya akan persis sama seperti yang tumbuh di kepulauan Nusantara ini?

Saya baru menangkap artikulasi yang tepat bagi “Islam Nusantara” ini setelah menelaah sekelumit karya M. Jadul Maula. Jadul Maula adalah aktivis Islam yang berjasa besar mengeram gagasan Islam Nusantara bertahun-tahun sebelum menjadi jargon hari ini. Inti “Islam Nusantara” meminjam judul buku (Kang) Jadul yang baru-baru ini terbit, adalah ‘Islam Berkebudayaan”, keberislaman yang menjadikan kebudayaan sebagai strategi. Di sini kerap terjadi kerajinan salah tafsir sering dianggap bahwa Islam Nusantara adalah Islam kultural yang anti politik atau alergi politik. Ini kesalahan tafsir pertama.

Islam Nusantara versi (kang) Jadul – dan saya setuju dengannya – bukanlah Islam yang alergi politik, atau naif politik. Ia justru harus berpolitik, namun politik harus diletakkan di bawah payung besar kebudayaan. Politik menjadi sarana, namun bukan satu-satunya tujuan. Politik, dalam arti penguasaan maupun pengaturan, hegemoni maupun resistensi, harus diletakkan dalam ruang besar penamaan kebudayaan.

Konsekuensi moralnya, politik tidak dapat menjadi senjata untuk membunuh, tapi menyamai ruang-ruang bersama. Islam ada untuk merangkul. Kesalahan tafsir kedua, Islam Nusantara seolah-olah hanya bicara makan-makam, naskah kuno, atau tradisi leluhur. Sebaliknya, yang tepat, Islam Nusantara adalah kerangka generik lintas sejarah yang juga bisa dipakai untuk membongkar problem masa kini. Hanya, karena yang tampil sekarang baru, Islam Nusantara 1.0, maka seolah-olah Islam Nusantara tidak mampu berbicara mengenai kapitalisme. Maka, perlu tampil Islam Nusantara 4.0 atau 5.0.

Bersambung…

Muhammad Al-Fayyadl, Aktivis Front Nahdlyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) & Pengasuh Ponpes Nurul Jadid Probolinggo.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here