Menengok Pribumisasi Islam di Mandar

0
621
Ilustrasi oleh Muh. Irham

Setiap bangsa memiliki kearifan lokal (local wisdom) warisan leluhur yang khas. Tak terkecuali di Mandar, suku bangsa yang kaya akan khazanah lokalitas. Altar lokalitas Mandar banyak dipengaruhi oleh perjumpaan antara kebudayaan Mandar dengan nilai-nilai ajaran Islam bercorak sufistik.

Warisan leluhur berupa falsafah, tata krama, bahasa, dialek, artefak, rumah adat, dan lain sebagainya, bersua dengan nilai-nilai ajaran Islam dari Baginda Rasulullah SAW, yang dibawa para Tosalama’ (orang-orang shaleh yang selamat), para tuan penyebar Islam kali pertama di Mandar.

Yang menarik, perjumpaaan tersebut tak pernah mengalami ketegangan. Para penganjur Islam diterima dengan baik oleh masyarakat, yang waktu itu masih menganut agama warisan nenek moyang.

Penduduk lokal yang bermukim di wilayah pegunungan, maupun di wilayah pesisir, secara nilai memiliki perilaku kolektif dalam mempertemukan agama dan budaya (tradisi), dengan corak dan gayanya masing-masing.

Sebagai awam, sependek pengetahuan penulis, belum ada referensi yang menarasikan ketegangan saat agama Islam masuk pertama kali di tanah Mandar. Semua berlangsung damai dan tentram, diterima dengan baik oleh masyarakat.

Salah satu kearifan lokal orang Mandar yang  membumi dan menjadi laku kolektif adalah sifat anauwang pa’mai’. Sebuah sifat welas asih terhadap sesama manusia dan alam lingkungan.

Anauwang pa’mai adalah kondisi hati yang jernih, sebening Uwai Mandar, yang meliuk dari Pitu Ulunna Salu ke Pitu Babana Binanga, yang senantiasa mendahulukan kepentingan orang lain, ketimbang kepentingan dirinya sendiri. 

Simbol kearifan itu bisa kita lihat pada  rumah adat orang Mandar yang terdiri dua tangga. Satu di depan dan satu di belakang. Ada fungsi tertentu dengan keberadaan kedua tangga tersebut.

Rumah-rumah ini bisa dikatakan hampir sama modelnya, baik itu warga yang tinggal di pegunungan maupun yang dipesisir, berbentuk panggung dan dua tanggga di depan dan belakang. Biasanya, hanya penyebutan nama yang berbeda-beda, ada yang menyebutnya bassuli, sapo, banua, dan boyang. Di kampung kelahiran penulis sendiri,  di kampung Paropo, Desa Mombi, kami menyebut rumah dengan istilah: boyang.

Sayyid Ahmad Fadl Al Mahdaly, salah satu ulama terkemuka di Sulawesi Barat, pernah berucap bahwa secara filosofi kedua tangga tersebut menggambarkan sikap orang Mandar yang terbuka, ramah, dan dermawan.

Tangga yang berada di pintu depan, merupakan simbol kelapangan hati sang pemilik rumah. Pintu rumah tak pernah tertutup, bahkan tak ada pagar disamping kiri-kanan rumah. 

PW NU SULSEL

Di Mandar, pada pagi dan sore hari, terutama di kampung-kampung, pintu rumah sangat jarang tertutup. Hal itu karena tingginya rasa toleransi dan sikap saling percaya antara satu dengan yang lain.

Selain itu, tangga di pintu belakang (dekat dapur) memiliki banyak fungsi, selain untuk keperluan yang berkaitan dengan dapur, tangga tersebut adalah cara bagi pemilik rumah menjaga siri’ atau harga diri bagi tamu yang datang berkunjung.

Semiskin-semiskinnya orang Mandar, akan sangat merasa malu apabila tak menjamu tamu yang datang di rumahnya, meski itu hanya secangkir kopi pekat hitam dan sepotong loka yanno (pisang goreng).

Jika pernah suatu ketika persediaan kopi dan gula sedang habis, maka tangga di bagian belakang menjadi jalan alternatif ke warung terdekat untuk membeli. Hal itu kerapkali dilakukan tanpa sepengetahuan tamu, yang dipersilahkan naik lewat pintu depan.

Dalam kondisi persediaan dapur demikian, sang pemilik rumah acapkali  berhutang ke pemilik warung yang tak jauh dari rumah untuk sementara waktu, asalkan tamu tadi bisa dijamu dan dilayani dengan baik pada detik itu juga.

Kemudian, selain simbol kedua tangga tersebut, kearifan lokal lain yang menjadi laku kolektif warga, terutama yang mukim di kampung-kampung pinggiran Uwai Mandar (sungai Mandar) adalah larangan makan, minum, dan buang air kecil (kencing) berdiri. 

Sejak dahulu kala, sebelum Islam datang menjadi keyakinan yang dianut oleh masyarakat, umumnya warga memiliki beberapa pamali (pantangan) yang turun temurun dipesankan oleh leluhur untuk dipertahankan.

Sebagai contoh, bahwa apabila sedang makan, minum dan membuang air seni, hendaknya jangan dilakukan dengan cara berdiri. Larangan itu sebagai pengingat, agar kita sebagai manusia tidak terlihat seperti binatang oleh todzioroanna (penunggu sungai berjenis buaya). 

Jika dalam pandangan todzioroanna, seseorang itu terlihat seperti binatang – bukan lagi manusia – maka bahaya sedang menimpa orang tersebut beserta keluarganya. 

Pernah terjadi di tahun 90-an, ada warga yang tiba-tiba menghilang dan jenazahnya di temukan di tebing pinggiran sungai. Kata orang Mandar, naruai paccalla todzioroanna (kena amarah penunggu sungai), karena yang bersangkutan melanggar pantangan yang telah turun temurun menjadi kepercayaan masyarakat.

Para ulama tasawuf yang datang silih berganti menyiarkan Islam, mulai dari era para Tuan (Tuan di Tanase atau Tuan dari Tanah Aceh, Tuan di Bulo-bulo, Tuan Langngarang, dll) hingga era Tomatindo di Sambayanna (beliau yang wafat sementara shalat, salah satu penyebar Islam di Alu), AGH. Muhammad Thahir (Imam Lapeo), AGH. Muhammad Yahya (Annangguru Pocci’), AGH. Muhammad Shaleh (Annangguru Shaleh), dan Prof. AGH. Sahabuddin, sependek yang penulis tahu, tak pernah sekalipun melarang pamali warga yang demikian itu.

Pun, dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW juga selalu berpesan, apabila makan, minum dan membuang air kecil, hendaknya duduk, tidak dilakukan dengan cara berdiri. 

Larangan tersebut seperti yang tercantum dalam hadits riwayat Sahabat Jabir bin Abdillah:

: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَبُولَ الرَّجُلُ قَائِمًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kencing dengan berdiri,” (HR Baihaqi).

Sedangkan hadist yang menjelaskan agar hendaknya ketika makan dan minum  tidak dilakukan dengan berdiri yaitu : 

أبي سعيد أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم نهى عن الشرب قائما رواه أحمد ومسلم

Artinya, “Dari Abu Said bahwa Nabi SAW melarang minum sambil berdiri,” (HR Ahmad dan Muslim).

Masyarakat Mandar yang mendiami wilayah pesisir (pantai) juga memiliki kearifan lokal tersendiri dan khas. Bagi nelayan: laut, ombak, dan pantai adalah sumber penghidupan  sekaligus jalan spritual untuk bermesraan dengan Tuhan Sang Pencipta.

Sejumlah nelayan di pesisir Pambusuang, kampung kelahiran Pendekar hukum Indonesia, almarhum Baharuddin Lopa, tatkala nelayan hendak berangkat ke laut, dan mendapati anak kecilnya menangis, justru menjadi keyakinan tersendiri bahwa Tuhan akan memberikan hasil yang melimpah di laut.

Tangis anaknya tersebut menjadi jalan bagi si nelayan untuk merayu Tuhan dengan bahasa Mandar agar rezeki dilancarkan dalam menangkap ikan.

“Oo todzi’ Puang, peitao mai ui matanna ana’u, batuammu,  tamba’i todzi’, andang do todzi’ melo’ mappande, O Puang Dzat kamenang Malawo, (Ya Rabb, saksikan tangis anakku, hamba-Mu, sedang lapar, apakah Engkau tak ingin memberinya makan, Wahai Tuhan Dzat Yang Maha Pemurah,” 

Di Mandar, agama dan budaya tidak pada posisi yang antagonistik, keduanya bersenyawa, berada dalam satu tarikan nafas.

Berislam bagi orang Mandar tidak berada pada ruang hampa yang abstrak, melainkan keIslaman yang tak lepas dari sejarah, budaya dan kondisi ruang hidup melingkupinya.

Dalam istilah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Pribumisasi Islam. Sebuah cara berislam dengan membumikan Islam rahmatan lil alamin, yang menyapa segala konteks, dimensi ruang dan waktu. 

Wallahu a’lam bish sawab

Muhammad Arif, Wakil Ketua GP Ansor Polman

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here