Isyhadu Bi Anna Nahdliyyin

0
583
M. Fadlan L. Nasurung (Pengurus LAKPESDAM PWNU Sulsel)

Kutipan di judul tulisan ini saya baca beberapa tahun silam dalam tulisan KH. Masdar Farid Mas’udi (cendekiawan NU terkemuka). Kutipan itu adalah judul sebuah tulisan di dalam buku “Menyongsong Satu Abad NU 2026”. Kalau tidak salah, buku itu dirilis jelang muktamar NU di Makassar tahun 2010 yang lalu. Saya mendapati buku itu di sela tumpukan majalah Risalah NU dan kertas-kertas makalah milik bapak, sepulangnya dari Muktamar NU di Makassar. Namun sayang, kini buku itu telah raib entah ke tangan siapa.

Bagi saya, buku adalah oleh-oleh paling berharga dari bapak seusai mengikuti kegiatan NU, khususnya perhelatan akbar Muktamar yang dilaksanakan lima tahun sekali. Majalah Risalah biasanya dibagikan secara cuma-cuma kepada para muktamirin (peserta muktamar), di ajang suksesi kepengurusan NU tingkat pusat itu. Sewaktu masih duduk di bangku Tsanawiyah (SMP), majalah Risalah NU adalah salah satu referensi bacaan paling saya sukai, setelah majalah Hidayatullah. Dari ke dua majalah – asuhan dua organisasi berbeda – itulah saya mula-mula belajar membaca dan masuk ke dalam ruang diskursus keislaman.

Dalam buku menyongsong satu abad NU, Kiai Masdar yang dikenal dengan pemikiran progresifnya, menekankan arti penting kesadaran ber-NU. Bukan hanya numpang identitas, namun keinsyafan untuk berkontribusi bagi jamaah (komunitas) dan jam’iyyah (organisasi) NU. Kiai Masdar menguraikan secara ringkas tentang siapa nahdliyyin, bagaimana karakteristiknya (manhajul fikr wal harakah), apa modalitasnya, dan tantangan apa saja yang sedang dan akan dihadapinya. 

Sebagai organisasi keagamaan-kemasyarakatan (jam’iyyah diniyah wal ijtima’iyyah) yang mendaku diri sebagai yang terbesar di dunia. NU memiliki tanggung jawab moril yang tidak mudah, dengan basis jamaah yang umumnya terkonsentrasi di desa-desa. NU mengemban tugas mewujudkan cita-cita khaira ummah (umat berkualitas/unggul) dalam berbagai bidang, demi izzul islam wal muslimin (kejayaan Islam dan kaum muslimin) sebagaimana yang tertuang dalam khittah nahdliyyah.

Tanggung jawab dan tugas seberat itu, tentu membutuhkan sumber daya manusia yang memadai. Baik dalam ranah sosial-budaya, ekonomi, politik, dan terutama di bidang pendidikan (pesantren dan perguruan tinggi NU) sebagai soko gurunya. Semua itu, demi menjaga warisan dan melanjutkan perjuangan para muassis (pendiri) NU dan agar dapat membawa kapal besar NU berlayar menghadapi derasnya arus gelombang perubahan zaman. 

Dalam konteks Sulawesi-selatan, tantangan NU memiliki kompleksitasnya tersendiri yang berbeda dengan pulau Jawa dan wilayah lainnya di Indonesia. Olehnya, ikhtiar untuk terus membaca NU sebagai kader (insider), sambil membuka diri terhadap kritik dan masukan dari orang luar NU (outsider), harus terus diaktifasi. Hal tersebut sangat penting dan bisa jadi jarang disadari oleh orang NU sendiri, padahal dengan cara itulah NU dapat terus berdinamika, diiringi upaya berkelanjutan melakukan pembaharuan dalam pemikiran dan gerakannya. Tentu, dengan berpijak di atas orbit historitas dan tradisinya.

LAKPESDAM NU adalah lembaga yang dibentuk untuk mendinamisir NU dari dalam. Ia semacam lembaga “think-tank” yang dibentuk di era kepimimpinan Gus Dur sebagai “mesin” intelektual bagi roda organisasi NU. Merawat tradisi intelektualisme pesantren, melakukan advokasi kebijakan pemerintah, dan menggerakkan program-program penguatan kapasitas SDM NU, menjadi domain utama LAKPESDAM yang mesti digiatkan. Dari tiga domain itu, penguatan SDM adalah kunci. Ia prasyarat mutlak yang tak bisa ditawar, jika ingin kader-kader nahdliyyin berada di mana-mana dan tidak ke mana-mana. PW LAKPESDAM NU Sulsel, sedang bergerak di garis ikhtiar itu.

NU harus digerakkan dengan penuh kesadaran dengan cita-cita perubahan yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh. Ber-NU adalah bersaksi dengan sepenuh hati dan pikiran untuk mengabdi kepada jamaah dan jam’iyyah, di bawah garis komando para Kiai di level syuriah dan tanfidziyah. Ber-NU sekaligus adalah proses menjadi Indonesia. Kader-kader NU harus berperan aktif mengisi konsepsi tentang keindonesiaan itu. Karena Islam dan Indonesia adalah NU, ruh dan jasad dalam satu tubuh.

Akhirnya, bersaksilah bahwa kita adalah nahdliyyin, sertakan dalam zikir, pikir, dan amal shaleh.

M. Fadlan L. Nasurung, Pengurus LAKPESDAM PWNU Sulawesi Selatan.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here