Gus Dur dan Banser: Menjaga Gereja, Merawat Indonesia

0
426

Seperti biasa, menjelang peringatan Natal, negara ini – terutama di media sosial – kembali gaduh gara-gara perdebatan mengenai boleh tidaknya mengucapkan selamat natal. Perdebatannya seputar halal dan haram, yang masing-masing pihak memiliki dasar tersendiri, baik dari Al-Quran maupun Hadits.

Nahdlatul Ulama, sebagai salah satu Ormas terbesar di Indonesia merupakan bagian dari yang membolehkan umat muslim mengucapkan selamat natal sebagai bentuk penghormatan dan empati kepada umat nasrani, demi menjaga nilai kemanusiaan dan kebersamaan antar umat beragama di Indonesia. Bahkan, lewat Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Nahdlatul Ulama turun langsung menjaga peringatan Hari Natal di berbagai gereja, dari Sabang sampai Marauke.

Sejak era Gus Dur sebagai ketua PBNU, Banser mulai aktif menjaga kedamaian di malam natal. Dalam sebuah cerita, Gus Dur pernah menginstruksikan Banser untuk menjaga rumah ibadah yang ada di Indonesia, terkhususnya rumah ibadah bagi kelompok minoritas, seperti risten, hindu, budha, dan konghucu. Sebab di Indonesia sering terjadi aksi-aksi teror di rumah ibadah.

Semisalkan pada tahun 1996 pernah terjadi peristiwa kerusuhan massa yang berakhir dengan pembakaran gereja di Situbondo, Jawa Timur. Hal inilah yang membuat Gus Dur mengarahkan banser untuk mengamankan gereja di Situbondo, ini semata-mata karna Gus Dur merasa bertanggungjawab atas perusakan gereja di Situbondo, di tapal kuda Jawa Timur yang notabene adalah “daerah NU”.

Selain itu, sebelum Natal 1996, Gus Dur sempat ditanyai oleh seorang anggota Ansor di Jawa Timur soal hukumnya seorang muslim menjaga gereja. Gus Dur langsung menjawab tanpa berfikir panjang, “setiap orang yang meniatkan menjaga Indonesia, berarti dia harus siap menjaga semua hal yang ada di Indonesia, termasuk rumah ibadah agama lain”. Bagi Gus Dur, gereja itu ada di Indonesia, tanah air kita. Tidak boleh ada yang mengganggu tempat ibadah agama apa pun di bumi Indonesia.

Spirit merawat Indonesia inilah yang membuat Banser sering menjaga gereja dan rumah ibadah lainya. Semua yang di lakukan Banser bukan lahir dari ruang-ruang kosong, ada realitas yang mengharuskan untuk banser ikut serta menjaga rumah ibadah. Semua yang dilakukan Banser semata-mata untuk memberikan kenyamanan pada setiap umat beragama untuk beribadah kepada Tuhannya. Sebab semua agama berhak menjalankan perintah agamanya dengan bebas.

Masih ingatkah kita tentang peristiwa yang terjadi pada malam Natal persisnya pada 24 Desember tahun 2000? Seorang anggota Banser bernama Riyanto, tewas karena melindungi gereja Eben Haezer, Mojokerto. Saat itu gereja dihebohkan oleh bingkisan, yang setelah dibuka ada kabel-kabel. Riyanto berinisiatif menjauhkan bom dari gereja yang dijaganya.

Ia pun berlari sembari membawa bom tersebut. Nahas, bom meledak tak lama setelah dibuang ke selokan, dan tubuh Riyanto pun terlempar hingga ke atas gereja. Riyanto tewas seketika. Dia menjadi martir yang mengorbankan tubuhnya sendiri untuk menjaga kebhinekaan. Aksi heroik yang di akukan Riyanto mendapatkan perhatian dunia, dan Gus Dur pernah mengatakan bahwa Riyanto telah menujukan sikap kemanusiannya yang begitu tinggi. Ia layak disebutkan sebagai pahlawan kemanusiaan.

Setelah Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia, dalam statusnya sebagai pemimpin tertinggi Indonesia, ia melakukan banyak sekali gebrakan untuk memulihkan kebhinekaan Indonesia. Dua di antaranya adalah mengakui Konghucu sebagai agama yang diakui secara resmi oleh pemerintah dan menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional. Beberapa bulan setelah dilantik menjadi presiden, Gus Dur datang sendiri pada malam perayaan Natal tingkat nasional yang digelar di Balai Sidang Senayan pada Senin, 27 Desember 1999. Dalam acara Natal yang disiarkan secara langsung oleh seluruh televisi itu, Gus Dur menyampaikan pidato di hadapan 10 ribu peserta.

Gus Dur membuka pidatonya dengan ucapan “Assalamualaikum”. Gus Dur sengaja tidak mengucapkan selamat malam, karena kata ‘Assalamualaikum’ berarti kedamaian atas kalian. Tanpa keraguan, Gus Dur mengatakan bahwa ia merasa senang dan berbahagia bisa hadir pada perayaan Natal tersebut.

Kini gagasan besar Gus Dur dilanjutkan oleh generasi muda nahdiyin. Banser NU akan tetap setia melanjutkan semangat para founding father untuk tetap mempertahankan keutuhan bangsa dan negara. Misi banser ialah dapat menjaga keutuhan negara. Olehnya itu, setiap elemen bangsa harus mendapatkan perlakuan yang sama, sekalipun ia berbeda secara suku, dan juga agama. Perbedaan tidak semestinya menjadi permusuhan melainkan harus dapat menjadi kekuatan suatu bangsa untuk saling menghormati sama lain.

PW NU SULSEL

Banser siap melawan intoleransi, radikalisme, dan juga berbagai macam ideologi dunia yang mencoba merongrong keutuhan bangsa. Sebagai generasi bangsa kita harus menjadi bangsa yang cerdas, yang tidak termakan dengan agitasi-agitasi dan juga provokatif yang dapat merusak ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniah.

Muh Asri Ululalbab, Wakil Ketua PC Ansor Halmahera Barat & Mantan Presidium FORMAKAR

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here