Kapan Kawanku Beribadah dengan Damai?

0
260
Ilustrasi (Pinterest)

Bagi umat beragama, ibadah merupakan ekspresi untuk menyembah Tuhannya. Ibadah adalah ritual untuk menundukan diri di hadapan-Nya, sekaligus menyatakan diri kita amat lemah hingga membutuhkan kekuatan dari kebesaran-Nya.

Tak hanya bentuk kerendahan diri, ibadah juga cara mengekspresikan kerinduan pada sang pencipta. Dengan ibadah, transaksi diucapkan untuk meretas rasa rindu yang tak terucap. Umat Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Hindu, Budha hingga Yahudi pun melakukannya. Mereka beramai-ramai menjalankan laku spiritualitas, apa lagi menjelang hari besar agama-agama.

Di hari itu, bukan saja hanya Islam dengan Idul Fitri-nya, Kristen dengan Natal-nya, Budha dengan Waisak-nya, Hindu dengan hari Nyepi-nya, dan begitupun yang lainnya. Di hari besar agama-agama, rasa senang dan gembira meniadakan rasa sedih dan letih duniawi. Untuk orang-orang kaya dan miskin, semua sama dan setara. Sebab di hari itu, tak ada yang berharga dari segalanya kecuali merayakannya.

Namun, bagi sebahagian kaum minoritas beragama, kadang kala, ibadah menjadi sesuatu yang mahal di negara ini. Mereka kerap dihantui rasa “ketakutan”. Ber-Tuhan bukan lagi berlindung di atas kuasa Tuhannya, tapi sedang beruji nyali seberapa kuat menanggung ancaman demi ancaman dari beberapa kelompok agama mayoritas.

Sebut saja yang beragama Kristen. Tiap hari perayaan hari besar Natal, peristiwa buruk tidak hanya datang sekali saja. Dari pelarangan, persekusi, hingga bom di hari raya pernah dialami. Kemarin lalu, di Darmasraya, Sumatra Barat, umat nasrani “kehilangan” momen natal. Pelarangan itu terus menerus terjadi. Bukan sesekali dua kali, ketakutan itu tiap tahun berulang dan seakan bereproduksi di tempat dan ruang yang berbeda.

Beragama menjadi takut meski agama mengajarkan keberanian. Ber-Tuhan menjadi khawatir meski Tuhan maha segalanya.

Kepada siapa lagi mengadu, jika menjadi Atheis justru hanya meniadakan Tuhan maha pelindung. Sementara manusia butuh perlindungan jiwa, karna manusia rentan sakit akibat kefanaan dunia yang tidak menampakan sisi surgawi.

Bukan karna Indonesia-nya, tapi beragama minoritas sekaligus berwarga di Indonesia yang mungkin dianggap salah. Apakah karena kesalahan minoritas memilih menjadi Kristen ataukah karna tidak mengikuti agama mayoritas?

Jika Tuhan bisa di ganti dengan sosok yang lain, maka dimana ke-Esa-annya yang tiada duanya itu?

Rene Descartes mengatakan, “Aku berfikir maka aku ada”. Maka saya yang beragama Islam akan akan berkata “Aku beragama maka aku ber-Tuhan, dan aku percaya Tuhanku dalam agamaku”, begitupun yang lain, akan demikian. Termasuk Kristen dan lainnya.

Untung saja masih ada Ansor dan Banser, anak-anak muda nahdlyin yang sedikit mengurangi ketidak-nyamanan umat Kristen yang berhari raya Natal.

PW NU SULSEL

Bukan mengagungkan, tapi merekalah yang berwarga sipil menjadi penlindung di hari Natal itu. Ia, bukan karna Banser-nya, mungkin saja Tuhan melihat kekhawatiran ini hingga kuasa-Nya menggerakan mereka ataukah kasih Tuhan ada padanya, hingga mewujud dalam mencintai umat Kristen yang sedang merayakan natal.

Sabhadin, Staf Divisi Wacana, Budaya, & Pluralisme LAPAR Sulsel.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here