Tawaran “Islam Kosmik” (Bagian I)

0
438
Design by Muh. Irham

Secara bertahap, mulai awal tahun baru 2020 ini, saya pamit akan mengurangi intensitas frekuensi di Facebook. Akun Twitter juga lama non-aktif. Namun, ada beberapa gagasan “kecil” yang ingin saya tinggalkan, mungkin bisa mendorong diskusi dan pendedahan-pendedahan lebih mendalam ke depan. Di berbagai forum yang mungkin digelar.

Saya menyebutnya tawaran “Islam Kosmik”. Apa itu “Islam Kosmik”? Wacana Apa lagi ini?

Pertama, kita harus mengakui bahwa berbagai wacana dan ideologi keislaman kita hari-hari ini kerap bukan lagi tampil sebagai “problem solver”, menguraikan masalah, namun sebaliknya, “problem marker”, membuat masalah (baru). Semakin ber-Islam, alih-alih semakin tercerahkan, kita semakin tergelapkan. Semakin ber-Islam alih-alih semakin membawa rahmat bagi sesama, kita makin mengundang bencana dan petaka. Intinya, semakin dunia tampak runyam dengan kehadiran Islam, di satu sisi, meski di sisi lain, Islam juga membawa harapan-harapan perubahan dan pemulihan kebaikan.

Persoalannya, bukan lagi soal “Islam A” adalah Islam yang toleran dan “Islam B” intoleran. Mereka yang “toleran” juga pada gilirannya akan mengatakan “kita harus intoleran terhadap intoleransi”. Yang toleran pun pada “limit”-nya akan intoleran. Lebih-lebih yang benar-benar intoleran. Persoalannya bukan soal klaim. Bukan pula konsistensi ideologi atau paham keagamaan. 

Persoalannya, lebih jauh dari pada itu, ada soal “fragmentasi”. Kata ini perlu digaris tebal. Sekali lagi, fragmentasi. Yaitu, bahwa paham- paham dan ideologi keislaman kita menciptakan fragmentasi, secara sadar atau tak sadar. Kita semua kerja di bawah “hukum” fragmentasi. Kita semua bekerja di bawah logika dan ritme fragmentasi. Ada “minna” dan “minhum”, ada “golongan kami” dan “golongan mereka”. Se-inklusif apapun ideologi keislaman kita, tetap ujungnya fragmentasi.

Kekeliruan mendasar – ini kritik saya – dari respon terhadap fenomena ini adalah bahwa aktivis/peminat Islam (dari ulama sampai awam) cenderung berpikir bahwa akar masalahnya terdapat pada ideologinya. Jika ada ideologi yang intoleran, maka yang harus dibuat toleran adalah ideologinya. Demikian juga, jika “kita” tampak kurang toleran itu karna pemahaman “kita” yang kurang toleran.

Maka “kita” perlu memperluas pandangan dan wawasan agar menjadi toleran, dengan belajar kepada ulama atau teladan-teladan agung yang toleran. Ini contoh cara pandang yang kurang tepat: menyelesaikan problem ideologi dengan ideologi. Ini ibarat mengobati pasien yang overdosis obat dengan obat. Siklus yang tidak kunjung berakhir.

Akan lebih tepat jika kita memandang akar masalahnya bukan pada ideologi, melainkan pada ranah material dari mana ideologi itu lahir. Jadi, geser sedikit fokusnya. Sekali lagi, bukan pada kesalahan pemahamannya, melainkan akar sosial mengapa pemahaman itu bisa berkembang. Akar sosial itu yang kita bidik.

Pergeseran cara pandang ini yang pernah coba dieksperimentasikan dengan apa yang pernah kami (saya dan sejumlah rekan aktivis Islam) sebut sebagai “Islam Progresif” (gagasan ini kemudian dielaborasi secara kolektif dalam situs “Islam bergerak.com”, “IndoProgress”, dan situs-situs jejaring).

Islam Progresif adalah corak kebersamaan yang hendak menjadi “problem solver” pada akar sosialnya, menggeser dari perhatian eksklusif pada ideologi. Ia hendak menggeser keberislaman kita kepada praksis yang menjawab akar sosial permasalahan umat Islam era “milenial” ini. Kita bisa menyebut akar sosial itu, misalnya, kapitalisme, seksisme, rasisme, dan lain-lain.

Saya tidak akan mengulang argumen mengenai Islam Progresif. Intinya, kurang lebih begitu: suatu keberislaman yang “berbeda”, yang lain, dari pada yang sehari-hari membisingi telinga kita. Suatu keberislaman yang bekerja dalam kesunyian maupun keramaian untuk orang-orang yang dizalimi, dieksploitasi. Suatu keberislaman yang hadir menghibur dan membesarkan hati orang-orang yang papa dan disakiti oleh hukum besi dunia. Suatu keberislaman yang memiliki perhatian intelektual dan moral pada kepentingan kaum tertindas dan kehendak membongkar tatanan yang tidak adil.

PW NU SULSEL

Agenda Islam Progresif ini masih berjalan. Namun, ada beberapa catatan. Dalam praktiknya, agenda Islam Progresif ini juga cenderung bekerja dalam “hukum” fragmentasi. Karena inspirasinya (salah satunya) dari teori historio-materialis Marx, Islam progresif menyarankan adanya “perjuangan kelas” (class struggle) yang bekerja dengan logika fragmentasi antara dua kelas yang bertentangan (kontradiksi kelas).

Di titik ini ada kerawanan. Karena meski tujuannya adalah pembebasan universal, pembebasan segenap umat manusia, suatu tujuan yang sangat luhur, Islam Progresif dan Marxisme – dalam praktik keduanya – sulit sekali terungkap dalam artikulasi dan ekspresi yang bisa diterima secara universal, alias ijmak, oleh publik.

Di lingkungan umat Islam, istilah-istilah Marxian masih dicurigai. Kategori “kelas” juga masih terasa asing bagi kesadaran umat islam. Ini baru satu contoh dari problematika di lapangan. Sebagai ganti dari “kelas” atau perluasan dari konsep kelas, Islam Progresif menawarkan istilah “al-mustadl’afin” yang lebih generik: mencakup semua kalangan yang tertindas, termasuk karena identitasnya, bukan semata-mata karena relasi ekonominya.

Bersambung …

Muhammad Al-Fayyadl, Aktivis Front Nahdlyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) & Pengasuh Ponpes Nurul Jadid Probolinggo

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here